
Vicenzo memejamkan matanya, dia masih bisa bernegosiasi bukan?
"Lepaskan kedua putraku, kalau rekaman Charlie tersebar putraku akan terkena dampaknya. Meskipun aku sangat yakin dan mempercayai putraku, jika dia memukuli temannya karena mempunyai alasan yang kuat. Charlie tidak akan bersikap buruk seperti itu jika tidak ada alasannya."
Charlie menunduk, dia sudah merahasiakan insiden itu dari Ayahnya tapi ternyata kakek jahat nya malah mempunyai rekamannya.
"Ayo kita bernegosiasi, Tuan besar Glad--win," Vicenzo menggertakan giginya bahkan kini dia sudah tak sudi lagi memanggil lelaki di depannya dengan panggilan Papa.
"Hm, bernegosiasi?" Tuan besar mengangkat sebelah alisnya. "Kamu mempunyai sesuatu yang bisa ditawarkan padaku?" ejeknya.
"Zayn! Lepaskan tangannya!" wajah Vicenzo penuh rasa ji jik pada Tuan besar Gladwin. "Ayo ke ruanganku! Sebelum kita selesai bernegosiasi jangan pernah seujung rambut pun menyentuh Xavi dan anak-anakku!"
Sebelum keluar Vicenzo memapah tubuh lemas Xaviera ke arah sofa, dia mengelus ngelus lengan wanita itu. "Xavi... kamu bukan wanita lemah, aku tau itu. Jadi kuatlah, ingat ketiga anak kita. Mulai sekarang apapun kesepakatanku dengan manusia monster itu, ingatlah hatiku hanya untukmu."
Kepala lemah Xavi terangkat, mata lemah wanita itu seketika menjadi penuh tekad. "Aku wanita kuat, Vic. Jadi, jangan lepaskan iblis yang menyerupai manusia itu! Apapun keputusanmu, aku akan melindungi ketiga anakku."
Vicenzo tersenyum, ia mengelus pipi wanita yang terlihat seperti dewi perang di matanya sekarang. "Percayalah padaku."
__ADS_1
Lelaki itu mengecup kening wanita yang sangat dicintainya, meskipun dia belum pasti langkah apa yang akan diambilnya tapi setidaknya Ibu dari anak-anaknya harus berani dan tidak kabur seperti 6 tahun silam.
Sekitar dua jam Vicenzo berdebat dan bernegosiasi dengan iblis yang menamai dirinya Ayah. Suara keras saling menyerang terdengar, tapi tiba-tiba hening lalu tak lama keduanya keluar dari ruang kerja Vicenzo.
"Zayn, tolong bawa nyonyamu ke ruangan pribadi Ayahku. Biarkan anak-anak tidur dan bersiaplah kita akan menjemput Charles."
Zayn tidak tau kesepakatan apa yang terjalin antara Tuan mudanya dan Tuan besar, dia hanya menuruti perintah lalu berjalan ke kamar Caitlin untuk membawa satu-satunya Nyonya yang diakui sang Tuan muda.
Xaviera mengangguk menurut, dia mengecup kening kedua anaknya bergantian. "Mommy harus menemui Daddy kalian, tapi Mommy janji kali ini Mommy tidak akan pernah melepaskan kalian pada monster itu."
Xaviera hanya tersenyum haru, ia mengecup pipi putrinya lalu pergi dari kamar itu.
Tok Tok Tok !
Pintu terbuka dari dalam, Xaviera melangkah kakinya dengan tidak gamang. Ia menatap berani pada Tuan besar kediaman Gladwin yang sedang duduk dengan arogan di kursi kebesarannya.
"Mendekatlah padaku, Xavi." Vicenzo tersenyum meskipun terdapat kegamangan dalam suaranya.
__ADS_1
Xaviera mendekat ke sofa yang diduduki Ayah kandung dari ketiga anak kembarnya, menatap intens mata lelaki itu.
"Xavi, ayo menikah."
Baru saja wanita itu mendaratkan tubuhnya di atas sofa, lamaran secara tiba-tiba itu mengagetkannya.
"Kau gila?"
"Tidak, aku serius. Kami sudah mencapai kesepakatan, aku akan menuruti semua keinginan lelaki monster ini asalkan dia menyetujui kamu menjadi istriku dan melepaskan Charles dan Charlie. Kita bisa hidup bersama-sama disini menjadi satu keluarga."
Mata bening Xaviera menatap tak percaya pada Vicenzo, "Lalu, apa balasanmu untuknya Vic?"
Vicenzo terdiam lama, lalu dia menghembuskan nafas pelan. "Aku harus menyetujui menikahi putri dari keluarga Lincoln, setelah aku menceraikan Anetta... aku--" ucapannya terhenti.
Lelaki itu menatap nanar pada Xaviera, "Aku akan menikahi kalian berdua sekaligus dan mempunyai dua istri."
"Hahhh..!!??"
__ADS_1