NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
PENASARAN


__ADS_3

Alga bahkan tak mengerti, mengapa sejak melihat sosok Jun untuk yang pertama kali di depan pintu kamarnya, dirinya seolah merasakan sebuah kejanggalan.


Perasaan tak menyenangkan itu telah membuat Alga seharian ini terus memutar otak sendirian.


Yah, sendirian. Percuma membicarakannya dengan Tara, karena pria itu terlihat tidak menaruh curiga sedikit pun atas kehadiran Jun, malah balik menilai Alga yang berlebihan.


"Rokok ...?"


Tara mendekati Alga yang duduk merenung menghadap jendela kaca.


Pemandangan sore dari kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya yang tidak terlalu ramai diluar sana, sepertinya bukan menjadi fokus seorang Alga, karena wanita itu hanya menatap keluar, tapi Tara meyakini dengan pasti, bahwa perhatian Alga tidak berada disana ... melainkan sedang melamunkan sesuatu.


Alga melirik sekilas ke arah Tara yang tengah menyodorkan sebungkus rokok yang dibawakan Jun tadi siang, kemudian kepalanya menggeleng perlahan.


"Tidak mau ...?" tanya Tara memastikan dengan alis mengerinyit.


Bukan apa-apa, karena Tara tahu persis bahwa Alga adalah seorang perokok aktif, terasa aneh saja jika sekarang wanita itu malah menolak tawaran rokoknya.


Lagi-lagi Alga menggeleng.


"Tumben ..."


Alga melengos mendengar selorohan itu.


"Benar-benar tidak mau ...?" Tara masih keukeuh bertanya dengan pertanyaan yang sama.


Alga melotot mendapati sikap Tara, namun Tara sudah terkekeh lebih dahulu.


"Ya sudah, kalau tidak mau tidak perlu marah ... santai ... santai ..." ujar Tara sok akrab guna meredakan amarah Alga, namun tingkahnya cenderung tengil.


"Kan sudah aku bilang sejak awal bahwa aku tidak mau. Kenapa pula kau terus memaksa ...?" sengit Alga mulai dongkol beneran.


"Eitt ... sejak tadi kau kan tidak mengatakan apa-apa, selain menggelengkan kepala tanpa kata ..." ujar Tara berusaha membela diri dengan cara berkelit dan bersilat lidah.


"Lalu apa bedanya ...?!" semprot Alga, galak.


"Tidak ... tidak ada bedanya ... hanya aku saja yang ingin memastikan ... he ... he ... he ..."


Alga melengos, menahan kekesalannya yang sudah mencapai ubun-ubun akibat keisengan Tara.

__ADS_1


Yang Alga tahu adalah, kalau Tara sedang berada dalam mode usil seperti ini, maka sebaiknya mulutnya diam saja.


Tara memang seperti itu. Dia seolah akan semakin bahagia dan bersemangat jika merasa berhasil menggoda Alga hingga sepasang kelopak mata wanita itu membulat sempurna seolah ingin meloncat keluar dari cangkangnya.


Merasa tidak lagi dipedulikan oleh Alga, akhirnya Tara pun menarik sebuah kursi yang berada tak jauh dari dirinya dan menaruhnya didepan jendela kaca, tepat disamping Alga.


"Mau apalagi?" usik Alga, jelas memperlihatkan keengganannya atas kehadiran Tara yang dengan santai menghempaskan tubuh tepat disampingnya.


"Hanya ingin duduk. Memangnya tidak boleh ...?"


Alga melirik sinis. "Boleh saja, tapi kenapa harus duduk tepat disampingku? Kau kan boleh duduk di tempat lain ..."


"Aku ingin duduk sambil menatap keluar jendela seperti dirimu. Masa iya aku duduk sambil menatap pintu kamar mandi ...?" balas Tara dengan berseloroh cuek.


Alga membuang wajahnya lagi, berusaha mengacuhkan Tara yang sedang menyalakan sebatang rokok.


"Sejak tadi ... kau sedang memikirkan apa?" tanya Tara kemudian sambil menghempaskan kepulan asap dari mulutnya ke udara, kali ini raut wajahnya berangsur serius.


Sepasang mata Tara ikut memandang jauh keluar sana, memperhatikan lalu-lalang kendaraan yang melintas sesekali. Karena selain dikarenakan letak penginapan yang mereka tempati sudah masuk wilayah pinggiran kota Malta, jalan raya yang ada didepan penginapan yang mereka tempati ini bukanlah merupakan jalan utama.


Untuk itulah jalan raya tersebut cenderung lenggang, karena memang tidak terlalu banyak kendaraan yang melintas disana.


"Bukankah Kim sudah mengatakannya kepadamu bahwa butuh waktu minimal tiga hari untuk menyelesaikan semuanya?"


"Hhhmm ..."


"Itu artinya kau harus bersabar sampai besok ..."


Alga terdiam, meskipun dalam hati membenarkan ucapan Tara.


Sungguh, Alga mulai tak sabar.


Kim memang mengatakan hal demikian, di saat dua hari yang lalu, Alga nekad menghubungi dan meminta bantuan pria itu dengan jalan mengaktifkan telepon genggamnya sebentar, kurang dari dua menit, dan itupun atas persetujuan Tara.


Sebenarnya Alga selalu merasa jika penginapan ini cukup aman untuk mereka bersembunyi. Tapi itu sebelum Alga tahu bahwa sang pemilik penginapan telah menghilang sejak dua hari yang lalu, dan digantikan oleh Jun, seorang pria tinggi kurus dengan aura misterius, yang telah meninggalkan rasa kejanggalan besar di benak dan bathin Alga.


Saking penasarannya sejak siang tadi beberapa kali sudah Alga nekad menyelinap keluar, berpura-pura ingin membeli sesuatu di mini market yang ada di seberang jalan, hanya demi mengelabui Tara agar tidak curiga, bahwa sebenarnya Alga hanya ingin mengawasi Jun saja.


Sayangnya, hasil dari rasa keingin-tahuanya yang besar tidak membuahkan apa-apa, karena setiap kali Alga melintas di depan meja receptionist, Jun selalu terlihat duduk disana, tanpa gerak-gerik berarti sepanjang hari, bahkan pria itu selalu melemparkan senyumnya setiap kali melihat Alga.

__ADS_1


"Nona Alga, kau pernah makan bakso tidak ...?" suara berat Tara yang tiba-tiba menyeruak, kembali menghentak lamunan Alga yang berkelana.


"Bakso?" alis Alga mengerinyit nyata. Seumur hidup baru kali ini ia mendengar nama makanan seperti itu.


"Iya, bakso ..."


Alga menggeleng ragu. "Makanan seperti apa itu ...?" mau tak mau balik bertanya karena merasa penasaran juga dengan topik pembicaraan Tara yang tiba-tiba membahas sebuah nama makanan yang terdengar aneh.


"Sudah kuduga, kau pasti belum pernah merasakan makan bakso. Itu adalah salah satu makanan kesukaanku. Waktu kecil, almarhumah ibuku sering membuatnya ..."


Alga belum sempat menanggapi apa-apa, namun Tara sudah kembali berucap.


"Rasanya sangat enak, unik, gurih dan juicy ..."


Mendengar itu Alga langsung menelan ludahnya.


Apalagi dengan cara penjelasan Tara, yang disampaikan pria itu dengan ekspresi yang sangat menggiurkan.


"Bola-bola daging yang kenyal di padu dengan mie kuning, bihun, kuah kaldu yang gurih ... taburan bawang goreng yang renyah ..."


Tara menjeda kalimatnya sambil menahan tawa, saat menyadari Alga sedang menatapnya penuh atensi, dengan raut wajahnya yang terlihat sangat mupeng.


"Istri dari pemilik kedai di ujung jalan itu berasal dari negara Indonesia, dan katanya bakso merupakan makanan khas yang sangat digemari masyarakat disana ..."


"Benarkah ...?" kelihatan sekali jika Alga benar-benar kesulitan menahan keinginan untuk ikut mencicipi godaan yang tengah di uraikan Tara dengan gamblang.


"Kalau kau mau, malam nanti kita bisa pergi ke kedai itu dan makan bakso sepuasnya ..."


"Aku mau."


Tepat seperti dugaan Tara, bahwa Alga yang tidak pernah pantang mundur dalam urusan makanan pasti akan menyambut baik idenya.


"Baiklah kalau begitu, kita akan kesana malam nanti ..."


"Deal ...!"


Tara pun tersenyum penuh, karena berhasil membuat Alga bersemangat ...


...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2