
Bab.12
Tubuh Vicenzo bergetar hebat, dia benar-benar sudah memper kosa wanita yang bernama Xaviera di depan nya itu. "Sial!
"Sial?! Kau bilang sial! Bajingan!" Xaviera turun dari atas ranjang, berjalan maju mempersempit jarak dengan Vicenzo.
Vicenzo memundurkan tubuhnya, tiba-tiba dia merasa ter intimidasi. "Mau apa kau? Mundur!"
Saat Xaviera melangkah lebih dekat, tiba-tiba suara gedoran keras di pintu terdengar.
Dugh Dugh.
"Tuan muda! Salah satu anak kejang!"
"Charles!" Xaviera berlari ke pintu dengan panik, dia membuka pintu. Vicenzo ikut berlari keluar kamar mengikuti langkah si penjaga dan Xaviera yang berlari dengan panik.
"Charles! Ah tidak! Aku harus segera ke rumah sakit! Charlie, Caitlin ikuti Mommy!" Xaviera dengan cepat memangku tubuh kecil Charles dalam pelukan nya berniat pergi dari hotel.
"Tunggu!" cegat Vicenzo.
"Apa?!! Anakku sedang sekarat! Apa kau masih ingin menanyaiku!"
"Aku akan mengatarmu, ayo pergi," entah kenapa Vicenzo tiba-tiba merasa kasihan pada wanita itu. Lagipula, jika benar aku telah mem perkosanya. Bukankah anak-anak ini adalah anakku?! Anakku? Aku mempunyai anak, bahkan bukan 1 tapi 3 anak!
Xaviera tak punya banyak pilihan, dia akhirnya mengikuti Vicenzo masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Charlie dan Caitlin.
Setelah sampai di rumah sakit, Paramedis segera melakukan tindakan apaagi saat melihat siapa pria yang datang bersama Xaviera.
__ADS_1
"Tuan Vicenzo," sapa Dokter yang mengenal Tuan muda pewaris itu.
"Hm, tangani dia dengan baik. Kamu mengerti."
"Ya, Tuan muda."
Setelah Charles dibawa ke dalam untuk ditangani, Vicenzo menatap Xaviera yang sedang menangis seraya memeluk kedua anak kembarnya. Penampilan wanita itu literally luar biasa berantakan, tapi entah kenapa kini saat melihat Xaviera ia merasa iba dan sesuatu yang aneh berdesir dalam hatinya.
Salah satu pengawal mendekati Tuan mereka, pengawal itu berbisik, "Tuan muda, kata Tuan besar sebaiknya Anda sekalian test DNA saat berada disini hanya untuk lebih memastikan."
Vicenzo menatap Xaviera, setelah berpikir lama dia mendekati wanita itu. "Kamu--"
Xaviera mengangkat kepalanya, matanya sembab memerah. Wajahnya terlihat sangat letih, "Ada apa?"
"Begini... Papaku meminta test DNA, apa kamu keberatan?" tanya Vicenzo sedikit ragu.
Xaviera mengangguk, "Aku tidak keberatan."
Si kembar mengangguk, Xaviera meminjam gunting pada paramedis yang ada disana. Setelah menggunting rambut kedua anaknya, dia menyodorkan memberikan pada Vicenzo.
Vicenzo mengambilnya memasukkan ke dalam plastik, lalu menarik beberapa lembar rambutnya sendiri dan menyatukan ke dalam plastik.
"Emm, tadi kamu bilang namamu Xaviera?"
Xaviera hanya mengangguk.
"Kalau boleh tau, sakit apa anakmu yang di dalam itu?"
__ADS_1
"Namanya Charles, dia terlahir sedikit berbeda dari kedua saudara kembarnya. Tubuhnya kering, kurus dan wajahnya menguning. Sekarang semakin besar dia masih tetap kekurangan berat badan. Dokter mengatakan autoimun nya buruk, dia sensitif akan sinar matahari sering mudah sakit dan juga sering turun berat badan. Penyakit Charles dinamakan, Lupus Eritematosus Sistematik. Charles tak bisa seperti anak-anak lain, tubuhnya mudah kelelahan."
Vicenzo tak berkata apapun, dia menatap wajah sayu Xaviera. Pantas saja wajahnya sangat kelelahan, apa dia sangat keletihan mengurus ketiga anakkku? Oh tidak! Sial! Kenapa sekarang mudah sekali aku memanggil mereka sebagai anakku!
"Ekhm, nama kalian berdua Chalie dan Caitlin?"
Charlie tak memperdulikan Vicenzo, dia tak menatap wajah pria itu sama sekali. Tapi Caitlin menatap penasaran pada Pria dewasa di dekatnya, tapi wajahnya masih menunjukkan kesal apalagi Mommy-nya sudah ditampar tadi.
Vicenzo tak menyerah, sekali lagi dia bertanya tapi melihat si gadis kecil meresponsnya dia menatap Caitlin. "Namamu, Caitlin?"
"Um," jawab gadis kecil itu.
Xaviera menghela nafas, "Tuan Vicenzo, bisakah untuk sementara kamu membiarkan kami. Kita bisa menyelesaikan semuanya nanti, aku masih harus mengurus anak-anakku." Dia merasa marah melihat Vicenzo mendekati anak-anaknya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Caitlin melihat sang Mommy sepertinya kelelahan, dia berinisiatif ingin mencari minum untuk Mommy-nya.
"Mommy, Caitlin lapar juga haus," rengek gadis kecil itu.
Vicenzo merasa telah mendapatkan kesempatan, meskipun Xaviera jutek padanya dia tidak mau menyerah. "Mau ikut denganku ke kantin rumah sakit atau makan di restoran diluar?" tanyanya pada si gadis kecil.
Caitlin melirik Vicenzo sebentar lalu melirik sang Mommy, akhirnya dia menggeleng. "Tidak, aku akan pergi bersama Mommy."
Xaviera menghela nafas pasrah mendengar ucapan putrinya, dia masih harus menunggu kabar dari dalam ruangan tentang Charles dan tak bisa membawa kedua anaknya untuk mencari minum, "Kalian berdua boleh ikut pria ini, Mommy masih harus menunggu saudara kembar kalian. Oke."
Charlie melihat wajah Mommy-nya sangat kelelahan, dia yang pertama kali turun dari kursi rumah sakit. "Ayo, Caitlin. Pegang tanganku, kita ikut dengan pria menyebalkan ini. Kita juga harus bawa makanan untuk Mommy, Mommy juga pasti lapar dan haus."
Caitlin akhirnya ikut turun dari kursi menggenggam tangan saudara kembarnya, gadis kecil itu menatap Vicenzo. "Ayo pergi, Tuan."
__ADS_1
Vicenzo merasa gemas sendiri, dia tak bisa menahan senyuman lebar yang terpoles di bibirnya. "Lets go."
Xaviera menatap kepergian kedua anaknya dan pria itu, dia mendesaah perlahan.