NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
NERAKA


__ADS_3

Juan Allesandro tertawa puas, usai memastikan bagaimana mobil Gery dan Arnold yang keluar dari badan jalan telah terguling beberapa kali hingga akhirnya masuk kedalam jurang.


Suara ledakan dahsyat terdengar bergema, seolah semakin meyakinkan bahwa siapapun yang berada didalam mobil tersebut, mustahil bisa terselamatkan nyawanya!


Kini target Juan Allesandro hanya terfokus pada target utama. Siapa lagi kalo bukan Nona Mafia ...?


"Drew, salip mobil mereka!!"


Titah Juan Allesandro kepada satu-satunya mobil yang ada didepan mobil mereka.


"Baiklah, Tuan." Drew yang sedang menguasai kemudi langsung menanggapi permintaan Juan Allesandro dengan tindakan gesit, yakni menginjak pedal gas semakin dalam.


Mobil yang dikendarai Drew melaju bak kesetanan, menembus suasana malam yang mencekam karena cuaca buruk yang melanda wilayah perbatasan.


"Semuanya bersiaplah ... kita habisi mereka!"


"Siap, Tuan!!"


Jawaban kompak terdengar dari mulut ketiga anak buah Juan Allesandro yang berada didalam mobil tersebut.


Juan Allesandro terlihat mengawasi satu persatu wajah anak buahnya yang terlihat sudah sangat siaga dengan masing-masing pistol yang tergenggam di tangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Alga, berhati-hatilah ... sepertinya mereka akan menyalip mobil kita ...!"


"Tenang saja, aku bisa mengatasinya!" jawab Alga dengan kedua tangan dan kaki yang terlihat tangkas memainkan peran dalam mengendalikan fortuner hitam yang ia kemudikan.


Deru mesin mobil yang berpacu dengan kecepatan tinggi seolah sedang berada dalam lintasan sirkuit balap.


Suara yang ditimbulkan terdengar semakin mencekam manakala bunyi guntur dan sesekali sambaran kilat dari atas langit ikut meramaikan malam.


Bugh ...!


Sebuah tumbukan tipis yang mengenai bemper belakang mobil membuat mobil yang dikemudikan Alga terguncang, untung saja gadis itu bisa kembali menguasai setir mobil yang sempat oleng itu dengan baik.


"Sh it ...!"


Alga memaki pelan.


Punggung tangan Tara yang memegang pistol refleks terangkat saat menyadari sebulir keringat dingin terlihat berkilau, menyeruak dari dahi Alga.


"Maaf ..." ucap Tara begitu sadar atas kelancangannya yang menyeka keringat dingin tersebut, meskipun Alga tidak menunjukkan reaksi penolakan atas inisiatif yang ia ambil diluar kesadarannya.


Tangan kiri Tara kini berpegang erat pada pegangan yang ada diatas kepalanya, sementara tangan kanan yang tadinya sempat berbuat lancang semakin erat menggenggam pistol.


"Kenapa kau berkeringat dingin? Apakah saat ini kau merasa takut ...?" tanya Tara hati-hati, takut disalah artikan oleh Alga sebagai sebuah cemoohan.


"Aku ... merasa sedikit gugup ..."


Tara menarik napas, matanya kembali melirik kearah spion di mana mobil hitam yang ada di belakang terlihat begitu ngotot memburu.


"Andai saja aku bisa menahan mereka sedikit lebih lama, bisa aku pastikan ini tidak akan sulit ..."


Tara menoleh kearah Alga lagi, dan ia paham betul apa maksud gadis itu lewat perkataannya barusan.


Seharusnya kehadiran sebuah mobil milik pengkhianat klan Rudolp yang tadinya berada tepat dibelakang mereka, justru membuka peluang untuk mengulur waktu atas serangan Juan Allesandro.


Sayangnya pengemudi mobil itu terlalu bodoh sehingga Juan Allesandro begitu mudah menyingkirkan mereka.


Yah ... saat ini Alga memang sedang berusaha keras untuk mengulur waktu, demi menunggu bantuan yang datangnya dari Kim dan Mike.

__ADS_1


Namun sayangnya cuaca buruk sepertinya telah menghalangi kedatangan bala bantuan yang diharapkan.


Bugghh ...!!


Tumbukan kedua kembali terjadi tepat di tikungan, sedikit lebih keras dari yang pertama sehingga membuat mobil fortuner hitam itu melaju zig-zag.


"Algaaa ... Awasss ...!!"


Tepat setelah peringatan Tara, Alga langsung membanting setir kekiri.


"Hhuffhh ... nyaris saja ..." hembusan napas keras Alga terdengar begitu ia berhasil menghindari sebuah tiang listrik yang nyaris dihantamnya.


"Syukurlah ..."


"Maaf ..."


"Tidak apa-apa, tetaplah menyetir, kau pasti bisa ..."


"Mereka datang lagi ..."


"Dalam dua puluh kilometer kedepan rute yang akan kita lalui tidak akan menemukan tikungan yang ekstrim. Kita harus membuat jarak, jadi tambahkan saja kecepatannya ...!"


"Kau yakin ...?!"


Tara mengangguk tegas. "Percayalah padaku."


"Baiklah ... akan aku coba ..." Alga memperdalam injakan kaki kirinya pada pedal gas, membuat mobil yang ia kendarai semakin melesat kesetanan menembus malam yang mencekam.


Usai berucap demikian Tara terlihat mencoba melongokkan kepalanya kearah tenggara lewat kaca depan mobil, berusaha mencari keberadaan jejak helikopter yang rencananya akan dikendalikan langsung oleh Kim.


Seharusnya mereka sudah muncul dari arah sana ... namun ternyata yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba.


"Belum ada tanda-tanda. Aku sama sekali tidak melihat kehadiran mereka ..." ucap Tara kembali menolehkan kepalanya ke arah spion, di mana mobil milik Juan Allesandro kini terlihat mulai sedikit berjarak.


"Sepertinya memang sangatlah mustahil jika Juan Allesandro datang sendirian ..."


"Kau benar. Aku yakin Juan Allesandro tidak mungkin sendirian. Melihat kapasitas mobil mereka, sekurang-kurangnya dia pasti akan membawa tiga orang anak buah bersamanya ..."


"Kalau mereka berempat, logikanya akan terjadi pertarungan dua lawan satu." imbuh Tara berasumsi.


"Apakah menurutmu kita bisa mengatasinya ...?"


Tara mencoba tertawa kecil, meskipun yang terdengar malah getir.


"Jika menyangkut tangan kosong mungkin aku masih bisa mengimbangi. Tapi jika menggunakan ini ..." Tara mengacungkan pistol kaliber yang ada ditangannya. "Entahlah ... seumur hidupku aku tidak pernah menggunakan pistol. Bahkan kalau tidak bertemu denganmu ... mungkin menyentuhnya pun aku tidak akan pernah ..."


"Padahal hanya menarik pelatuknya saja." pungkas Alga.


"Benarkah semudah itu ...?"


"Memang semudah itu. Aku yakin kau pasti bisa ..." jawab Alga yang berusaha mengucapkannya tanpa keraguan, sambil berharap dengan begitu ia mampu menambah kepercayaan diri Tara, di saat kepercayaan dirinya sendiri seolah sedang mencelos.


"Benarkah ...?"


"Hhhmm ..."


"Alga, kenapa sekarang kau begitu yakin denganku?"


Alga terdiam, mencoba memahami apa maksud pria disampingnya itu hingga menanyakan hal tersebut.


"Bukankah sejak awal ... kau ingin aku mempercayaimu ...?" ujar Alga balik bertanya.

__ADS_1


Alga tahu saat ini Tara sedang menatapnya lekat, namun dia sendiri tidak punya kesempatan meskipun hanya untuk menoleh.


Jarum speedo meter yang menunjukkan kecepatan mobil saat ini semakin bergeser kekanan, melewati angka seratus kilometer per jam, dan terus bergerak kekanan.


Rasanya Alga bahkan tidak ingin berkedip meski hanya sedetik, agar tidak kehilangan fokus, karena jika dirinya lengah maka akan berakibat fatal bagi keselamatan mereka berdua.


"Alga, kalau terjadi sesuatu yang buruk denganku ... aku ingin kau tahu bahwa aku bersungguh-sungguh menyukaimu ..."


"Berhentilah mengucapkan hal yang konyol, karena tidak akan pernah ada sesuatu yang buruk, yang akan terjadi denganmu." pungkas Alga.


"Tapi ..."


"Bukan hanya kau ... juga bukan hanya aku ... tapi kita berdua ..." kalimat tersebut terucap lirih.


Tara terkesima mendengarnya, terlebih saat mendapati air muka Alga yang tak seperti biasanya.


Gadis itu terlihat gelisah, dan itu membuat Tara merasa khawatir.


"Alga, kau ..."


"Tolong yakinkan aku, bahwa kita berdua akan melewati semua ini."


Tara menelan ludahnya kelu. "Mari kita pikirkan kemungkinan terburuknya. Bagaimana kalau yang terjadi adalah sebaliknya ..."


"Tidak ..."


"Tapi ..."


"Aku ingin bersamamu di masa depan. Kenapa kau terus memikirkan hal yang buruk ...?"


"A-appaa ...?" Tara nyaris tersedak. Rasanya seperti mimpi, dan Tara bahkan takut jika telinganya salah mendengar.


"Tara ... tolong berjanjilah. Bantulah aku sekali lagi, keluarkanlah aku dari neraka ini ... aku mohon ..."


Tara benar-benar terhenyak ditempatnya.


Tidak. Tidak ada yang salah dengan pendengarannya, karena Alga bahkan telah menanggalkan panggilan 'dokter' saat gadis itu mengucapkan nama Tara dengan mimik wajahnya yang penuh kesungguhan meskipun tanpa menoleh.


Tara tertunduk, sepasang matanya terpejam sesaat seolah ingin kembali meresapi, makna terdalam dari permohonan Alga untuknya, namun yang dirasakan Tara justru sesak yang sedikit demi sedikit menyelinap didada.


Padahal seharusnya Tara bahagia mendengar kalimat yang sangat ingin ia dengar, namun saat menyadari sekarang mereka sedang terjebak dalam situasi terburuk, mau tak mau yang ada dibilik hati Tara kini hanyalah penyesalan.


Tara sangat menyesalinya, mengapa dia harus bertemu Alga dalam keadaan seperti ini?


Seandainya mereka bertemu dalam situasi yang sedikit saja lebih baik, Tara bersumpah akan menjaga gadis itu setara nyawanya sendiri.


Tapi dalam situasi kacau-balau seperti ini ... janji seperti apa yang bisa ia tawarkan untuk Alga ...?


Tara bahkan sanksi, apakah mereka bisa keluar hidup-hidup?


Apakah dia mampu kembali menjadi dewa penolong bagi Alga?


Sementara dibelakang sana, Juan Allesandro sedang berusaha keras memburu nyawa mereka.


"Kenapa kau diam saja ...? Apakah sekarang kau menyesal telah ..."


"Tidak."


"T-tapi, kenapa kau ..."


"Alga, tolong dengarkan ini baik-baik. Aku bersumpah apapun yang terjadi ... selagi kau bersamaku ... akan kubawa kau keluar dari neraka ini ...!"

__ADS_1


...


Bersambung ...


__ADS_2