NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
PENYAMARAN


__ADS_3

Setelah merasa sudah cukup puas mencari tahu seputar informasi tentang pria bernama Samuel Alfonso lewat berbagai media sosial, pada akhirnya Alga telah memutuskan apa yang harus ia lakukan.


"Aku akan memastikannya secara langsung terlebih dahulu ... sebelum meminta pertolongan pada Tuan Samuel Alfonso ..."


Alga bergumam seolah pada dirinya saat melihat pantulan dirinya didepan cermin untuk yang terakhir kali.


Kemeja putih lengan panjang, rok hitam selutut, tak ketinggalan sepatu pantofel hitam berhak rendah telah menghiasi sepasang kaki jenjang milik Alga.


Alga membetulkan letak kacamata photocromic transparan yang bertengger diatas hidung mancungnya. Rambutnya yang lurus dan sedikit melewati bahu terikat satu kebelakang dengan tatanan konvensional, dan Alga pun tak lupa menyapukan wajahnya dengan bedak serta lipstick seadanya.


Alga telah memastikan bahwa penampilannya saat ini sudah cukup sopan dan meyakinkan, sebelum ia menyelinap keluar dari kamarnya yang super pengap, menyetop sebuah taxi yang melintasi jalan raya didepan penginapan, dan tanpa ragu langsung menyebut Red Luxury Hotel sebagai tujuan satu-satunya.


Tak sampai dua puluh menit berselang taxi yang ditumpangi Alga telah berhenti tepat didepan sebuah hotel mewah nan megah, dengan tinggi bangunannya yang menjulang seolah ingin mencakar langit sore yang mulai menua.


Hari mulai gelap pertanda malam yang hendak menjelang, manakala langkah Alga terayun dengan tenang dan percaya diri memasuki lobby Red Luxury Hotel berbekal penampilan serta sebuah id card bertuliskan Panitia, dari sebuah acara seminar pemerintah yang sedang diselenggarakan di aula utama.


"Kim, bantu aku untuk mendapatkan akses masuk, pada acara seminar yang sedang berlangsung di Red Luxury Hotel ..."


"Baik, Nona."


Pesan singkat Alga siang tadi telah direspon Kim dengan cepat, dan benar saja, dua jam kemudian pemilik penginapan telah mengetuk pintu kamar Alga sambil memeluk sebuah kotak paket berukuran lumayan besar.


Isinya tak lain adalah sepasang seragam lengkap dengan sepatu pantofel wanita, tak ketinggalan sebuah kacamata photocromic beserta id card yang sekarang telah menggantung di leher Alga, guna menyempurnakan penyamarannya.


Seperti biasa Alga tidak perlu bersusah payah untuk mengetahui darimana Kim mendapatkan semua benda itu, karena sejauh ini, sosok Kim adalah sosok yang sangat tepat dan profesional, sehingga mampu diandalkan Alga dalam kondisi apapun.


"Hei, kamu ... tolong kesini sebentar ...!"


Alga baru saja berniat mengarahkan langkahnya ke pintu masuk aula utama yang berada di sisi kanan, ketika sebuah suara cempreng seorang wanita paruh baya singgah ditelinga Alga.


Alga menoleh dengan raut wajahnya yang tenang.


Terlihat seorang wanita yang berpakaian sama dengan dirinya sedang berjalan mendekat, dengan langkah tergopoh-gopoh.


Sebuah lencana kecil berwarna kuning di dada kiri wanita itu telah mencuri perhatian Alga, membuat Alga bisa langsung menyadari bahwa benda tersebut merupakan sebuah pertanda bahwa meskipun seragam mereka serupa, tapi wanita itu pastinya memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada posisi Alga.


'Luisa Veronica ...'


Dengan jeli Alga telah mengeja nama yang tertera di kartu id card tersebut dalam hati.


"Ada apa Nyonya Luisa ...?" ucap Alga sambil menyunggingkan senyum yang ramah.


"Bantu aku untuk membawa beberapa dokumen ini kedalam ruangan Tuan Samuel ..."

__ADS_1


Alga nyaris tersedak mendengar titah Luisa. "Apakah maksud Nyonya adalah Tuan Samuel Alfonso ...?"


Luisa terlihat melengos sejenak mendengar pertanyaan Alga.


"Lalu menurutmu siapa lagi?!"


Nada suara judes wanita itu terdengar sedikit meninggi saat menjawab pertanyaan Alga.


Alga menarik napasnya.


Pucuk dicinta ulam pun tiba.


Sungguh mati, Alga bahkan tidak menyangka akan semudah ini dirinya bertemu Tuan Samuel Alfonso.


"Ikut aku."


Tanpa banyak kata Alga mengekori langkah Luisa, yang memasuki sebuah ruangan yang letaknya tepat di sisi pintu aula, tempat sedang berlangsungnya seminar didalamnya.


"Aku akan membawa ini, dan kau yang itu ..."


Jari telunjuk Luisa mengarah penuh pada sekumpulan dokumen yang tersusun rapi diatas meja, membentuk dua tumpukan yang nyaris sama tinggi.


"Baik, Nyonya," jawab Alga patuh, seraya mengambil tumpukan dokumen yang ditunjuk Luisa sebagai bagiannya.


"Saat ini Pak Menteri sedang berada didalam ruangan Tuan Samuel, dan semua dokumen ini merupakan materi pokok seminar yang nantinya akan dibahas oleh mereka berdua secara pribadi ..."


Luisa kembali berucap begitu lift mulai bergerak keatas.


"Mereka adalah orang-orang yang sangat penting. Kau harus menjaga sikapmu dengan baik, ingat itu."


"Baik Nyonya, akan aku ingat semua nasihatmu, dan aku pasti akan menjaga sikapku." Alga menanggapinya dengan anggukan patuh.


Yang Alga ketahui hanya sebagian kecilnya saja, bahwa seminar yang sedang berlangsung saat ini adalah menitikberatkan pada usaha eksploitasi kawasan utara yang kelak akan menjadi cikal bakal dari sebuah kawasan pertambangan nikel.


Berhembus kabar bahwa kepemilikan dari kawasan tersebut sebagian besar telah menjadi aset pribadi seorang Samuel Alfonso, namun jika menilik dari kenyataan yang ada ... sepertinya isu itu benar adanya.


Buktinya sekarang, seorang menteri yang berkompeten di bidang tersebut justru rela datang menemui pria itu secara langsung.


Pintu lift terbuka tepat dilantai empat puluh delapan, yang merupakan lantai akhir dari Red Luxury Hotel.


Lagi-lagi Alga mengekori langkah Luisa yang keluar dari bilik lift tanpa kata.


Alga dan Luisa pun menyusuri lorong yang hening, saking heningnya, Alga bahkan bisa mendengar bunyi halus yang berasal dari tapak sepatu pantofel hitam mereka yang beradu dengan karpet tebal yang berada dibawah sana.

__ADS_1


Diujung lorong, nampak sebuah pintu yang dijaga ketat oleh dua orang pria berbadan kekar, dengan setelan jas hitam resmi serta earphone ditelinga.


"Permisi, Tuan, aku Luisa Veronica, sekretaris dari panitia penyelenggara kegiatan seminar. Aku telah ditugaskan untuk membawa dokumen penting menyangkut kegiatan seminar yang sedang berlangsung ..."


"Masuklah Nyonya, Pak Menteri dan Tuan Samuel telah menunggu dokumen tersebut." jawab salah satu pria yang berkepala plontos.


"Baik Tuan, terima kasih ..."


Luisa mengangguk patuh, begitupun dengan Alga yang berada dibelakangnya.


"Ikut aku." ucap pria itu lagi sambil membuka pintu tersebut, dan berjalan lebih dahulu.


Dengan beriringan Luisa dan Alga pun bergegas masuk mengikuti langkah si plontos, sementara pria yang satunya lagi tetap berdiri diluar, ditempatnya semula.


Begitu pintu terbuka, nampaklah pemandangan dua orang pria paruh baya yang sedang berbincang serius di sofa.


Sementara itu, disaat yang sama kedua pria itu pun nampak terusik dengan kehadiran tiga orang yang kini berjalan mendekat.


"Permisi Tuan, dokumen yang diperlukan sudah tiba." ucap si plontos sambil menunduk takjim.


"Letakkan saja diatas meja." ucap Samuel Alfonso dengan suara beratnya yang khas.


Tanpa kata Luisa telah menaruh tumpukan dokumen yang sejak tadi berada dalam pelukannya keatas meja, setelah itu Alga pun melakukan hal yang sama.


Saat Alga membungkuk sebuah bandul berbentuk Hieroglif*) berwarna hitam kombinasi perak nampak menggelantung dilehernya, bersamaan dengan sebuah id card panitia.


Melihat bandul tersebut, Pupil mata Samuel Alfonso sontak membesar dalam diamnya.


"Nona, bisakah kau melakukan satu hal untukku?" ucap Samuel Alfonso kearah Alga.


"Tentu saja, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" jawab Alga sopan, masih sambil mengangguk takjim, namun dihatinya ia tahu ...


Bahwa pria tua itu ...


Samuel Alfonso ...


Telah menyadari sesuatu ...


...


Bersambung ...


Ket: Hieroglif adalah aksara Mesir Kuno yang terdiri dari kombinasi elemen logograf dan alfabet.

__ADS_1


__ADS_2