One Night Stand And 1000 Dollar

One Night Stand And 1000 Dollar
Ada Apa Dengan Ketiga Wanita Cantik Ini?


__ADS_3

Xaviera mengikuti Deliyah masuk ke dalam kamar wanita itu, sedikit panasaran apa hal yang ingin dibicarakan.


"Wajahmu tegang, Xavi. Hei! Aku tidak ingin mengatakan apa-apa, ayo masuk," Deliyah menggeleng seraya tersenyum.


"Kamu sangat cantik saat tersenyum seperti ini, Deliyah," puji Xavi.


"Aku tau, aku memang sangat cantik bahkan lebih cantik darimu. Lebih muda, lebih fresh. Ahh... Tapi sayang, mata Vicenzo buta padaku dan hanya mengakui kecantikanmu, ckckk..." gurau Deliyah.


Xavi akhirnya tersenyum, "Aku tidak salah menilaimu, kau selalu bicara blak-blakan. Itu pesonamu, Deliyah. Aku tadi mendengar pembicaraanmu dengan Vicenzo, suatu hari kamu akan mendapatkan lelaki yang mencintaimu."


"Yah, mungkin."


Tok ! Tok ! Tok !


Pintu terbuka, Mama Vicenzo berjalan masuk, " Bibi dengar kamu ingin berpisah dari Vicenzo?"


"Ya, Bibi. Aku mengerti kenapa Bibi sejak awal berkata padaku jika Bibi tidak akan membantuku, karena Bibi tau hati Vicenzo hanya untuk Xavi. Iya, kan?"


Mama Vicenzo mengangguk, "Bibi ingin bicara sebentar. Kemarilah kalian berdua," Nyonya besar Gladwin mengajak mereka duduk.


Ketiganya duduk di sofa, Mama Vicenzo menatap Xavi lalu Deliyah.

__ADS_1


"Deliyah, maafkan Bibi jika selama pernikahanmu dengan Vicenzo Bibi tidak berbuat apapun. Tapi seperti kata bibi padamu, semua hal yang akan kamu lakukan akan sia-sia. Dan kamu Xavi... tetaplah berada di samping Vicenzo. Mengenai suamiku, tak akan lama lagi dia akan mendapatkan ganjarannya. Aku sudah bertahan sejak lama dengannya, karena putriku dari suamiku terdahulu. Suamiku selalu mengancamku dengan nyawa putriku, tapi seiringnya waktu akhirnya aku hanya pasrah akan kehidupanku. Tapi kamu berbeda Xavi, aku pernah bilang kamu wanita kuat. Apapun yang terjadi ke depannya, jangan lepaskan tangan putraku."


"Baik, Mama. Terima kasih selama ini Mama menjaga kedua anakku," Xavi tersenyum.


"Xavi, sebelum aku pulang ke rumah orang tuaku ayo berbelanja. Bibi, yuk ikut..."


"Baik, mari kita berbelanja bersama untuk pertama kalinya," Mama Vicenzo mengiyakan.


"Yuk," Xavi pun ikut mengiyakan.


Mereka bertiga masih tersenyum saat keluar dari kamar Deliyah, kening Vicenzo mengerut menatap tak percaya apa yang sedang dilihatnya. "Ada apa ini? Ada apa dengan ketiga wanita cantik ini?"


"Kamu memanggilku cantik, Vic? Wah, mantan suami kurang ajar! Sejak kenal dan menikah baru kali ini kau memujiku, apa sekarang kamu menyesal karena akan berpisah denganku? Ckckk..." canda Deliyah.


"Aku hanya bercanda! Astaga! Xavi, aku tidak akan pernah menyesal dengan keputusanku berpisah, suamimu tidak bisa aku tangani!" Deliyah menggeleng pasrah.


"Sudah, Vic kami mau berbelanja bersama hari ini. Kamu berangkat lah ke Perusahaan, baru nanti menjemput Deliyah untuk membawanya pulang ke rumah orang tuanya," ucap Mama Vicenzo.


"Baik, Mah. Aku pergi. Sayang, aku pergi. Jaga dirimu," Vicenzo maju mendekati Xavi mengecup pelipis istrinya lembut.


"Aku iri! hhhh..." dessah Deliyah memutar bola matanya dibuat - buat.

__ADS_1


"Hati - hati, Vic," ujar Xavi.


Vicenzo tersenyum lega akhirnya satu masalah telah selesai, ia pergi dengan hati tenang.


Tak lama ketiga wanita itu sudah berada di dalam pusat perbelanjaan, memilih dress dewasa dan pakaian untuk anak - anak.


"Xavi, lihat! Dress cantik ini sepertinya bagus untuk Caitlin, aku berhutang banyak pada putrimu. Aku selalu mengutukinya karena terlalu pintar menjaga Daddy-nya! hihi..." Deliyah seketika geli mengingat lagi selama setahun mendekati Vicenzo, ada saja kelakuan dari Caitlin yang mengganggunya. Jika di ingat - ingat lagi gadis kecil itu ternyata sedang menjaga Vicenzo darinya.


"Apa Caitlin sangat mengganggumu selama ini?" tanya Xavi.


"Sangat, tanya saja Bibi. Pernah satu kali gaunku bahkan sobek karena kejahilan putrimu, tapi setelahnya Caitlin selalu berpura - pura polos dan mengatakan tidak sengaja. Xavi, hati-hati dengan putrimu. Dia sebenarnya anak pintar dan tidak terlihat lugu seperti di permukaan, kau akan kesusahan dengan sifat liarnya setelah dia dewasa. Hahaha..."


"Haha..." Xavi hanya ikut tertawa karena sebenarnya ia juga sudah mengetahui sifat putrinya itu.


Setelah dua jam berputar - putar di dalam pusat perbelanjaan, ketiga wanita itu memutuskan untuk pulang. Para pengawal berada di belakang ketiganya.


Saat berjalan menuju pintu keluar, tiba - tiba mata Deliyah melihat seseorang yang berjalan dari arah berlawanan memakai topi bisbol dengan masker menutupi wajahnya menggenggam belati di tangannya. Mata orang itu menatap penuh benci pada Xavi, ia ingin berteriak tapi terlambat orang itu sudah bersiap menusuk Xavi.


"Argghhtt..." Deliyah meringis kesakitan, ia memeluk tubuh Xavi menghalangi belati dengan tubuhnya.


"Deliyah!"

__ADS_1


Para pengawal segera meringkus orang yang menusuk Deliyah, membuka topi bisbol dan masker yang menutupi wajahnya. Ternyata itu Aneeta.


__ADS_2