
Kota Malta di siang hari ...
Cuaca kota cukup terik, sehingga berimbas pada suhu kamar pengap yang di tempati Alga saat ini.
Tubuh ramping Alga hanya terbalut tank top bertali kecil dan short pant, namun tetap saja Alga terus membolak-balikkan tubuhnya dengan gelisah diatas ranjang tua yang selalu berderit, setiap kali tubuh Alga bergerak sedikit saja.
Hembusan kipas angin kecil yang ada dilangit-langit kamar pun tidak bisa mengusir hawa sumpek yang terasa begitu mendominasi, seolah semakin menambah daftar panjang penderitaan Alga yang tak pernah berhenti.
"Huhhf ... kenapa cuaca hari ini sangat panas sih ...?" gerutu Alga dengan raut wajah dongkol.
Alga yang semakin tidak betah berbaring gelisah akhirnya memutuskan bangun dari rebahannya.
Baru saja hendak beranjak dari ranjang reyot tersebut manakala ponselnya yang tergolek di sisi bantal terdengar berbunyi nyaring.
"Kim ...?!" Alga nyaris berteriak saat menyadari sebuah nama yang tertera di layar ponselnya.
Dengan secepat kilat Alga pun langsung menekan icon warna hijau guna menerima panggilan tersebut.
"Halo, Kim?"
"Nona Alga ...?! Oh my God ... syukurlah ..."
Dari seberang sana ungkapan syukur Kim meluncur tak terelakkan begitu menyadari panggilan teleponnya telah direspon dengan begitu cepat, terlebih saat mendengar suara Alga yang terdengar baik-baik saja.
"Kim, kemana saja kalian sejak kemarin? Apa kalian baik-baik saja? Mana Mike? Bagaimana lukanya ...?" Alga telah memberondong Kim dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
"Nona Alga, ada banyak hal yang terjadi sejak pelarian kemarin, tapi intinya saat ini aku dan Mike baik-baik saja. Kemarin, luka Mike sempat berdarah ... tapi sudah di tangani oleh seorang dokter dan lukanya kembali diperban. Dokter telah menyarankan Mike untuk tidak melakukan banyak gerak terlebih dahulu, karena kalau tidak ... lukanya akan semakin memburuk bahkan bisa terjadi infeksi ..."
Alga memejamkan matanya mendengar penjelasan awal Kim. Ia sudah bisa membayangkan bahwa tak berbeda jauh dengan apa yang ia alami dalam beberapa jam terakhir, ternyata Kim dan Mike pun telah melewati situasi yang tak kalah sulit dengan apa yang dirinya lalui.
"Nona, apakah benar nona sedang berada di Malta?"
Pertanyaan Kim telah membuat Alga kembali membuka matanya yang semula terpejam. "Bagaimana kau tahu?" tanya Alga sambil lalu.
"Seorang anggota klan telah melihat mobil jeep milik nona yang melaju menuju perbatasan kota ..."
Suara helaan napas berat milik Alga menyapu gendang telinga Kim.
__ADS_1
"Iya Kim, aku telah menyewa satu unit kamar di sebuah penginapan tua, sambil menunggu kabar dari dirimu dan Mike ..."
Diseberang sana kepala Kim terlihat manggut-manggut meskipun Kim tahu jika Alga tidak bisa melihat setiap ekspresinya.
"Nona telah melakukan keputusan yang tepat. Bukan karena takut, tapi memang untuk sementara waktu ada baiknya kita semua menahan diri, terus bersembunyi sambil menyusun siasat baru, dan kembali menggalang kekuatan. Nona Alga, aku pun telah memutuskan untuk menyembunyikan diri terlebih dahulu, sambil menunggu Mike benar-benar pulih. Aku juga sedang berusaha sekuat tenaga, mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang tercerai-berai secara diam-diam ..."
"Lakukanlah Kim. Lakukan apa yang memurutmu tepat, karena saat ini aku hanya bisa menaruh harapan kepadamu. Melihat kegigihan Juan Allesandro yang begitu nekad memburuku ... aku juga berpikir bahwa sepertinya aku tidak bisa kembali dalam waktu dekat ..."
Usai mendengar kalimat itu, Kim pun terdiam lama. Kim bukannya tidak tahu jika sasaran Juan Allesandro memang hanya Alga seorang.
Namun seberapa hebatnya seorang Alga Rudolp, saat harus membayangkan bagaimana seorang wanita harus begitu gesit serta terus-menerus berusaha menyelamatkan dirinya seorang diri dari kejaran Juan Allesandro ... semua itu sudah cukup membuat Kim menjadi sangat khawatir.
Alga memang hebat, tapi pada kenyataannya selama ini Alga tak pernah jauh dari dirinya dan Mike, yang terus memback-up setiap pergerakan wanita itu, layaknya kedua orang kakak kepada seorang adik.
Tapi keadaan sekarang sungguh jauh berbeda dan tidak memungkinkan untuk dilakukan. Karena disini, Kim harus menggalang kekuatan klan Rudolp dengan susah payah, sementara Mike masih belum bisa melakukan apa-apa.
"Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku." kalimat Alga telah mengenyahkan keheningan yang sempat bertahta, seolah Alga tahu bahwa diamnya Kim semata-mata karena pria itu sedang mengkhawatirkan dirinya.
Kim menarik napas berat, menyadari Alga yang seolah bisa menebak begitu saja segenap ke-khawatiran serta jalan pikirannya. "Nona, bukankah saat ini waktu yang tepat bagi kita guna memerlukan bantuan dari pihak ..."
"Tidak. Tidak sekarang." tepis Alga sambil menggelengkan kepalanya serentak.
Kim hanya bisa menarik napas berat menerima sikap keras kepala Alga.
Bagaimana pun Alga merupakan pimpinan tertinggi klan Rudolp.
Kim, dan siapapun itu ... harus patuh atas segala titahnya.
🔳🔳🔳🔳🔳
'Samuel Alfonso ...'
Kira-kira sejak setengah jam yang lalu, atau lebih tepatnya sesaat setelah pembicaraan Alga dengan Kim usai, Alga terus mengeja nama tersebut dalam hati.
Alga telah menceritakan semua kendala yang sedang dirinya hadapi kepada Kim.
Tentang kesulitan materi yang sedang ia alami saat ini, dimana untuk beberapa waktu kedepan dimana Alga harus terus berada dalam pelarian dan persembunyian untuk beberapa saat, sementara dirinya sendiri berada dalam kondisi keuangan yang cukup sulit.
__ADS_1
Mendengar semua itu, Kim telah menyarankan nama Samuel Alfonso sebagai kandidat terkuat, karena secara finansial, Samuel Alfonso memang orang yang tepat untuk bisa Alga temui guna meminta pertolongan.
"Pria itu adalah pemilik dari Red Luxury Hotel. Namanya Samuel Alfonso, seorang mantan anggota klan Rudolp di masa kepemimpinan Paman Albert ..."
Saat itu Alga terdiam lama usai menyimak penjelasan tersebut.
Sejujurnya nama Samuel Alfonso masih begitu asing ditelinga Alga, dan Alga bukanlah tipe orang yang gampang mempercayai seseorang yang tidak dikenal.
"Kim, apakah kau yakin dia bisa dipercaya ...?"
"Aku tidak bisa mengatakan bahwa diriku yakin, Nona Alga. Tapi sejauh ini kesetiaan seorang Samuel Alfonso telah ia buktikan saat dirinya mengabdikan diri untuk Paman Albert, meskipun ia melakukannya dibalik layar."
"Benarkah ...?" tanya Alga masih diliputi keraguan.
"Nona, yang aku ketahui adalah ... pria itu kerap membantu Paman Albert setiap kali Paman Albert membutuhkan bantuannya. Dia juga menjadi salah satu dari beberapa penyuplai dana yang konsisten untuk berbagai transaksi besar ..."
"Kalau memang demikian, lalu kenapa ia menarik diri dari klan ...? Bukankah dalam setiap keberhasilan transaksi, pihak seperti itu selalu mendapatkan keuntungan yang besar ...?"
Kim kembali terdiam, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu sesuai dengan intuisinya. "Sejujurnya, aku juga tidak tahu apa alasan yang tepat untuk semua pertanyaan Nona. Tapi mungkin saja sama seperti Tuan Albert, alasannya adalah faktor usia yang semakin bertambah ..."
Dan begitulah ...
Pada akhirnya hingga usai pembicaraan, jawaban Kim tentang seorang Samuel Alfonso tidak cukup memuaskan rasa keingintahuan seorang Alga.
Alga kembali mengaktifkan ponselnya, membuka akses internet hanya demi mencari tahu tentang seorang Samuel Alfonso.
Ternyata memang benar, pria itu adalah pemilik hotel termewah di kota Malta, mustahil jika Alga tidak bisa menemukan identitas pria itu di mesin pencari yang ada didalam ponselnya.
Hanya dengan mengetikkan nama, Alga bisa menemukan berbagai informasi tentang siapa Samuel Alfonso.
Pria berwajah latin, yang baru saja merayakan ulang tahunnya ke lima puluh delapan tahun dengan penuh kemeriahan.
Seorang pria tua, namun masih terlihat jauh lebih segar bugar di usianya yang tak lagi muda.
Dia ... Samuel Alfonso ...
...
__ADS_1
Bersambung ...