
Bab.7
Di sebuah Restoran mewah yang khusus di pesan Vicenzo untuk melamar Anetta, terlihat pria berusia 29 tahun itu sangat tampan dengan jas bordir buatan tangan menempel di tubuhnya. Jas buatan seorang desainer terkenal, pria itu sedang duduk dengan gelisah. Sudah 5 tahun lebih dia bertunangan dengan wanita dari keluarga Ansell, tapi entah kenapa perasaan sukanya pada Anetta tak bisa bertumbuh dan hanya sebatas sayang hatinya tak bisa mencintai wanita itu.
Kini dia memutuskan akan segera menikahi Anetta, mungkin dengan menikah dia bisa perlahan mencintai wanita itu.
"Vic..."
Vicenzo menarik diri dari lamunan nya, dia melebarkan senyuman nya. "Sayang, kamu sudah datang."
Anetta tersenyum manis bak bidadari di depan lelaki pewaris satu-satunya keluarga Gladwin, kedua saudara Vicenzo adalah perempuan apalagi satu saudara perempuan nya hanyalah satu Ibu. Ia mendekati Vicenzo lalu memeluk dan mencium bibir pria itu. "Apa kamu menungguku lama?" wanita sok polos dan sok lugu itu bicara dengan suara lembut yang dibuat-buatnya.
"Tidak apa-apa, ayo duduk," pria itu menarik kursi ke belakang saat Anetta akan duduk dia mendorong kursi sedikit ke depan.
Vicenzo memperlakukan Anetta bak seorang Putri, wanita itu terlalu lembut pada semua orang. Bahkan sering melakukan amal dan memberikan sumbangan ke panti-panti sosial. Itu lah yang ia sukai dari Anetta, bukan hanya cantik dan berpendidikan tapi juga hati wanita itu sangat cantik. Hanya saja, hatinya tetap belum bisa mencintai wanita itu.
Setelah duduk, Vicenzo menjetikkan jarinya. Seorang staff Restoran membawa semua hidangan pembuka. Setelah itu mereka makan hidangan utama lalu hidangan penutup.
Saat hidangan penutup sekali lagi Vicenzo menjetikkan jarinya, iringan musik biola yang sangat romantis terdengar.
Vicenzo bangun dari duduknya, berlutut di depan Anetta dengan menekuk sebelah kakinya. "Maukah kamu menikah denganku, Anetta Ansell?"
"Akhhhh, Vicenzo!" Anetta berteriak saking bahagianya. " Yes, aku mau! Aku mau!"
__ADS_1
Vicenzo berdiri dari berlutut nya, dia menarik lembut wajah Anetta lalu mencium nya. "Terima kasih."
Esok harinya berita lamaran dan pernikahan tentang mereka berdua tersebar dimana-mana, waktu pernikahan hanya tinggal 2 minggu lagi.
Di sebuah Apartemen, seorang lelaki mabuk-mabukan saat mendengar tentang lamaran itu, "Hahhh... Anetta sayang... suatu hari kau pasti akan menyesal telah menyia-nyiakan cintaku untukmu... Vicenzo tidak akan bisa menerima mu saat tau kebenaran tentang kita, a-aku bahkan selama ini selalu diam tentang masa lalu kita... kau pernah berkata kau sangat mencintaiku tapi kini kau benar-benar akan menikah dengan sepupu begoku itu... Hahaha ya! Sepupu bodoh, dia tidak tau wanita yang akan dia nikahi sudah tak suci lagi, aku adalah pria pertama Anetta, kami dulu adalah sepasang kekasih... Brengsek kau Vic! Hanya karena kau lebih segalanya dariku, Ayah Anetta memisahkan kami! Arghthttt!" pria frustasi itu meringkuk dengan menyedihkan.
***
Tok Tok Tok.
Xaviera sedang menyiapkan bekal untuk ketiga anak kembarnya, ia mengkerutkan keningnya merasa aneh pagi-pagi ada yang mengetuk rumah sewanya.
Ia berjalan ke pintu depan.
"Xavi... ini benar kamu. Papa kemarin melihatmu di depan laundry, awalnya Papa ragu tapi akhirnya Papa memberanikan diri meminta alamatmu pada orang yang bekerja disana. Ternyata benar, ini kamu. Nak." Papa tiri Xaviera begitu merasa senang bahkan suara tuanya bergetar karena terharu.
"Papa..."
"Kenapa tidak pulang ke rumah? Kata para pegawai disana kamu sudah bekerja selama 7 bulan disana. Kenapa tidak pulang? Kamu bilang jika kembali ke kota ini, kamu akan pulang ke rumah," Papa tirinya terus bicara.
"Mommy, siapa kakek ini?" tanya Charles.
"Mo-mommy? Xavi, kamu?" sang Papa tiri, Andreas sangat terkejut.
__ADS_1
"Mommy, siapa kakek ini?" tanya Charlie dan Caitlin.
"Tiga?! Ahhh, jantungku." Andreas memegang dada nya.
"Papa!" Xaviera memegang tubuh Papa tirinya yang goyang membawanya agar duduk di kursi kecil disana.
"Jadi, dia kakek kami Mom?" tanya si kembar berbarengan.
"Ya, ini kakek kalian. Panggil Kakek dan beri salam."
"Kakek, halo. Namaku Charlie, aku paling tua."
"Kakek, namaku Caitlin aku hanya beda 2 menit dari Charlie."
"Namaku Charles, aku beda 2 jam dari kedua kakakku makanya tubuhku paling kecil dan aku sering sakit-sakitan. Aku sering membuat Mommy kelelahan karena mengurusku, setelah besar aku akan menjadi orang sukses agar Mommy tak capek bekerja."
Andreas menatap ketiga anak Xaviera, dalam hatinya ia masih menyimpan beban berat. Tapi untuk melindungi putri kandungnya, dia bahkan tidak pernah jujur siapa sebenarnya penabrak Ayah kandung Xaviera. Bukan hanya itu, saat putra brengsek nya mengaku dirayu oleh Xaviera tapi karena putri kandungnya Anna mengancam akan masuk penjara saja jika dia menolong Xaviera saat diusir dari rumah. Putrinya mengancam karena teman putrinya itu adalah seorang anak dari orang berkuasa yang menabrak Ayah kandung Xaviera, saat tabrak lari itu terjadi putri kandungnya itu ada di dalam mobil teman nya. Jika si penabrak itu di penjara maka Anna pasti akan ikut dipenjara juga, karena itu sampai saat ini hatinya sangat berat pada Xaviera. Dia hanya memberikan peninggalan bukti-bukti dan saksi tapi tidak mengatakan jika Anna adalah saksi kunci.
"Peluk Kakek, namaku Andreas. Panggil Kakek Andreas, karena kakek kandung kalian sudah di surga."
"Kakek Andreas!"
Ketiga anak kembar itu berlari memeluk Andreas, pria tua itu memeluk mereka bertiga sambil menangis.
__ADS_1