NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
MOBIL TAK DIKENAL


__ADS_3

"Aku merasa saat ini kita sedang dibuntuti ..."


Alga terhenyak mendengar selorohan Tara. Pria itu bahkan berucap tanpa menoleh kearahnya, melainkan terus mengawasi kaca spion samping.


Sesungguhnya kecurigaan yang sama pun telah Alga rasakan sejak kurang lebih tiga puluh lima menit, tepat saat mobil yang ia kemudikan keluar dari area parkiran belakang Penginapan Molly.


"Katakan kepadaku, apa kau benar-benar tidak menaruh curiga dengan sebuah mobil tak dikenal berwarna hitam yang ada di belakang sana?" kali ini Tara telah memalingkan wajahnya ke arah Alga yang berada di belakang kemudi.


"Aku tahu." imbuh Alga dengan ekspresi wajah datar.


"Lalu ...?"


"Aku telah memperhatikannya sejak awal, namun aku masih menduga-duga. Tapi menyadari bahwa kau telah menaruh curiga untuk hal yang sama, maka aku menjadi semakin yakin ..."


"Seharusnya kau mengatakannya kepadaku. Kenapa kau malah tidak mengatakannya ...?" protes Tara kearah Alga yang masih terlihat tenang-tenang saja sambil terus menyetir.


"Maaf ..."


"Kau ini, bagaimana kalau mereka menyerang secara tiba-tiba, sementara aku tidak siap sama sekali ...?"


Tara terlihat panik.


Bahkan setelah berucap demikian secara refleks Tara mengeluarkan revolver yang terselip di pinggangnya, memeriksa keadaan magazine, seolah ingin kembali memastikan bahwa isi didalamnya masih penuh terisi oleh peluru dan tidak berkurang.


Degup jantung Tara yang sempat berdetak normal untuk beberapa saat, rasanya kini mulai memacu kembali.


Masih lekat dalam ingatan Tara bagaimana menegangkannya situasi terakhir saat terjadi baku tembak di gudang tua, yang melibatkan Alfredo, Juan Allesandro, juga Alga, beserta para anak buah dari ketiganya.


Saat itu, tanpa disadari Tara telah menjadi dewa penyelamat bagi Alga dan Mike yang telah terdesak oleh hujan peluru yang ditembakkan oleh anak buah Juan Allesandro, nyaris tanpa jeda.


Sampai detik ini Tara bahkan tidak pernah lagi mendengar bagaimana nasib Alfredo setelah insiden tersebut.


Apakah pria bodoh itu selamat, atau justru meregang nyawa dari sekian banyak rentetan peluru yang berhamburan ...?


Entahlah ...


"Aku bukan tidak bermaksud mengatakannya, tapi menurut perkiraanku, saat kita masih berada dalam kondisi jalanan yang berlalu-lalang kendaraan, aku yakin mereka tidak berani melakukan apa-apa. Hanya sebatas memantau dan membuntuti agar tidak kehilangan jejak, tidak akan nekad menyerang ..."


Tara yang kembali menyimpan revolver tersebut di pinggang terlihat melengos kecil. "Spekulasimu itu terlalu beresiko ..."


"Aku kan tidak ingin membuatmu panik."

__ADS_1


"Jadi menurutmu saat ini aku tidak panik?"


Alga refleks menoleh, begitu mendapati kalimat bernada kesal milik Tara yang terlontar untuknya.


Meskipun mulai berada dalam mode ketegangan, namun entah kenapa saat menyaksikan wajah Tara yang sedikit pias mampu membuat Alga merasa lucu.


"Kenapa kau tertawa?"


Alga tidak menjawab, malah sibuk membekap mulutnya sendiri dengan sebelah tangan, membuat Tara menjadi semakin gemas saja.


"Alga, kau pikir semua ini lucu ...?" sungut Tara dengan sepasang mata melotot, begitu menangkap sisa-sisa tawa yang melintas sedetik di bibir Alga.


Alga kembali memalingkan wajahnya, mengawasi jalanan yang ada dihadapan mereka.


"Tenanglah, dokter Tara ..."


"Mudah sekali kau menyuruhku untuk tenang, sementara kau tahu persis bahwa saat ini kita sedang berada dalam kondisi dibuntuti oleh mobil tak dikenal ..."


"Kan sudah kubilang mereka hanya memantau ..."


"Iya, karena jalanan masih ramai kendaraan. Bagaimana kalau kita mulai memasuki wilayah perbatasan ...? Apakah kau yakin mereka tidak akan bertindak ...?"


"Masih memerlukan waktu sekitar empat puluh lima menit sebelum kita benar-benar akan melintasi wilayah perbatasan negara. Kau tidak perlu panik dari sekarang ..."


Alga malah terkekeh kecil mendengarnya.


Menanggapi kalimat yang sarat akan kekesalan itu entah kenapa membuat Alga kembali tidak bisa menahan tawanya.


Ekspresi wajah tampan Tara yang terlihat tegang bercampur gelisah malah membuat Alga merasa lucu.


"Kenapa kau tertawa lagi ...?"


"He-eh."


"Astaga, Alga ... bisa-bisanya kau tertawa dalam kondisi seperti ini ..."


"Lalu aku harus apa? Ikut-ikutan panik seperti dirimu ...?"


"Kau ... okeh, baiklah, aku akui aku memang panik. Tapi itu bukan berarti kau bisa menertawaiku. Aku benar-benar tidak habis pikir ... saat ini kau benar-benar sedang tertawa ..."


"Baiklah, maaf ..." Alga menggigit bibir bawahnya, mencoba meredam tawa yang sebenarnya masih ingin menyeruak.

__ADS_1


"Aku tidak mau tahu, mulai sekarang kau harus berjanji untuk mengatakan apapun situasi yang kelak akan kita hadapi sejak awal ..."


"Baiklah, tapi kau juga harus berjanji bahwa apapun kondisinya kau harus tetap fokus, tidak boleh panik seperti ini ..."


Tara menelan ludahnya, kelu.


'Sudah gila ...!'


'Bagaimana mungkin ada orang yang bisa tetap fokus, dan tidak boleh panik jika menghadapi situasi yang sudah jelas sedang mengancam nyawa ....?'


Tara membathin keki, namun demi membuat Alga tidak lagi menyembunyikan apapun kedepannya maka Tara memutuskan untuk menganggukkan kepala tanda setuju.


"Baiklah, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan diriku ..." putus Tara pada akhirnya.


Tara kembali melirik kaca spion yang ada di samping kiri, mengawasi mobil berwarna hitam yang berada beberapa meter dibelakang, berantarakan satu mobil, seolah sengaja menjaga jarak aman agar mereka yang dibuntuti tidak menaruh curiga.


"Baiklah, karena kita telah sepakat, maka aku akan mengatakan satu hal lagi kepadamu ..." suara Alga mengambil alih keheningan yang sempat menguasai udara.


Tara menoleh kearah Alga yang berbicara dengan tatapan lurus ke depan.


"Apa itu?"


"Sebenarnya aku menaruh curiga, bahwa mobil hitam yang sedang kau awasi itu bukanlah satu-satunya mobil yang sedang membuntuti kita ..."


"Apa kau bilang ...?!"


Tara tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terhenyak.


Sepasang mata Tara telah membeliak sempurna, namun kemudian ia buru-buru mengendurkan ekspresi ketegangan saat mendapati Alga yang melotot kepadanya.


"Maaf ... maafkan kepanikanku barusan. Baiklah, katakan ... katakan saja pendapatmu ..." ucap Tara lagi, yang langsung berubah kikuk dalam hitungan detik.


Alga menghembuskan napasnya sejenak, sepasang matanya yang indah seolah tidak pernah lengah, saat terus membagi konsentrasinya dengan adil antara mengawasi pantulan kaca spion tengah dan samping sekaligus, dengan ruas jalan yang terhampar di depan sana.


"Berjarak dua mobil dibelakang mobil hitam itu, ada sebuah mobil lain yang juga berwarna hitam ..."


Tara mengawasi spion kiri dengan seksama, mencoba mencari target sesuai clue yang diberikan Alga barusan dan ...


Memang benar, terdapat sebuah mobil lain berwarna hitam, yang jaraknya berantarakan dua mobil dari mobil hitam yang pertama.


...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2