
Bab.15
Vicenzo tak bisa membalas ucapan dari orang tua Anetta, dia membuka pintu kamar melangkah masuk. Dia melihat mata Anetta terpejam, dia mendekati wanita tunangan nya itu. "Anetta, kamu tidur?"
Anetta dengan perlahan membuka kedua matanya, "Apa ini benar kamu, Vic?" tanyanya dengan suara lemah.
Vicenzo berjalan cepat mendekati ranjang, dia menarik tangan tunangan nya. "Bagaimana kondisimu? Kamu marah padaku, bukan? Maafkan aku," pria itu membawa tangan Anetta ke bibirnya mengecup sayang, lalu ia mengelus-ngelus pipi wanita yang terbaring lemah di atas ranjang.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Vic, ak-aku... hiksss," seketika air matanya tumpah, Anetta terisak.
"Shhhh, sayang. Jangan menangis, aku salah. Maaf, aku juga masih kebingungan. Setelah aku mengetahui kebenaran nya, aku akan menjelaskan nya padamu. Kamu mau menungguku?"
"Vic, bagaimana dengan pernikahan kita? Jangan batalkan, yah."
"Untuk sementara ini kita harus membatalkan nya, sayang. Tunggu semua kembali menjadi tenang dan keadaan menjadi jelas, kita akan melangsungkan pernikahan kembali. Oke."
Anetta mengangguk lemah, "Janji?"
__ADS_1
"Janji, sekarang kamu ingin apa? Aku akan membelikan nya."
"Aku ingin makan Amuse bouche dan keju moose dari restoran yang waktu itu saat kamu melamarku untuk menjadi istrimu, boleh?" ujarnya manja.
"Baiklah, tunggu 30 menit. Aku akan pergi ke restoran, hanya itu?"
"Ya, juga jaga cintamu untukku. Vic, walaupun kamu tidak pernah mengatakan mencintaiku tapi aku tau kamu sangat mencintaiku, kan?"
Vicenzo terdiam, dia menatap mata Anetta yang penuh pengharapan. "Ah, aku lupa harus memberi kabar pada Papa dan Mamaku. Mereka pasti mencemaskanmu, tunggu aku kembali ya."
Vicenzo mengecup dahi Anetta, lalu kabur dari dalam kamar membuka pintu lalu menutupnya.
Diluar pintu kamar Vicenzo mengatakan akan pergi sebentar untuk membeli makanan untuk Anetta. Melihat Vicenzo yang sepertinya masih perhatian pada putri mereka, orang tua Anetta akhirnya tersenyum.
Vicenzo berbelok ke kamar rawat Charles, saat akan membuka pintu baru teringat tangan nya sudah menyentuh Anetta jika masuk apa dia akan diteriaki lagi oleh Xaviera? Tapi wanita itu tidak tau aku sudah memegang Anetta, bukan? Pikiran Vicenzo berkecamuk, akhirnya dia tak jadi membuka pintu dan pergi dari sana menuju kamar sepasang twins.
"Apa anak-anak sudah bangun?" tanyanya pada pengawal nya.
__ADS_1
"Belum, Tuan muda."
"Aku harus pergi untuk membeli sesuatu, kamu jangan lengah terus jaga mereka berdua. Mengerti?"
"Ya, Tuan muda."
Setelah sampai di Restoran, Vicenzo memesan masakan yang di inginkan Anetta. Tiba-tiba dia teringat wajah letih Xaviera, akhirnya dia memesan double untuk dimakan Xaviera.
Saat dia akan pergi ke kamar Anetta dengan menjinjing makanan di tangan nya, langkahnya seketika ragu. Akhirnya dia mencari pembersih tangan lalu berjalan menuju kamar Charles, dan masuk ke dalam ruangan.
"Aku membawa makanan untukmu, makanlah selagi hangat," ujarnya pada Xaviera.
Xaviera melihat logo restoran mahal di pembungkus makanan itu, dia hanya tersenyum kecut. Seorang pria kaya seperti Vicenzo begitu mudah nya membeli makanan mahal dan mewah, sedangkan dirinya bahkan untuk membawa berobat Charles selalu saja sangat kesusahan saat mencari uang.
Vicenzo tentu saja melihat senyum sedih Xaviera, dia lupa jika wanita itu hidup dengan serba kekurangan. Bahkan Caitlin si gadis kecil itu mengatakan untuk berobat Charles saja Xaviera selalu kesusahan. Kini dia malah membawa makanan mahal, "Lain kali aku akan membawakanmu makanan sederhana, kali ini makan saja makanan ini. Bukankah akan sayang jika dibuang?"
Xaviera terkejut, dia tak menyangka pria itu bisa membaca pikirannya.
__ADS_1
Tanpa keduanya sadari, tadi Mama Anetta sudah melihat kedatangan Vicenzo yang berjalan menuju kamar putrinya tapi saat pria itu berbelok ke arah berlawanan seketika ia mengikuti calon menantunya itu. Saat sampai Ia melihat nama pasien yang tertulis diluar, ia mengerenyitkan dahinya.