
Tara meggeliatkan tubuhnya yang semula meringkuk dengan posisi menyamping.
Baru saja ia berencana membuat posisi tidurnya semakin nyaman manakala sebuah kesadaran membuat Tara refleks membuka mata, terduduk begitu saja diatas karpet yang telah menjadi alas tidurnya sejak semalam.
Ternyata hari sudah siang.
Tara mengetahuinya lewat cahaya terang yang nampak dari jendela dengan tirainya yang sedikit tersibak.
Tara merasa takjub, karena bisa-bisanya dia tertidur lelap diatas lantai yang hanya beralaskan karpet.
Kalau bukan karena kondisi tubuhnya yang teramat sangat lelah ... mana mungkin Tara bisa tertidur lelap seperti orang pingsan.
Semakin menemukan kesadaran, telinga Tara telah menangkap suara deras air yang berisik diatas genteng.
"Hujan ...?" Tara mendesis lirih, seolah pada dirinya sendiri.
Ia menguap sejenak sebelum memutuskan untuk bangkit dan berdiri.
Memutar pinggangnya ke kiri, terdengar bunyi renyah tulang belakang bak sebuah relaksasi, tapi manakala Tara melakukan hal serupa ke kanan ... gerakannya sontak terhenti begitu mendapati pemandangan ranjang yang kosong melompong.
"Dimana Nona Alga?"
Bergegas langkah Tara terayun mendekat, lagi-lagi ia bicara pada dirinya sendiri.
"Dia tidak ada. Apakah dia pergi ...?"
Kepala Tara sontak menggeleng, begitu sepasang matanya menangkap tas punggung milik Alga yang masih tergolek lesu di kaki ranjang, dan menjadi semakin sangsi manakala matanya ikut pula menangkap keberadaan ponsel Alga yang berada diatas meja, terhubung ke aliran listrik oleh sebuah soket charger.
Tidak mungkin.
Tara tahu persis bahwa Alga tidak mungkin pergi tanpa membawa ponsel yang nilainya mungkin sudah setara nyawa wanita itu.
Kenapa Tara bisa menyebutnya demikian, tak lain karena Alga bahkan nekad tidak naik ke heli bersama Kim dan Mike, memilih kembali ke bungalow dan di kepung oleh Rob beserta para anak buahnya, hanya karena Alga tidak rela meninggalkan ponselnya tersebut.
Dengan serta-merta Tara meraih ponsel yang sedang dimatikan dayanya itu.
Masih dengan kondisi terhubung ke soket charger, kini Tara mulai menimang-nimang benda pipih berbentuk segi empat tersebut, memperhatikannya seksama dengan raut wajah menaksir-naksir.
"Memangnya apa istimewanya ponsel ini, sampai-sampai bisa membuat Nona Mafia mengabaikan keselamatan dirinya sendiri ...?"
Braakk ...!
Pintu terpentang lebar dengan sedikit bertenaga, dan sosok Alga pun muncul disana begitu saja, nampak sedikit kebasahan.
Wanita itu juga terlihat menenteng beberapa tas kresek berwarna putih ditangan kirinya sekaligus.
__ADS_1
"Jauhkan tanganmu dari ponselku ...!"
Begitu melihat pemandangan Tara yang masih menimang ponselnya, Alga bergerak melesat secepat peluru, langsung mengambil alih benda pipih itu dari tangan Tara dengan gerakan yang kasar. Saking kasarnya konektor penghubung dari soket charger terlepas begitu saja dari stopkontak yang tertempel di dinding.
"Woowww ... wooowww ... kenapa kau seperti banteng marah begini?" Tara tak bisa menyembunyikan ekspresi terkesiapnya.
"Diamlah ...!"
"Nona Alga, kau tidak perlu berlebihan. Aku baru menyentuh ponselmu beberapa detik, dan kau sudah seperti ini ..."
"Memangnya untuk apa kau menyentuh ponselku? Hah?!" sergah Alga dengan wajah galak, usai mengambil alih ponsel dari tangan Tara, dengan gerakan yang sangat kasar.
Tara terdiam.
'Untuk apa ...?'
'Iya yah ... memangnya untuk apa aku menyentuh benda milik harimau betina ini ...?'
Tara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan ekspresi wajah yang keheranan, bingung sendiri.
"Kalau kau berani menyentuh ponselku lagi, maka aku bersumpah akan mematahkan jarimu ..."
"Huuussh ... Sssttt ..."
"Apa-apaan sih!"
"Cobalah hilangkan kebiasaan burukmu, yang suka mengancamku sembarangan ..."
"Itu kan karena kau juga mempunyai kebiasaan buruk, yang gemar menyentuh semua milikku." kilah Alga malah menjawab dengan intonasi cuek bebek mendengar nasihat Tara.
"Baiklah, aku minta maaf, meskipun sesungguhnya aku tidak bermaksud apa-apa saat menyentuh ponselmu. Aku akui, aku hanya sedikit penasaran ..."
Tara menatap Alga yang juga sedang menatapnya, dan keduanya baru tersadar dengan jarak diantara mereka yang ternyata cukup dekat.
"Kau ... kehujanan ..." lirih suara Tara menyeruak saat melihat ada percikan air hujan diantara helai rambut Alga yang berwarna hitam legam.
Alga gelagapan mendapati tatapan intens Tara untuknya.
"Basuh kepalamu dengan air, dan keringkan dengan handuk. Kau bisa sakit kepala kalau kau mengabaikan percikan air hujan ..."
Alga terdiam, namun sesungguhnya jantungnya telah berdesir lembut saat menerima perhatian kecil Tara untuknya.
Tersadar dengan kedekatan tubuh mereka yang nyaris merapat, Alga pun menarik mundur tubuhnya lebih dahulu, kemudian menyeret langkahnya kearah sofa.
Alga menaruh kresek berwarna putih yang sejak tadi berada di tangan kirinya keatas meja, masih tanpa berkata apa-apa.
__ADS_1
"Kau dari mana saja?" tanya Tara seolah sengaja ingin mengalihkan kecanggungan yang ada.
Sepasang mata Tara masih setia menguliti setiap pergerakan Alga dari tempatnya berdiri.
"Membeli makanan, beberapa bungkus roti, dan beberapa botol air mineral ..." jawab Alga lirih, berusaha keras menguasai kegugupan yang tiba-tiba melanda jiwa.
"Benarkah ...? Wah, ternyata wanita se-kasar dirimu bisa perhatian juga ..."
Alga melirik Tara dengan tajam. "Apa maksudmu ...?"
"Tidak ada, aku hanya ingin mengatakan bahwa kebetulan sekali perutku memang sangat lapar."
Senyum Tara terkembang sempurna saat menjawabnya, berbeda dengan Alga yang langsung membuang muka mendapati wajah ceria nan tampan rupawan itu.
"Tunggulah sebentar. Aku akan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan kemudian kita akan makan bersama-sama ..."
"T-tapi ..."
Mengambang.
Alga tidak lagi memiliki kesempatan untuk melakukan penolakan, karena sosok Tara telah menghilang dibalik pintu kamar mandi dengan gaya bersiul riang.
Sepeninggal Tara, Alga masih berdiri tegak mematung.
Suasana kamar kembali hening, hanya ada suara gemericik hujan diluar sana ... yang sepertinya juga hendak mereda.
'Kita ...?'
'Apakah itu berarti aku dan dia ...?'
'Makan bersama ...?'
Entah kenapa Alga merasa kedua pipinya terasa hangat ... kemudian jantungnya kembali berdebar aneh ...
'Dia adalah lelaki yang aku benci ...'
'Aku bahkan pernah bercita-cita menghabisi nyawanya ...'
Tubuh Alga terhempas lesu di atas sofa, namun sepasang matanya tak bisa beralih dari pintu kamar mandi yang masih terkatup rapat.
Bunyi gemericik air sayup-sayup terdengar dari dalam sana.
'Oh God ... jangan sampai aku menyukainya ... jangan sampai ...'
...
__ADS_1
Bersambung ...