
Sebuah luka ...
Di sisi ranjang, Alga terlihat berdiam diri sambil mengemasi tas punggung miliknya.
Kepala wanita itu terus tertunduk dalam, tapi Tara bisa melihat dengan jelas bahwa wajah yang begitu dingin itu tengah dinaungi kabut.
'Dia terlihat sangat sedih ... benarkah yang aku lihat ini ...?'
'Tapi ... dia adalah Alga Rudolp. Mana mungkin kalimatku bisa menyakiti hatinya yang se-keras batu itu ...?'
'Tara ... Tara ... jangan lupakan satu hal, bahwa biar bagaimana pun Alga adalah seorang wanita! Mustahil hatinya tidak bisa terluka ...!'
'Tapi apa iya keraguanku yang terang-terangan kepadanya bisa membuatnya bersedih seperti itu ...?'
'Mustahil ...!'
'Tapi kalau dipikir-pikir perkataanku kepadanya memang cukup menohok ..."
'Dan kalau memang benar demikian ...'
'Oh, astaga Tara, kali ini kau sungguh keterlaluan ...'
Tara berdiri salah tingkah tepat di depan bingkai jendela, terus menatap Alga tak berkedip, dengan bathin yang riuh oleh perdebatan yang tak kunjung usai.
Sementara itu ...
Alga bukannya tidak tahu jika di ujung sana Tara sedang mengulitinya lekat-lekat.
Justru karena itulah Alga sengaja tak mempedulikan pria menyebalkan itu meskipun hanya sekadar mengangkat wajah.
Alga lebih memilih berpura-pura menyibukkan diri, mengubek-ubek kembali isi tas-nya yang sudah terkemas sejak beberapa jam yang lalu, dengan benak yang penuh berisi kekesalan.
'Apakah aku seburuk itu di matanya ...?'
'Jadi dia benar-benar menganggap aku sebagai orang yang tidak bisa di percaya ...?'
'Apakah di matanya aku tak lebih dari sosok yang bisa mengkhianati rekan sendiri ...?'
'Jadi setelah melewati begitu banyak kebersamaan dalam beberapa hari ini, di matanya aku tetaplah seseorang yang tidak pantas mendapatkan setitik pun kepercayaannya ...?'
'Dasar pria tak punya hati ...!'
Alga merasa seluruh tubuhnya di penuhi amarah, dan semua perasaan itu terasa sangat aneh dan tidak enak.
Biasanya saat Alga merasa kesal kepada seseorang seperti sekarang, maka ia tidak akan segan untuk menarik pelatuk revolver atau glock 17 miliknya, seperti di awal saat Alga mengenal Tara.
Memang sudah tak terhitung lagi, sudah seberapa sering Alga menodongkan moncong pistol ke arah pria itu, tapi belakangan ini saat Alga terus bersama Tara ... Alga bahkan tidak pernah menyentuh sama sekali gagang pistol glock 17 yang selau berada di pinggangnya setiap saat.
Terlepas dari kenyataan bahwa saat ini Tara telah membekali dirinya dengan revolver milik Alga yang telah di sita pria itu, Alga bahkan tidak pernah menemukan alasan yang tepat, mengapa semakin lama bersama Tara, Alga semakin merasa nyaman ... merasa tenang ... merasa dipedulikan ... juga dilindungi ...
Akhh ...!
Mengakhiri kesibukan tangannya yang mempreteli tas dengan pikiran yang dipenuhi segudang kekecewaan, pada akhirnya Alga menaruh tubuhnya di tepi ranjang.
"Maaf ..."
Begitu Alga mendongak, sosok Tara sudah menjulang tepat dihadapannya.
__ADS_1
Alga membuang pandangannya pada sepasang mata elang yang sedang mengawasi penuh dirinya dari atas sana.
"Maaf untuk apa?" jawab Alga dengan nada suara yang datar.
"Untuk semuanya." suara berat Tara terdengar lagi, masih dari atas sana.
Alga tersenyum kecut, enggan menatap Tara. "Semuanya ...?"
"Hemm ..."
Hening lagi.
Tara mengawasi sosok Alga yang duduk membisu, dan sepasang alisnya bertaut perlahan saat menyadari bahwa kedua jemari Alga yang sedang berada di atas pangkuan wanita itu sedang memilin satu sama lain.
Sebuah gestur tubuh yang sangat identik, menandakan jika seseorang sedang berada dalam kondisi resah.
Diam-diam relung hati Tara semakin di penuhi rasa penyesalan ... juga beberapa rasa yang unik dan mendebarkan.
Bayangkan jika dirimu adalah seorang pria, dan di hadapanmu ada seorang wanita yang duduk salah-tingkah, sembari berusaha menutupi kegugupan yang terlihat nyata.
Kau tidak sedang mengintimidasi dirinya ... namun dia menjadi gugup hanya karena tahu sedang diperhatikan dengan seksama.
Kira-kira seperti itulah perasaan amazing yang sedang Tara rasakan sekarang.
Sebuah perasaan asing yang belum pernah sekalipun menyapa relung hatinya, bahkan saat bersama Lucia sekali pun.
"Aku mempercayaimu ..."
Alga terhenyak mendengar ucapan lirih itu, setelah sebelumnya keheningan sempat bertahta.
Menyadari tubuh mereka yang telah duduk berjejer, berdampingan tanpa sekat dan jarak hingga sepanjang lengan mereka terasa kaku saat saling bersentuhan ...
Oh, my ...
"Dokter Tara, kau ..."
"Maafkan aku yang telah meragukanmu. Sejujurnya, aku mengatakan semua itu ... semata-mata karena aku sangat mempercayaimu. Aku tidak tahu apakah kepercayaanmu kepadaku sebesar yang aku punya ... dan karena aku tidak bisa menakarnya, maka aku menjadi takut jika pada akhirnya aku akan di kecewakan ..."
"Kalau kau tidak bisa mempercayai seseorang, seharusnya kau jangan bersamanya ..."
"Tapi aku ingin terus bersamamu."
Deg.
Bukan hanya jantung Alga yang berdetak keras oleh karena kalimat yang terucap dari bibir Tara, karena Tara bahkan dua kali lipat lebih terkejut saat tersadar, apa yang telah diucapkan oleh mulutnya begitu saja.
'Aku ini sedang bicara apa ...?'
'Apa yang aku katakan barusan ...?'
'Aku ingin terus bersamamu ...?'
'Hey ... hey ... Tara ... tunggu ... tunggu sebentar ...'
'Darimana datangnya kalimat dengan makna se-dalam itu ...?'
Meskipun secara kasat mata Alga bisa melihat Tara yang begitu tenang, namun sesungguhnya di dalam hati Tara justru sebaliknya.
__ADS_1
Bukan hanya sekedar kekacauan, tapi peperangan telah terjadi di dalam sanubari Tara, manakala ia menyadari bahwa ucapan sarat makna tersebut merupakan dorongan murni dari lubuk hatinya yang terdalam.
Tanpa paksaan ...
Tanpa tekanan ...
Terlebih tanpa intimidasi sebuah ego ...!
Semuanya murni ... berasal dari setiap ruas bilik hati Tara, bahwa ia benar-benar ingin melindungi wanita dihadapannya, sekali pun nyawa adalah taruhannya.
'Ini gila!'
'Aku bahkan pergi meninggalkan Lucia Fernandez saat wanita itu mengkhianatiku satu kali tanpa berpikir dua kali ... tapi aku terus bersikeras berada di sisi seorang Alga Rudolp ... meskipun aku tahu persis, bahwa aku bisa saja mati ...'
Tara sadar bahwa dirinya sama sekali bukan-lah pria hebat ahli senjata maupun bela diri, namun Tara yakin akan satu hal, bahwa dirinya bukanlah se-jenis pria pengecut.
Ia telah mengatakan apa yang telah di putuskan oleh hatinya, dan Tara tidak mungkin mundur dari keyakinan hatinya.
Di hadapan Tara, Alga masih diam dengan mulut terbuka.
Sudah pasti wanita itu terkesima mendapati pernyataan Tara yang terucap tanpa keraguan.
"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" usik Tara begitu menyadari wajah Alga yang membeku bak patung.
Kepala Alga menggeleng bodoh, otaknya mati suri, sibuk mencerna seluruh ucapan Tara yang entah kenapa terdengar sangat indah di telinganya, namun di saat yang bersamaan juga membuat sesak jalan napasnya.
"Mau kah kau berjanji satu hal?" imbuh Tara lagi seolah tidak memberi kesempatan Alga untuk tersadar.
Alga belum sempat menjawabnya, namun Tara sudah berucap lagi. Kali ini semakin berani.
Merasa dirinya sudah terlanjur menunjukkan perasaannya yang terdalam untuk Alga, karena itulah Tara pun enggan melangkah mundur.
"Jika kita bisa melewati semua ini, tolong ijinkan aku terus berada di sisimu ..."
Alga terhenyak gugup. "Dokter Tara, k-kenapa ... kau ..."
"Aku menyukaimu."
"APPA ...?!"
Alga merasa nyaris pingsan.
Ingin menganggap Tara sedang bercanda dengannya, namun pada kenyataannya pria tampan di depannya bahkan tidak lagi tertawa bahkan tersenyum.
Wajah Tara terlihat sangat serius, bersungguh-sungguh, dan ... semakin tampan ...
Akhhh ...!
"Aku tidak tahu apakah ini yang dinamakan cinta ..."
"A-apa katamu ...? C-cinta ...?"
"Tidak ..." pungkas Tara secepat kilat, kepalanya refleks menggeleng. "Karena sepertinya perasaanku kepadamu ... bahkan lebih dari itu ..."
...
Bersambung ...
__ADS_1