NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
SUKA ATAU TIDAK SUKA


__ADS_3

"Aku tidak mungkin melarikan diri dengan semua uangmu, karena aku tidak membutuhkannya ..."


Alga melirik sekilas. "Benarkah?"


Tara melengos.


"Disaat Tuan Samuel Alfonso telah memperingatkan dirimu untuk tidak menggunakan kartu apapun dalam bertransaksi ... aku tidak yakin kalau saat ini kau masih memiliki uang cash ..."


Alga tertawa remeh saat berusaha mengejek Tara, sementara Tara malah terdiam lesu.


Yah, Alga memang berkata benar.


Sesaat setelah mereka berhasil keluar hidup-hidup dari Red Luxury Hotel, Tuan Samuel Alfonso langsung mengecek keselamatan Tara dan Alga.


Pada kesempatan yang sama, Tuan Samuel Alfonso juga memperingatkan Tara bahwa untuk sementara waktu, sebaiknya Tara tidak melakukan transaksi keuangan apapun.


Bukan tanpa alasan kenapa Tuan Samuel Alfonso memperingatkan Tara dan Alga tentang beberapa hal, karena sepertinya Juan Allesandro telah berhasil menyadap semua akses keuangan Tara, begitu pria itu tahu bahwa Tara kembali terlibat dalam upaya melindungi keselamatan seorang Alga Rudolp yang menjadi target utamanya.


Butuh waktu untuk mengantisipasi semua pergerakan licik Juan Allesandro. Karena tidak hanya menyangkut transaksi keuangan saja, untuk saat ini Tuan Samuel Alfonso juga telah memperingatkan mereka tentang membatasi diri dalam penggunaan ponsel, sehingga Alga dan Tara langsung bergegas menonaktifkan ponsel mereka masing-masing usai pembicaraan tersebut.


"Berusalah untuk selalu bersama, dan saling percaya. Nona Alga, saat ini kau bahkan tidak bisa mengandalkan siapa pun selain dokter Tara ..."


Alga tidak punya banyak kesempatan untuk bertanya, mengapa diam-diam Tuan Samuel Alfonso mengatakan hal demikian di akhir pembicaraan dengannya.


Tapi untuk kali ini, tanpa membutuhkan alasan Alga memilih mempercayai pria tua itu meskipun dirinya enggan.


Tara tidak tahu mengenai pembicaraan tersebut, dan Alga pun tidak bermaksud membicarakannya.


'Untuk apa ...?'


'Yang ada dokter Tara akan semakin besar kepala jika mengetahui, bahwa untuk kedepannya aku akan berusaha terikat lebih lama dengannya, sesuai saran Tuan Samuel Alfonso tanpa aku ketahui dengan pasti apa alasan sebenarnya ...'


'Tidak .. tidak ... karena aku akan merahasiakan semua ini ...!'


Tanpa sadar, dalam diam Alga telah menggeleng kecil berkali-kali.

__ADS_1


Setelah semua peringatan Tuan Samuel Alfonso, Alga pun mencoba membalikkan keadaan yang ada.


Diam-diam Alga berusaha menekan Tara lewat kesempatan yang ia miliki, mengingat saat ini Alga menjadi satu-satunya orang yang memegang uang cash, disaat Tara tidak bisa menggunakan semua fasilitas kemewahan yang pria itu miliki.


Sementara itu, disaat yang sama Tara juga menyadari bahwa saat ini dirinya memang tak berdaya.


Apa boleh buat?


Tara bahkan tidak punya alternatif pilihan lain yang lebih baik selain menerima semua sikap menjengkelkan Alga yang terlihat bossy.


"Setelah semua ini aku merasa lelah sekali. Sebaiknya aku beristirahat ..." Tara berucap sambil melangkahkan kakinya mendekati ranjang. Melihat pergerakan Tara itu sontak Alga langsung terkesiap.


"Egh, kau mau kemana?"


"Tidur."


"Jangan menyentuh tempat tidurku!" semprot Alga cepat, menghentikan gerak tubuh Tara, di sisi lain ranjang yang berseberangan dengan posisi tubuhnya.


Tara tersenyum smirk. "Apa kau bilang? Tempat tidurmu?"


"Lalu bagaimana denganku ...?"


Alga melotot. "Terserah padamu. K-kenapa kau bertanya seperti itu ...?"


Tara mengangkat kedua bahu acuh.


"Dokter Tara, dengarkan ini baik-baik. Aku yang akan tidur disini. Hanya aku ... bukan dirimu ...!" ucap Alga sambil menaikkan kedua kakinya keatas ranjang yang sejak tadi ia duduki.


Tapi saat melihat pemandangan tersebut, bukannya gentar Tara malah ikut menghempaskan bo kongnya kepinggiran ranjang yang lain dengan raut wajah yang dipenuhi senyum kemenangan.


"Berhenti ...!" Alga terpekik melihat ulah nekad Tara.


"Sssttt ... berisik ..."


"Aaaaa ... apa yang ingin kau lakukan diatas ranjangku ..."

__ADS_1


"Aku tidak berniat apa-apa. Aku hanya ingin tidur."


Dengan cueknya Tara menghempaskan tubuhnya keatas ranjang.


Begitu punggungnya menyentuh permukaan ranjang Tara merasa rileks dan lega, kendatipun permukaan ranjang tersebut rasanya tidak terlalu nyaman.


Alga yang melihat aksi Tara yang semakin nekad itu terlihat benar-benar panik.


"T-tidak ..." kepala Alga menggeleng berkali-kali, jelas tak terima dengan kehadiran pria diatas ranjang yang sama dengannya.


'Ini gila ...!'


Umpat Alga, dalam hati belingsatan sendiri.


"Apanya yang tidak?" tanya Tara tenang.


"Dokter Tara, kalau kau ingin tidur, kau boleh tidur di karpet itu kalau kau mau ..." Alga berusaha berucap tenang, seraya menunjuk kearah karpet yang menutupi sebagian kecil dari lantai kamar kontrakannya itu.


"Enak saja."


"Apa kau bilang?!"


"Kalau kau tidak suka berbagi ranjang denganku, kenapa tidak kau saja yang tidur di karpet itu ...?"


"Apa kau bilang?!" sentak Alga tak bisa lagi menyembunyikan amarahnya.


'Menyuruhku tidur di lantai ...? Yang benar saja ...!"


Lagi-lagi bathin Alga mengumpat geram.


Mendengar luapan kemarahan Alga, Tara malah memejamkan matanya, namun dibalik wajahnya yang keras kepala di bibirnya telah terukir sebuah senyum.


"Aku akan tetap tidur diranjang ini, Nona Alga ... tak peduli kau suka ... atau tidak suka ..."


...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2