
Vicenzo melengkungkan lengannya untuk digandeng Xaviera, tapi seperti 6 tahun lalu wanita itu menolaknya.
Xaviera menatap pintu besar Mansion megah di depannya, ternyata sekali lagi dia akan masuk ke dalam Mansion yang pernah menyakitkan baginya.
"Kamu menolakku lagi, hahhh..." dessah lelaki itu.
"Kamu adalah suami Nyonya di rumah ini, tidak baik aku terlihat dekat denganmu. Para pelayan akan menggosipkanmu."
"Aku tidak perduli!"
"Meskipun mereka menggunjingkanku?" tanya Xaviera sembari mengangkat sebelah alisnya.
"Ya! Karena aku takkan membiarkan siapapun menyakitimu lagi."
Sekali lagi Vicenzo memberikan lengannya, Xaviera mendesssah pelan lalu mengaitkan tangannya di lengkungan lelaki yang terdengar percaya diri itu.
Vicenzo membawa masuk Xaviera, beberapa pelayan yang sedang bekerja melakukan tugas mereka ada di ruang depan. Baru saja mata mereka melirik pada Tuan muda mereka, tatapan menusuk dari sang Tuan seketika membuat mata mereka berfokus kembali pada tugas.
"Suasana disini terasa berbeda, dulu para pelayan sangat berani dengan mulut mereka," ujar Xaviera seraya berjalan matanya menyelusuri setiap isi di dalam kediaman.
Langkah Xaviera terhenti, di depannya wanita sombong yang menjadi istri Vicenzo sedang berdiri menggandeng seorang anak kecil.
"Vic... apa yang kamu lakukan?!" teriak Anetta, matanya menatap terkejut sekaligus penuh benci pada wanita yang dulunya lusuh kini saat ia menatap Xaviera dari ujung kaki sampai kepala sangat jauh perbandingannya. Xaviera terlihat sangat cantik dengan gaun malam yang membalut tubuh wanita itu apalagi wajah cerah dan cantiknya tak ada jejak-jejak wanita yang dulunya terlihat sangat jelek.
__ADS_1
"Bukan urusanmu! Awas minggir!" bentak Vicenzo, dia menarik kembali tubuh Xaviera agar terus berjalan melewati Anetta.
"Daddy, hiks..." mata Alesya mengembun, gadis kecil itu sedih Ayahnya membentak sang Mommy.
Xaviera tak tega melihat anak kecil itu menangis, "Jangan bertengkar di depan anak kecil, ayo pergi Vic!"
"Beraninya kamu! Siapa kamu memerintah suamiku!" Anetta maju mendekat.
"Anetta, ternyata kearoganmu masih sama. Harusnya kau sudah berubah saat menjadi seorang Ibu, lihat putrimu! Apa kau ingin bertengkar denganku di depan putrimu?!" Xaviera tak gentar sedikit pun saat Anetta maju menghampirinya mendekat.
Anetta terdiam, dia menatap ke arah bawah pada putrinya.
Vicenzo tak ingin berlama lagi disana bersama Anetta, kini dia menggenggam tangan Xaviera lalu membawa Xaviera ke arah kamar putri mereka.
Tok Tok Tok.
"Caitlin, ini Daddy. Daddy membawa kejutan untukmu, kata Zayn perutmu sakit--" ucapan Vicenzo terhenti saat melihat Caitlin sedang makan cake bersama saudara kembarnya di atas ranjang, mata kedua pasang anak-anaknya membelalak melihat pada wanita di sampingnya.
"MOMMY... !!!" keduanya turun dari atas ranjang berlari seraya menangis.
"Mommy... huhuuu... Mommy..." Caitlin memeluk Ibunya dengan tangisan kerasnya.
"Mom, ini benar Mommy?" mata Charlie berkaca-kaca tapi karena merasa dia bukan lagi anak kecil dan malu jika menangis dia menahan isak tangisnya dan hanya memeluk tubuh wangi Ibunya.
__ADS_1
"Ya, ini Mommy baby. Kalian sudah tinggi dan besar, maafkan Mommy meninggalkan kalian... Mommy..." Xaviera ikut menangis sembari mengelus sayang kedua anaknya.
"Caitlin, kata Zayn kamu sakit?" tanya Vicenzo di tengah suasana haru di kamar itu.
"Tidak, aku baik-baik saja," Caitlin menggeleng dalam pelukan Ibunya.
Zayn berlari masuk, dia baru selesai memarkirkan mobil. "Tuan muda... I-itu... saya sebenarnya berbohong. Mhuehhe..." pria berusia 26 tahun itu cengengesan.
Xaviera menatap tak percaya pada bawahan Vicenzo. "Kau mendoakan putriku sakit?!"
"Bukan! Bukan begitu Nyonya, saya hanya tidak ingin kalian bertengkar tadi jadi berinisiatif agar Anda datang kesini menemui kedua anak Anda. Saya pikir mungkin akan meredam amarah Anda pada Tuan muda Vicenzo, maaf... hehe." Zayn menunduk meminta maaf tapi wajah pria itu tak terlihat ada rasa bersalah sedikit pun.
"Mommy, jangan marahi Zayn. Dia calon menantu Mommy di masa depan..." rengek Caitlin.
"Apa?!" kali ini Xaviera menatap tajam pada Zayn.
Zayn menggeleng gelengkan kepalanya, "Itu bukan salah saya, Nyonya. Kali ini saya tidak bersalah, itu adalah cita-cita Nona muda Caitlin. Nona muda ingin menjadi istri saya," pengawal pribadi twins itu membela diri.
Xaviera menatap ke wajah putrinya, "Kenapa cita-citamu menjadi istrinya, Caitlin?"
"Astaga Xavi, kamu malah menanyai putri kita. Bukannya kalian harusnya saling melepaskan kerinduan?!" Vicenzo meng-interupsi kekesalan Xaviera.
Xaviera menatap Vicenzo lalu Zayn dan berakhir di wajah kedua anaknya. "Hahhhh... Daddy kalian benar."
__ADS_1
"Zayn, minta para pengawalku berjaga di depan kamar. Aku tidak ingin siapapun mengganggu kami, termasuk Ibu dan Ayahku!" titah Vicenzo.
Zayn mengangguk dengan tegas, selama 6 tahun ini dia sudah berusaha menjadi pengawal pribadi yang kuat bagi Tuan mudanya agar kejadian memilukan enam tahun lalu tidak terulang lagi karena dulu dia masih belum bisa melakukan tugasnya dengan benar.