
Sebubarnya semua orang dengan kesepakatan Vicenzo dan Anetta akan bercerai hari itu juga, bahkan Vicenzo menyuruh orang tua Anetta membawa putri dan cucunya keluar dari kediaman Gladwin.
Di dalam mobil, Lionel menatap keluar jendela. Dia menghela nafasnya lalu berbalik menatap wajah sang adik.
"Deliyah, aku akan mendukungmu menikah dengan Vicenzo. Apapun akan kakak lakukan agar kamu mendapatkannya dan kamu bisa menjadikan Vicenzo milikmu seutuhnya."
Deliyah berpaling menatap tak percaya pada kakaknya, "Kakak serius? Bukankah Mama dan Papa akan menentang?"
"Percaya pada kakak, tapi kamu harus ingat satu hal. Dalam usahamu menjadikan Vicenzo milikmu, jangan pernah menyentuh Xaviera sedikit pun."
"Apa kakak mengenal wanita itu?" Deliyah tak menyangkanya.
"Kami saling mengenal, ingat saja ucapan kakak. Jangan pernah menyakiti Xavi."
Deliyah tak menjawab, tapi jika dipikirkan bantuan kakaknya memang sangat ia butuhkan. Sedangkan mengenai tidak menyakiti Xaviera, akan ia pikirkan nanti. "Baiklah, kak. Asalkan kamu membantuku..."
Seminggu kemudian, di sebuah hotel upacara pernikahan Vicenzo dengan dua wanita pengantin menggegerkan publik. Para tamu undangan begitu antusias ingin melihat para mempelai pengantin wanita.
Sumpah ikrar diucapkan, kini Xaviera dan Deliyah sudah resmi menjadi istri Vicenzo secara agama. Tapi sesuai kesepakatan hanya Xaviera yang menjadi istri sah dan tercatat di catatan sipil.
Suasana malam pengantin di kamar Deliyah sangat sepi, lain lagi di kamar pengantin Xaviera.
__ADS_1
"Vic, bisakah kamu berbalik? Aku ingin memakai gaun tidurku," Xavi masih memakai bathrobe di tubuhnya setelah selesai mandi, ia lupa membawa gaun tidur ke bathroom.
Vicenzo memakai bathrobe juga di tubuhnya, ia sudah mandi lebih dulu dan memang sengaja menunggu istrinya. Istri? Ah, sangat menyenangkan memanggil Xavi istrinya sekarang.
"Xavi, ini malam pengantin kita. Apa kamu lupa?" Vicenzo berjalan mendekat seraya membuka tali bathrobe, lalu mulai menyingkap dada bidang berbulunya.
Xaviera memalingkan wajahnya, ia juga tau itu malam pengantin mereka tapi ia hanya merasa gugup.
Vicenzo sudah berada di dekat Xaviera, "Jika kamu tidak ingin aku tidak akan memaksa, tapi... Jika aku sudah tak kuat, mungkin aku akan pergi ke kamar Deliyah," jahilnya.
"Vic! Kamu!" seketika emosi Xaviera terpancing, Vicenzo sudah berjanji padanya dalam pernikahannya dengan Deliyah, Vicenzo tidak akan menyentuh wanita itu.
"Kamu cemburu?" Vicenzo menaikkan sebelah alisnya sembari mengulum bibirnya.
"Aku memang sudah berjanji padamu tidak akan menyentuh Deliyah, tapi jika kamu--"
Xaviera menghentikan ucapan Vicenzo dengan bibirnya, ia mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.
Vicenzo hanya sebentar terkejut, ia memeluk tubuh istrinya membawanya ke atas ranjang. Menarik tali bathrobe Xaviera lalu tangan besarnya mulai mengelus tubuh telanjang istrinya.
"Ahhhh... " Xavi melepaskan ciumannya melenguhh merasakan gelenyar nikmat dari elusan tangan suaminya.
__ADS_1
"Kamu suka?" bisik Vicenzo di sela isapannya di ceruk leher jenjang Xavi.
Xavi tak menjawab hanya errangan yang terus keluar dari bibirnya.
Tangannya mulai bergerak dari perut telanjang Xavi ke atas ke bagian da da istrinya, memilin dengan lembut pucuk da da Xavi lalu melahap dengan mulutnya seakan kehausan untuk waktu yang sangat lama.
Xavi melengkungkan tubuhnya ke atas tak kuasa menahan issapan bibir Vicenzo di pucuk da da nya, "Aku... Achhhh... Vic..."
"Malam ini aku akan membuatmu ketagihan bercinta denganku, sayang..."
Tangan Vicenzo meraba kesiapan tubuh Xavi di bawah sana, bagian inti istrinya sudah basah siap menerima kejantanannya.
"Aku akan pelan-pelan..." Vicenzo mulai memasukkan bagian membengkak dirinya ke dalam tubuh inti istrinya.
"Achhhhhh... Vic!" Xavi menggigit bibirnya kesakitan.
"I-tu tidak akan sakit sebentar lagi... " Vicenzo tak bisa menahannya, ia lalu mulai mendorong penuh miliknya dan mulai menggerakkan ping gulnya.
Semalaman dari dalam kamar Xavi terdengar suara errangan serta lenguhhaan, Deliyah berdiri di luar pintu kamar mendengarkan dengan segala amarahnya.
"Kakak bilang aku tidak boleh menyakitimu, Xavi! Tapi, lihatlah nanti!"
__ADS_1
Perempuan itu pun pergi dari sana dengan rencana-rencana yang akan dilakukannya pada Xaviera.