NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
PREDIKSI ALGA


__ADS_3

"Bagaimana? Kau sudah melihat mobilnya ...?" usik Alga tak bisa menyembunyikan lagi rasa ingin tahunya, saat menyadari Tara yang tak kunjung membuka suara.


"Hhhmm ..."


"Yang aku lihat, sejak keluar dari area parkiran belakang Penginapan Molly adalah, kedua mobil itu muncul nyaris bersamaan dan terus membuntuti mobil ini hingga sekarang ..."


Tara menolehkan kepalanya kembali menatap Alga. "Intinya kau yakin mereka semua sedang membuntuti kita?"


Alga mengangguk mengiyakan.


"Seberapa yakin?"


Kali ini Alga tak langsung menjawabnya. Wanita itu berdiam diri untuk beberapa saat terlebih dahulu, seolah sedang memikirkan sesuatu sebelum akhirnya berucap dengan intonasi datar.


"Seratus persen yakin untuk mobil pertama, dan sembilan puluh sembilan koma sembilan persen yakin untuk mobil kedua ..."


Tara kembali terhenyak mendengar prediksi tersebut, aura malaikat maut rasanya kembali menari-nari di pelupuk mata.


'Si al ...'


Tara mengumpat gemas dalam hati, menyadari betapa susah dirinya dan Alga untuk lepas dari situasi genting dan mencekam, dan entah kenapa sungguh sulit bagi mereka berdua untuk bebas menarik napas dengan lega, terhindar dari setiap pengejaran dan perburuan para orang jahat!


Kapan semua ini berakhir, Tuhan ...?'


Lagi-lagi Tara membathin gundah, mengingat bahaya yang kembali membayangi langkah mereka berdua, yang sudah didepan mata.


Bukan apa-apa, karena sejauh ini Tara merasa bahwa dirinya telah berada pada fase dimana ia bisa seratus persen mempercayai ketajaman feeling Alga seutuhnya.


Bukan tanpa alasan Tara memutuskan semua itu, melainkan karena Tara tahu persis bahwa sejauh ini semua ancaman yang di prediksi oleh Alga, wanita yang dijuluki Nona Mafia itu selalu saja akurat, tidak pernah sedikit pun meleset.


"Lalu apa rencanamu sekarang ...?" pungkas Tara pada akhirnya, pasrah saat dirinya hanya bisa bersandar lesu sambil mengawasi sosok Alga lekat-lekat.


Hembusan napas pasrah Alga terdengar. "Dalam situasi terjepit seperti saat ini, selain melayani keinginan mereka apapun itu, aku tidak punya pilihan lain lagi ..."


Glek.

__ADS_1


Tara menelan ludahnya, semakin kelu.


"Kenapa kau diam saja? Kau takut yah ...?" usik Alga, kali ini nada kalimatnya terdengar semakin datar.


"Aku sedang memikirkan hal yang lain, bukan hanya sekadar rasa takut atau tidak takut ..."


"Jadi kali ini kau ingin bilang bahwa kau benar-benar tidak takut?"


Tara melengos. "Kalau aku katakan 'tidak', memangnya kau akan percaya ...?" jawab Tara keki, menerima setiap selorohan Alga yang terkesan memandang dirinya sebelah mata.


'Memangnya kenapa kalau aku merasa takut? Bukankah semua itu perasaan yang manusiawi?'


'Disaat kau tahu bahwa dirimu kembali menjadi target seseorang yang ingin menghabisi nyawamu ... apakah kau tidak boleh merasa takut ...?!'


Alga menyeringai acuh mendapati jawaban Tara yang terlontar dengan raut wajah masam ke arahnya.


"Jadi ... sekarang kau mulai menyesal karena telah terlibat denganku sejauh ini ...?"


"Kalau aku katakan 'tidak'. Apakah kau juga akan percaya ...?!" sentak Tara semakin jengkel, lagi-lagi dengan sikap Alga yang terkesan tidak bisa sepenuhnya menaruh setitik kepercayaan untuk dirinya.


Tara membathin, dengan pikiran yang dipenuhi rasa dongkol


Alga duduk diam, dengan sepasang matanya mengawasi jalanan yang mulai berkurang kepadatannya.


'Maaf ...'


Sepenggal ucapan itu hanya bergema dalam relung hati terdalam Alga, tak mampu terucap, karena yang terjadi adalah Alga hanya membisu di belakang kemudi, seolah menyadari jika ucapannya tadi telah membuat Tara kecewa, juga down.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apakah di batas negara nanti akan ada petugas yang akan memeriksa?"


“Tentu saja. Hal seperti itu sudah merupakan prosedur pemeriksaan standar yang berlaku bagi setiap pelintas batas di negara manapun."


Tara mengangkat kedua bahunya mendengar penuturan Alga.

__ADS_1


"Sebelum ini, kau kan sudah sering mengunjungi negara lain ...?" kilah Alga lagi dengan alis mengkerut menghadapi kebingungan Tara.


"Kau benar, selama ini aku memang cukup sering mengunjungi beberapa negara, tapi semuanya lewat jalur udara. Ini adalah pengalaman pertama bagiku melintas batas negara lewat jalur darat, makanya aku merasa sedikit aneh ..."


"Sesungguhnya tidak ada perbedaan yang menyolok. Sama seperti kau naik pesawat maka kau juga akan diperiksa petugas dari tempat asal kau berada, begitu pun ditempat tujuanmu kelak. Prosedurnya juga sama, yakni meliputi dokumen persyaratan berupa kartu identitas yang jelas, karena itulah mereka akan memeriksa KTP dan Paspor yang kau punya."


Tara manggut-manggut mendengar penjelasan panjang lebar dari Alga. Ia sengaja tidak menyela Alga yang terlihat belum selesai seluruh ucapannya.


"Oh iya, yang membedakan adalah mereka juga melakukan pemeriksaan atas surat dan kondisi kendaraan yang kau tumpangi. Jika semua surat-surat kendaraannya beres dan lengkap, kita wajib membayar asuransi, lalu mobil akan langsung diperbolehkan untuk melintas ..."


"Ternyata cukup mudah. Tapi Alga, apa kau yakin mereka tidak akan menaruh curiga sedikitpun dengan dokumen yang disiapkan oleh Kim ...?"


"Kim bisa di andalkan untuk hal-hal sepele seperti itu, kau tidak perlu meragukannya."


Kepala Tara manggut-manggut, namun air mukanya mengeras begitu ia kembali menoleh mengawasi kaca spion samping, dan mendapati pemandangan bahwa mobil yang semula berada tepat di belakang mereka telah menyalakan lampu sein ke kiri, dimana terdapat pom bensin terakhir sebelum mobil mereka benar-benar mulai memasuki area batas negara.


Kondisi tersebut membuat mobil hitam pertama telah berada tepat di belakang mobil mereka, sementara mobil yang kedua kini hanya berjarak satu mobil di belakang.


"Alga, lihat ... kini mereka benar-benar telah berada di belakang kita ..."


"Di kanan jalan sekitar dua puluh meter di depan, ada pemukiman penduduk terakhir yang akan kita lewati. Aku yakin, setelah ini mobil kedua dibelakang mobil kita ini juga akan keluar jalur dan berhenti di pemukiman tersebut."


Usai berucap demikian, Alga yang kemudian menoleh sejenak kearah Tara membuat keduanya bersirobok pandang.


"Sebaiknya kita mulai bersiap ..."


Tara merasa degup jantungnya semakin terpacu mendengar ultimatum tersebut, sehingga ia memutuskan untuk mencabut revolver milik Alga yang semula terselip di pinggang, memilih menggenggamnya erat di tangan kanan.


Benar saja, bak sebuah ramalan yang terjadi dengan begitu cepat, apa yang diucapkan Alga barusan benar-benar sesuai.


Mobil kedua yang dimaksud kini telah menyalakan lampu sein kanan, menandakan bahwa mobil tersebut akan berbelok ke arah kanan, memasuki area pemukiman penduduk terakhir sebelum mobil mereka benar-benar memasuki area batas negara ... dengan tiga mobil berwarna hitam yang saling beriringan ... melintasi jalanan yang lenggang ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2