
Bab.17
Anderson berjalan setengah berlari menuju kamar rawat tunangan Tuan-nya.
"Nyonya, saya ingin bicara dengan Tuan muda Vicenzo."
Mama Anetta melirik wajah panik si pengawal, "Kenapa wajahmu panik? Apa wanita dan anak-anaknya itu sudah pergi?"
Anderson hanya diam.
"Jawab!" bentak si Nyonya.
"Baru saja pergi, Nyonya."
"Kalau begitu, jangan katakan apapun pada Tuan-mu. Kau tidak lihat putriku juga terbaring sakit di dalam, jika Vicenzo pergi lalu penyakit putriku lebih parah lagi itu akan menjadi tanggung jawabmu. Apa kau bisa menanggung nya jika sakit putriku lebih parah?!" Mama Anetta menakuti-nakuti si pengawal.
Anderson menatap pintu kamar rawat lalu akhirnya mengangguk, "Saya akan menunggu Tuan mengetahuinya sendiri."
Bibir Mama Anetta tersenyum puas. "Sekarang pergilah!"
"Baik, Nyonya." Anderson pun pergi dari sana.
Tengah malam Vicenzo terbangun, dia menatap ke sekeliling ternyata saat menemani Anetta dia ketiduran. "Anak-anak..." lirihnya teringat.
__ADS_1
Lelaki itu bangun dari sofa kamar rawat Anetta, dia melihat tunangan nya masih tertidur. Mama Anetta juga ada disana, dia bergerak keluar kamar dengan perlahan membuka pintu lalu menutupnya pelan.
Dia tak melihat Papa Anetta diluar, dengan langkah lebar dia berjalan ke kamar rawat Charles. Dia melihat Anderson sedang berdiri diluar pintu dengan wajah tegang.
"Apa terjadi sesuatu? Kenapa wajahmu tegang?"
"Nyonya dan anak-anak sudah pergi, Tuan muda aku--"
"Apa?!" Vicenzo mendorong pintu kamar dengan keras, dia melangkah masuk menatap sekeliling kamar yang kosong. "ANDERSON!!!"
Anderson menghela nafas pasrah, dia pasti dimarahi. "Ya, Tuan muda."
Bugh!
"Aku sudah menitipkan mereka padamu! Kau--" Vicenzo menarik nafas mengatur emosinya. "Cepat cari alamat wanita itu secepatnya!"
"Saya sudah mencarinya, Tuan."
"Ternyata otakmu masih bisa kamu gunakan, bawa aku kesana!"
"Hasil test DNA juga sudah keluar, sesuai permintaan Anda ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat," Anderson menyodorkan hasil test di tangan nya pada sang Tuan majikan.
Vicenzo dengan tak sabar menyobek, netranya tertuju pada hasil test. DNA cocok, dia adalah Ayah biologis dari anak-anak itu. Tiba-tiba bibirnya tersenyum senang, "Ayo pergi."
__ADS_1
Di dalam mobil Vicenzo tak henti-hentinya tersenyum lebar, tak menyangka ternyata mengetahui dia benar-benar seorang Ayah begitu membuatnya bahagia. Dia lalu menanyakan pada Anderson kenapa pengawal pribadinya itu tak memberitahunya saat Xaviera dan ketiga anak itu pergi.
"Nyonya besar Ansell melarangku, Tuan muda. Kata Nyonya aku harus bertanggung jawab jika saat Anda pergi meninggalkan Nona Anetta membuat penyakit Nona muda Anetta akan semakin parah. Maaf, Tuan."
"Hahhhh... " Vicenzo memijit kepalanya, di satu sisi ada tunangan nya apalagi Anetta adalah pilihan orang tuanya, di sisi lain ada wanita yang telah dia nodai dengan paksa bahkan sudah melahirkan ketiga anaknya dan merawat anak-anaknya dengan bersusah payah.
Drrrttttt Drtttttt.
Vicenzo mengangkat panggilan dari sang Papa, " Iya, Pah?"
"Kata Dokter test DNA sudah keluar, apa hasilnya?"
"Cocok Pah, kami Ayah dan anak."
"Hm, bawa ketiga anak-anak itu. Bagaimana pun mereka adalah bibit calon pewarismu, keturunan Gladwin. Tapi Papa takkan pernah menerima Ibu mereka, kau harus tetap menikah dengan Anetta. Paham!"
Vicenzo tak menjawab, "Aku tutup, Pah."
"Vicenzo! Kau harus menuruti Papa! Jangan berbuat hal yang Papa larang atau kau akan tau akibatnya!"
Tutttt.
Vicenzo mengeratkan genggaman pada ponselnya, hatinya saja sedang kebingungan sekarang Papa-nya memberikan perintah yang membuatnya tambah pusing. Bagaimana mungkin dia bisa memisahkan anak-anaknya dari Ibu kandung mereka?!
__ADS_1
"Sial!"