
Wajah Xavi bersemu merah seperti gadis remaja kembali, terlihat sangat segar saat pagi hari di meja makan. Bahkan selalu genit pada Vicenzo dan sesekali tertawa terkikik, ia sedang jatuh cinta pada suaminya.
"Vic, aku mau omelet," ujar Xavi.
"Siap, Nyonya Vicenzo."
"Vic, aku ingin jus-nya."
"Oke, sayang."
"Vic, suapi aku."
"Dengan senang hati."
Sejak bangun tidur, Vicenzo benar-benar memperlakukan Xavi bak seorang ratu. Semua yang istrinya butuhkan ia akan segera menyiapkan dengan kedua tangannya sendiri tanpa meminta bantuan para pelayan. Dari menyiapkan air mandi istrinya, mengeringkan rambut, menyiapkan gaun pagi bahkan kini di meja makan dengan hati gembira Vicenzo melakukannya.
Ketiga anaknya ingin tertawa tapi mereka akhirnya hanya terkikik, Caitlin mendekat ke arah Charlie dan Charles, "Mommy sedang jatuh cinta pada Daddy, ini benar-benar perasaan sesungguhnya Mommy. Ayo bantu Mommy dan Daddy agar romantis, kita jangan menyusahkan mereka... mengerti?"
Charles dan Charlie mengangguk.
__ADS_1
Deliyah menatap kemesraan Xavi dan Vicenzo dengan tatapan baru, setelah Xavi memperingati nya semalam dan mengatakan jika ia berbeda dengan Aneeta wanita bermuka dua itu akhirnya ia mempunyai pandangan baru pada Xavi. Ia juga mengakui jika Xavi, wanita yang menjadi istri pertama dari suaminya itu adalah wanita yang baik dan bijak. Selama ini Xavi tidak pernah dengan sengaja menyakitinya, bahkan ia lah yang selalu sengaja memancing. Wanita hebat seperti itu menjadi istri lelaki yang dikaguminya, entah kenapa tiba-tiba ia merasa lega.
"Vic, bisakah kita bicara nanti? Aku ingin mengatakan sesuatu."
Vicenzo menyadari nada suara Deliyah tidak ada lagi arogan, tidak lagi memancing, atau pun merayu dirinya. Suara Deliyah terdengar serius dan pasrah.
"Tentu, setelah sarapan tunggu aku di ruangan kerjaku," Vicenzo mengangguk.
Tuan besar Gladwin menatap curiga pada Deliyah, tapi ia tidak bisa menebak apa yang ingin dikatakan menantunya itu.
Saat membuka pintu ruang kerjanya, Vicenzo melihat wajah Deliyah menunduk. "Aku datang."
Vicenzo duduk di seberang sofa tempat Deliyah duduk, menumpuk kedua kakinya. "Ada apa?"
"Kamu tidak sibuk 'kan di Perusahaan? Aku tidak mengganggu?"
"Tidak, katakan langsung jangan bertele-tele."
Deliyah menggigit bibirnya, tapi ia sudah pasti dengan keputusannya. "Ayo berpisah, Vic."
__ADS_1
Mata Vicenzo membelalak terkejut, selama ini ia memang berencana agar Deliyah mundur sendiri dari pernikahan agar orang tua wanita itu bisa menerima jika putrinya yang meminta. Dia hanya tidak ingin mendapatkan musuh baru yang akan membahayakan Xavi dan anak-anaknya.
"Kamu serius?" Vicenzo masih tidak bisa mempercayainya.
"Iya. Aku sudah sadar sekarang, Vic. Jika sampai kapanpun aku tidak bisa mendapatkan hatimu, sudah sejak lama hatimu dimiliki Xavi. Saat kamu menikah dengan Aneeta, aku masih mempunyai harapan melihat kalian yang tidak akur. Karena itu aku setiap hari datang kesini, mencari perhatian darimu. Tapi, ternyata semuanya sia-sia," Deliyah tersenyum lemah.
"Deliyah..."
"Tidak apa-apa, Vic. Ayo kita segera berpisah, aku tidak akan mengganggumu lagi."
Vicenzo akhirnya mengangguk, "Aku akan mengembalikanmu pada orang tuamu, setidaknya itu yang bisa aku lakukan untukmu dalam pernikahan kita."
Deliyah tersenyum, senyuman lega dan menerima. "Aku akan mengepak barang-barangku."
Deliyah bangun dari duduknya, ia berjalan membuka pintu. Diluar dia bersinggungan dengan Xavi, "Ayo bicara."
Xavi melihat suaminya juga keluar dari ruang kerja, Vicenzo mengangguk padanya.
"Baiklah." Xavi mengikuti Deliyah ke arah kamar wanita itu.
__ADS_1
Vicenzo tidak tahu apa yang membuat Deliyah dengan cepat berubah pikiran dan sikap, tapi setidaknya satu rintangan telah terlewati tanpa ada darah yang keluar.