
Alga baru saja keluar dari kamar mandi manakala terdengar suara pintu yang diketuk dari luar.
'Tok ... tok ... tok ...'
Mendengar bunyi ketukan itu langkah Alga terhenti seketika, namun tidak demikian halnya dengan Tara yang langsung bangkit dari sofa.
"Ada yang datang ..." desis Alga kearah Tara, yang awalnya hanya bermalas-malasan seharian namun sekarang terlihat bersemangat mendekati pintu yang barusan diketuk.
"Iya, aku mendengarnya."
"Kau mau kemana ...?"
"Biar kulihat. Mungkin itu Jun ..."
"Jun ...?" ulang Alga dengan dahi mengerinyit, terlebih saat mendengar bagaimana familiar-nya Tara saat menyebut nama 'Jun', seolah pria itu telah mengenal orang yang ia sebutkan namanya itu dengan baik, sementara nama tersebut justru terasa asing ditelinga Alga.
"Dokter Tara, tunggu sebentar ..."
Seolah menyadari sesuatu yang janggal Alga langsung bergerak cepat, menggunakan tubuhnya sebagai penghalang langkah Tara yang terayun ringan, nyaris mencapai pintu.
"Ada apa ...? Kenapa kau menghalangiku ...?" Tara menatap Alga keheranan
"Jun? Siapa dia?" tanya Alga to the point.
"Ooohh ... kau tenang saja, dia adalah teman baru-ku ..."
"Dalam keadaan seperti ini, kau masih bisa mendapatkan seorang teman ...?" sepasang mata Alga telah melotot nyata kearah Tara.
Rasanya wajar saja jika Alga terlihat panik.
Baru beberapa hari menempati kamar penginapan yang sempit dengan tingkat aktifitas diluar kamar yang sangat minim saking jarangnya mereka keluar dari kamar ...
__ADS_1
Lalu bagaimana ceritanya Tara bisa mendapatkan seorang teman baru dalam kurun waktu yang singkat ...?
Bukankah pria itu sendiri yang kerap menasehati Alga agar selalu berhati-hati serta tidak mudah mempercayai orang lain apalagi orang baru ...?
Lalu apa ini ...?
Belum apa-apa ... justru dia yang telah punya teman baru!
"Aku berjanji akan menjelaskan semuanya kepadamu nanti, setelah aku menemui Jun sebentar." berucap demikian sembari menepi dari tubuh Alga yang bak tembok penghalang.
"Tapi, dokter Tara ..."
"Sssttt ... jangan khawatir, Jun hanya ingin mengantarkan pesananku ... tidak lebih ..."
Benar-benar tidak mengindahkan rasa keberatan Alga, pria itu nekad membuka pintu kamar tersebut dan ...
"Ini pesananmu, Tuan,"
Sesosok tubuh pria berperawakan tinggi kurus, dengan kulit kuning serta sepasang mata yang seolah hanya segaris saking sipitnya, berdiri tegak di bingkai pintu kamar, langsung menyodorkan tangan kanannya yang tengah menggenggam sesuatu berukuran kecil, berbentuk persegi.
"Terima kasih juga, Tuan, kalau kau butuh sesuatu ... jangan sungkan menghubungiku ..." pungkas pria bernama Jun, yang menyambut kebaikan hati Tara dengan wajah tak kalah berseri.
Pria itu terus menunduk penuh rasa hormat dan terima kasih, sebelum pamit dan berlalu dari bingkai pintu.
🔳🔳🔳🔳🔳
"Aku mengenal Jun dua hari yang lalu, dia merupakan pekerja baru yang dipercayakan pemilik penginapan dan diserahi tanggung jawab mengurus para tamu, selama sang pemilik tidak berada ditempat."
Begitu Jun berlalu, usai mengatupkan pintu kamar dan seperti biasa selalu menguncinya dari dalam, Tara langsung menepati janji yaitu menceritakan siapa gerangan pria yang bernama Jun kepada Alga.
Alga yang memilih mendengarkan penuturan Tara, sambil menyusun beberapa helai pakaian bersih kedalam tas punggung miliknya itu hanya menatap Tara yang berdiri tegak sambil menimang benda kotak persegi di tangannya, yang sepertinya merupakan sebungkus rokok.
__ADS_1
Sesuai rencana, satu atau dua hari ke depan Tara dan Alga memang telah bersepakat untuk meninggalkan kota Malta, bahkan meninggalkan negara ini, dengan jalan melintasi perbatasan lewat jalur darat.
Rencana mereka telah matang, hanya tinggal menunggu kedatangan seorang kurir yang bergerak atas perintah Kim.
Kurir tersebut telah di tugaskan khusus untuk mengirimkan beberapa persuratan penting termasuk didalamnya kartu identitas baru yang sudah pasti palsu untuk Tara dan Alga, yang kelak akan dipakai oleh mereka berdua sebagai persyaratan melintasi perbatasan antar negara nantinya.
"Nona Alga ..."
Panggilan lirih Tara langsung menerbangkan lamunan Alga yang mulai berkelana tak tentu rimbanya.
"Kau melamun yah ...?"
"Tidak ..." tepis Alga cepat.
Tara mengulum senyum. "Kau masih mencurigai kehadiran Jun, rupanya ..." tebak Tara lagi, mengingat betapa sukarnya wanita keras kepala dihadapannya saat ini untuk mempercayai sesuatu.
"Bukan begitu, dokter Tara, aku hanya terkejut karena aku baru mengetahuinya, jika selama dua hari terakhir, pemilik penginapan ini sudah tidak lagi berada disini dan dia bahkan telah mempercayakan semua urusan penginapan kepada pria bernama Jun itu ... yang notabene merupakan karyawan baru. Bukankah itu sedikit aneh?"
Alga bergumam, seolah sedang bertanya pada dirinya sendiri. Ia baru mengetahui ada kisah seperti itu yang melatarbelakangi keberadaan Jun di penginapan ini.
Dua hari terakhir memang Tara-lah yang paling sering menyelinap keluar diam-diam jika mereka berdua membutuhkan sesuatu, maka pantas saja jika pria itu lebih tahu situasi dan kondisi yang terjadi diluar sana.
"Menurut Jun, saat ini sang pemilik penginapan sedang berada di kota Perlin. Dua hari yang lalu keponakan kesayangannya melahirkan seorang bayi di Rumah Sakit Yudhistira, dan sang pemilik penginapan langsung berangkat ke Perlin hari itu juga ..."
Sebuah tarikan nafas berat milik Alga kembali terdengar.
'Masih sulit dipercaya ...'
Ucap Alga dalam hati, memilih tidak lagi berusaha mendebat Tara yang terlihat begitu meyakini perihal Jun.
Alga tidak bisa membohongi kenyataan, bahwa kehadiran Jun ... bahkan sanggup mengusik ketenangan bathinnya ...
__ADS_1
...
Bersambung ...