
Bab.34
Xaviera masuk kembali ke dalam ruang ballroom mencari tempat duduknya bersama Lionel tadi, tapi ia tak menemukan lelaki itu dimana pun.
"Cantik, kamu mencariku?"
Suara Lionel dari arah belakangnya sedikit mengagetkannya, Xaviera menormalkan wajahnya ia lalu berlabalik. "Ah, ternyata kamu disini. Apa kamu juga dari kamar kecil?"
"Kamu salah, setiap detik aku selalu bersamamu Xavi. Apa kamu tidak melihatku di tas kecilmu, aku berubah menjadi kerdil dan masuk kesana sejak tadi... Mhueeee..."
"Xixixi... aha! Pantas saja tas tanganku jadi berat, ternyata karena kamu masuk kesana," Xaviera meladeni candaan Lionel sudah terbiasa akan ucapan pria itu yang terkadang terdengar konyol.
"Ayo duduk lagi, sebentar lagi pesta dimulai."
Xaviera mengikuti langkah Lionel kembali ke meja mereka di bagian belakang, meja di bagian depan terkhusus hanya bagi para tamu-tamu VVIP.
Di atap Vicenzo terduduk bersandar dinding pagar, tubuhnya bergetar menahan sakit. Ia menghubungi Zayn.
"Ya, Tuan muda?"
"Jemput aku di atap hotel. Kakiku sakit, bawa tongkatku."
"Baik, Tuan muda."
__ADS_1
"Suruh Billy memeriksa daftar tamu dan Cctv hotel, aku bertemu Xaviera. Dia menjadi tamu undangan pesta Deliyah, aku harus mendapatkan identitas lelaki yang datang bersamanya. Juga alamat Xaviera sekarang, aku harus mengikutinya saat dia pulang nanti."
"Saya akan segera datang bersama Billy."
Tutttttt.
"Arhgght, hahhhh..." Vicenzo menutup matanya, tangannya terus memijit kakinya yang kesakitan.
Di kediaman Gladwin setelah menerima telepon, Zayn kembali ke kamar Caitlin, sekarang dia adalah pengawal pribadi si kembar.
"Ada apa, Zayn? Daddy meneleponmu?" wajah Caitlin kesal, dia sedang bersenang-senang dengan pengawal pribadinya itu mereka sedang memainkan game di dalam gadget.
"Ya, Nona. Tuan kesakitan lagi, saya harus membawa tongkat Tuan dari kamarnya ke hotel."
"Sepertinya iya, jadi saya harus segera pergi. Anda akan baik-baik saja tanpa saya, Nona?"
"Tentu saja aku tidak akan baik-baik saja tanpamu, Zayn. Kamu tau aku menyukaimu dan ingin terus bersamamu. Tapi untuk kali ini, pergilah!" oceh gadis kecil berusia 10 tahun itu.
Zayn sudah tak aneh lagi mendengar ucapan tentang perasaan Nona mudanya padanya, selama ini ia hanya menganggap ocehan gadis kecil itu sebagai lelucon jadi selalu membiarkannya.
"Kalau begitu saya pergi, saya akan meminta Tuan muda kecil Charlie datang kesini agar menemani Anda, Nona."
"Pergilah, bawa Daddy dan cepat kembali. Jika tak melihatmu sebentar saja, aku akan merindukanmu calon suamiku," oceh Caitlin kembali.
__ADS_1
Zayn hanya menghembuskan nafas sabar, "Baik, Nona."
"Emuachhhh, baybay calon suamiku..."
Zayn tak meladeni lagi Nona majikan kecilnya, dia membalikkan badan berjalan pergi dari dalam kamar megah sang Nona.
Di hotel Zayn berlari membawa tongkat majikan Tuan mudanya, keningnya mengerenyit melihat wajah kesakitan Tuan-nya.
"Kenapa bisa sakit lagi, Tuan?" Zayn menyodorkan tongkat.
"Entahlah, tadi baik-baik saja." Vicenzo menerima tongkat lalu berusaha bangun dibantu Zayn.
"Dokter pernah mengatakan itu karena psikis Anda, apa Anda bertengkar dengan Nyonya Xaviera?"
"Bukan urusanmu, apa Billy sudah mulai memeriksa sesuai perintahku?"
"Sudah, Tuan. Sekarang Anda ingin kemana?"
"Ke mobil, aku tidak ingin kembali ke ruangan. Aku akan menunggu Xaviera keluar, kita buntuti dia."
"Baik, ayo pergi. Saya bantu."
"Tidak usah, aku bisa berjalan sendiri memakai tongkatku," tolak Vicenzo ia mulai menekan tongkatnya ke lantai lalu melangkahkan kaki kirinya itu terasa menyakitkan tapi ia bertahan tak ingin terlihat manja. Ia akan membuktikan pada Xaviera bahwa dia bukan lelaki seperti dulu yang tidak bisa melawan Ayahnya.
__ADS_1