
All, meskipun bacaannya Tamat tapi aku masih Up ya cuma nggak rutin tiap hari. 🤭🙏🏻
.
.
.
Deliyah semakin memundurkan tubuhnya, sudut matanya menatap ke arah ranjang.
Xavi mengikuti arah tatapan Deliyah, instingnya mengatakan perempuan di depannya menyembunyikan sesuatu disana. Dia melewati Deliyah melangkah ke arah ranjang.
Srettt !
Ia menarik selimut Deliyah, disana gaun malam miliknya disembunyikan. Xavi mengambil gaun malamnya, lalu berbalik mendekati Deliyah. "Apa ini? Untuk apa kau mencuri gaun tidurku?"
"A-aku tidak tau apa yang kau katakan!" Deliyah menggeleng, dia tadinya ingin menjebak Vicenzo dengan berpura-pura sebagai Xavi memakai gaun tidur wanita itu. Tadi dia masuk ke kamar Xavi karena melihat Vicenzo pergi, dia sudah mengantongi kunci duplikat. Dia kira Xavi sudah tidur tapi ternyata wanita itu sedang mandi, akhirnya ia mengambil gaun tidur Xavi dan akan merencanakan sesuatu saat Vicenzo pulang. Sekarang tak disangka, baru saja dia melakukan aksinya di awal malah sudah ketahuan.
"Deliyah, aku tau apa yang sedang kamu pikirkan dan rencanakan. Tapi, aku akan katakan ini karena melihatmu sangat polos. Selama ini aku bersikap cuek padamu karena masih menghormatimu dan menganggapmu wanita elegan dari keluarga baik. Kau tidak seperti Aneeta, kalian jauh berbeda bahkan dalam cara berbicara. Jadi, apapun yang akan kamu lakukan untuk memperdayai Vicenzo.... Jangan lakukan. Kali ini aku masih berbicara baik padamu, tapi tidak ada lain kali. Ahhh... satu lagi. Kamu memang istri Vicenzo sama sepertiku, tapi lebih baik kamu mundur."
Setelah mengatakannya, Xavi pergi dari kamar Deliyah dengan membawa gaun tidur di tangannya.
"Huh! Aku bodoh! Kenapa rencanaku tidak satu pun berjalan dengan lancar? Aku sudah tidak sabar menunggu rencana Kak Lionel!"
__ADS_1
Tapi saat memikirkan perkataan Xavi tentang dirinya, tiba-tiba ia merasa ragu ingin menyakiti wanita itu.
***
Di sebuah ruangan gelap, Vicenzo berjalan dengan perlahan ingin menakuti seseorang yang berada disana.
Tap ! Tap ! Tap !
Suara nyaring langkah kaki Vicenzo membuat orang yang terikat di sebuah kursi ketakutan. Ia tau siapa yang datang, bahkan ia sudah dipukuli sebelum kedatangan Vicenzo.
"Tuan Vicenzo, lepaskan saya. Kaki saya sepertinya patah, ini sangat sakit tapi tidak bisa digerakkan," ucap orang itu.
Pats! Lampu menyala.
"Tuan, saya hanya orang suruhan...."
"Diam! Aku tau pekerjaan sebenarnya Tuan-mu Lionel! Dia berwajah malaikat, baik, sopan tapi sebenarnya dia pemilik club-club malam dan prostitusi di beberapa negara. Banyak lagi kegiatan ilegal lainnya, aku tau itu."
Anak buah Lionel menunduk, dia akhirnya tak bicara lagi.
"Kau harus menuruti keinginanku atau anak laki-lakimu yang masih sekolah akan aku--"
"Tidak! Jangan sentuh putraku, Tuan. Aku berjanji akan menuruti Anda," jawab orang itu ketakutan.
__ADS_1
Padahal Vicenzo hanya menggertak, ia juga mempunyai anak mana tega dirinya menyakiti anak-anak. "Bagus. Billy akan mengobatimu, selama kamu dikurung jangan melakukan hal yang akan membuatku marah, mengerti?"
"Ya, Tuan."
"Jaga dia baik-baik," ujar Vicenzo pada Billy.
"Ya, Tuan. Ada satu hal lagi, Tuan."
"Ada apa?"
"Hari ini seorang pria bertemu dengan Nyonya Deliyah, saya sudah mencari data informasinya. Pria itu bernama Brandon, ternyata dia mempunyai hubungan keluarga dengan Dokter Felix."
"Brandon? Dokter Felix... Hm. Apa Dokter Felix masih menjadi relawan?"
"Ya, Tuan."
"Brandon ini teman Deliyah?"
"Ya, Tuan. Mereka cukup akrab, tapi tidak ada informasi tentang kedekatan lebih dari sekadar teman."
"Tetap suruh yang lain mengikuti orang-orang itu, laporkan setiap pergerakan mencurigakan mereka. Aku pergi."
Vicenzo keluar dari ruangan penyekapan, membawa mobilnya untuk kembali ke Mansion. Saat memasuki kamar Ia mengira Xavi sudah tidur lebih dulu tapi ternyata istrinya sedang berdiri di depan jendela kamar memandang kegelapan malam diuar sana seperti sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1