
Bab.29
6 tahun kemudian.
Tak.
Tak.
Tak.
Suara benturan yang berasal dari high heels yang dipakai seorang wanita cantik beradu dengan lantai terdengar menggema di sebuah Coffee Shop. Meskipun wanita itu adalah seorang pemilik dari coffee shop minimalis yang terletak di sebuah desa kecil di ujung kota, tapi tidak pernah sekali pun wanita dengan mata coklat serta berambut kemerahan dengan ujung rambut dibentuk curly membingkai wajah cantiknya itu merasa dirinya adalah pemiliknya. Ia sedang membuat coffe pesanan para pelanggan, karena sang Barista belum datang.
"Nyonya Xaviera, maaf saya datang terlambat. Sekarang biarkan saja yang membuat kopinya," ujar seorang barista, pria berusia 26 tahun lebih muda 4 tahun dari Xaviera.
"Tidak apa-apa Lionel, kamu tadi sudah meminta ijin padaku harus mengurus dulu Nenekmu. Apa sekarang Nenekmu baik-baik saja?" tanya Xaviera penuh perhatian.
"Baik, Nyonya. Tadi sendi kakinya sedikit kesakitan, aku sudah mengolesinya salep dan memijit kakinya."
"Aku sudah bilang panggil namaku langsung, aku tak suka dipanggil seperti seorang atasan. Baiklah, ini buatlah pesanan meja nomer empat dan lima. Aku sudah selesai membuat coffe pesanan meja nomer 3. Sajikan coffee dengan indah sesuai pesanan mereka, oke."
"Mhuehe... oke, Xavi." Jawab Lionel dengan senyum tampannya, "Ahh... aku bertemu Charles di depan, putramu mengatakan akan pergi bermain kriket. Apa dia pergi bersama kakeknya lagi?"
"Ya, mereka berdua tak bisa terpisahkan. Terkadang aku iri akan kebersamaan mereka, apa karena Charles anak laki-laki semakin besar dia kurang dekat denganku dan selalu marah jika aku mencampuri urusannya. Hahh..." dessahnya.
Lionel tersenyum, "Mungkin... tapi bukankah kamu bahagia karena Charles sudah sembuh sekarang dan tak sakit-sakitan lagi?"
__ADS_1
"Kamu benar, kesehatan putraku yang lebih penting," senyuman sedih juga bahagia terukir di bibir Xaviera tatkala ia mengingat kedua anak lainnya.
Xaviera selalu mengikuti perkembangan terbaru dari kedua anak kembarnya, keluarga Gladwin tak pernah kekurangan pemberitaan. Mereka selalu muncul di berita-berita pembisnis, apalagi saat keluarga besar Gladwin dan keluarga besar Ansell bersatu menjadi satu keluarga saat Vicenzo menikahi Anetta.
Sedangkan dia sendiri setelah penyakit Charles tidak pernah lagi kambuh, kini dia bisa merawat tubuh dan wajahnya. Apalagi setelah membuka usaha sendiri, dia tak pernah lagi kekurangan uang.
Lionel menatap penuh arti pada atasan cantiknya itu, dia juga sering mengikuti pemberitaan dunia bisnis karena sebenarnya dia adalah salah satu pembisnis internasional. Dia melihat Charles sangat mirip dengan anak laki-laki kecil yang berusia sama sekitar 10 tahun dari keluarga Gladwin.
Sebenarnya nama besar keluarga Lionel tak kalah hebatnya dari keluarga Gladwin maupun dari keluarga Ansell, hanya saja dia sedang mengikuti kata hatinya ingin bersama wanita cantik di depannya yang 3 tahun lalu pernah menolongnya. Meksipun Xaviera tak mengenal dirinya saat ia melamar menjadi Barista di coffee shop milik wanita itu, tapi baginya tak jadi masalah asalkan bisa selalu dekat dengan Xaviera ia pun rela berubah menjadi pria miskin.
Saat sudut mata Lionel melihat ke arah luar coffee shop, salah satu pengawalnya memberi kode seperti sedang menelepon. Dia tau itu pasti telepon penting, ia hanya mengangguk pelan pada pengawalnya diluar tanpa mencurigakan.
Ia menyelesaikan coffee pesanan - pesanan para pelanggan, salah satu staff mengambil dan membawa pesanan itu ke meja para pelanggan.
"Xavi, aku akan ke toilet sebentar."
Xaviera lalu duduk di kursi tinggi seperti kursi di bar, tempat bekerja bagi Barista ia mendesainnya seunik mungkin bahkan interior coffee shop-nya ia buat dengan nuansa estetik. Hidup di pedesaan yang jauh dari hingar bingar ramainya perkotaan membuat hatinya tenang. Hanya saja kerinduan akan kedua anaknya tetap saja menyakitkan meskipun terobati dengan keberadaan Charles yang semakin sehat.
.
.
.
Di kediaman besar Gladwin, Vicenzo yang kini sudah semakin dewasa di usianya ke -34 tahun sedang memeriksa bisnis yang dia bangun tanpa uang Ayahnya di ruang kerja pribadinya. Sejak ia kehilangan Xaviera, sejak saat itu lah ia membangun bisnis kerajaannya sendiri tanpa sepengetahuan sang Ayah. Menikah dengan Anetta hanya untuk menjadi kedoknya jika dirinya mematuhi keinginan sang Ayah. Apalagi saat itu Anetta memohon-mohon bahkan bersujud padanya meminta ia menikahi wanita hina itu saat Anetta mengetahui sedang mengandung.
__ADS_1
Flashback 6 tahun lalu.
Sebulan sejak perpisahannya dengan Xaviera, Vicenzo berjalan dengan memakai kruk di sebelah kakinya yang terluka.
Saat itu ketika ia baru saja bisa menggerakkan kakinya dan turun dari ranjang dengan usahanya sendiri meskipun Dokter belum memperbolehkan, tapi setiap hari ia keluar rumah untuk mencari keberadaan Xaviera sampai akhirnya kakinya sedikit bengkok dan sulit untuk disembuhkan.
Ia berjalan mengandalkan kruk di sebelah kaki kirinya, sudah tak bisa berjalan dengan gagah lagi seperti lelaki pada umumnya. Bahkan sang Ayah mengatakan pada orang lain jika dirinya mengalami kecelakaan menyebabkan kakinya seperti itu. Ia hanya tersenyum miris, sudah tak menganggap lagi apapun perbuatan Ayahnya.
Bahkan Ayahnya mengancam akan memisahkannya dengan kedua anaknya jika ia tak menikah dengan Anetta. Saat ia masih memikirkan semuanya, Anetta tiba-tiba datang padanya dengan menangis.
"Vic, tolong aku... aku juga akan menuruti semua keinginanmu. Aku mohon...." Anetta bersujud di hadapannya.
"Apa lagi yang kau inginkan dariku Anetta?! Hidupku sudah hancur karenamu!"
"Vic, ayo bersepakat denganku. Aku berjanji tidak akan mengganggumu saat kita menikah, tapi aku memintamu mengakui anak dalam kandunganku adalah anakmu nanti. Aku sedang mengandung 2 bulan Vic..."
Vicenzo tercengang akan permintaan wanita ja lang yang sedang bersujud padanya. "Anak Andrew?"
Anetta mengangguk, "Andrew sudah mati, aku tidak bisa menggugurkan anak ini karena takut. Aku juga tak bisa melahirkan anak tanpa suami, Ayahku akan membunuhku! Tolong aku, Vic... hu.... hu...."
Ia memikirkan perkataan Anetta, itu juga baik untuknya jika saat menikah wanita ini takkan meminta hak-nya sebagai istri dan mereka hanya menikah untuk tujuan masing-masing. Ia juga bisa berpura-pura mematuhi keinginan sang Ayah sambil mengumpulkan kekuatan untuk melawan Ayahnya sendiri demi membawa Xaviera kembali dan bersatu dengan lengkap bersama anak-anak mereka kelak.
"Baik, aku setuju. Tapi aku akan membuat persyaratan dan kau harus mematuhinya. Ingat, Anetta! Pernikahan ini hanya sebuah kesepakatan, tidak lebih!"
Flashback Off.
__ADS_1
Vicenzo menarik kembali pikirannya dari ingatan 6 tahun silam, kini bisnis kerajaannya sendiri sudah hampir melampaui Ayahnya. Sampai saatnya tiba, ia takkan segan-segan membuat Ayahnya terpuruk dalam kemiskinan dan kesengsaraan seperti yang ia rasakan selama 6 tahun ini.