
Pagi-pagi sekali Lionel datang ke kediaman Gladwin, dia ikut duduk sarapan disana.
"Kamu tidak ada kerjaan, Tuan Lionel?" sindir Vicenzo.
"Aku hanya ingin memeriksa adikku, apa malam pengantinnya baik-baik saja," Lionel hanya mengedikkan bahu tak perduli.
"Tentu saja tidak baik-baik saja, semalaman aku dan Xavi yang menjadi pasangan pengantin romantis penuh dengan... kau tahu pasangan saling mencintai melawati malam panas mereka, bukan? Aku tidak perlu menjelaskannya," jawab Vicenzo cuek seakan masa bodoh dengan perasaan Deliyah atau pun Lionel.
"Tapi nanti malam adalah bagianku 'kan, suamiku?" Deliyah ternyata tidak terpengaruh, wanita itu malah tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya genit.
Xaviera lebih tidak perduli lagi, dia tidak memperdulikan tingkah istri lain suaminya itu.
"Mommy, bisakah nanti siang Mommy datang ke sekolahku bersama Daddy? Ada pertandingan rugbi, orang tua harus hadir," ujar Charlie.
"Oke, kami akan pergi. Iya 'kan, sayang?" Xavi mengelus lembut wajah tampan suaminya.
"Ya, nanti malam kita juga akan makan malam bersama dan menginap diluar. Bagaimana?" Vicenzo menatap mata cantik istrinya.
"Jika itu maumu, aku ikut saja," Xavi mulai menikmati interaksi mesra dengan suaminya, entah itu sandiwara atau nyata kini dia bahkan sudah tidak tahu lagi dan tidak perduli.
__ADS_1
"Vic, aku sedang berbicara denganmu. Bukankah nanti malam adalah bagianku bersamamu?" Kini tak ada lagi ketenangan dalam wajah Deliyah, mendengar Vicenzo akan keluar rumah seharian sampai menginap diluar membuatnya emosi.
"Ah, maaf istri keduaku. Tapi aku masih ingin berbulan madu dengan istri pertamaku, jadi bisakah kamu mengalah dan bersabar?" Vicenzo berbicara dengan nada santai seraya melirik Deliyah dari sudut matanya.
Deliyah menggertakan giginya, ia menatap tajam Xaviera ingin mencakar wajah bahagia wanita itu.
"Bibi, matamu jelek kalau melotot seperti itu. Pantas saja Daddy lebih memilih Mommy daripada Bibi," celetuk Caitlin tersentum jahil.
"Kau, anak kecil! Jaga mulutmu!"
"Deliyah..." Lionel menepuk lengan adiknya, mengedipkan matanya pelan.
"Oke, kita harus berangkat." Vicenzo bangun dari kursinya.
Xaviera ikut berdiri, menarik tissu di meja makan lalu mulai membersihkan sekitar mulut suaminya karena kotor bekas sarapan, "Hati-hati dan jika merindukanku, pulanglah."
Vicenzo tersenyum lebar, ia mengecup bibir Xavi di depan semua orang. "Tentu saja aku akan selalu merindukanmu, sayang. Bersiaplah, nanti siang kita ke sekolah anak-anak."
Xaviera mengangguk, mengecup pipi suaminya.
__ADS_1
Tiba-tiba tubuh Vicenzo tertarik berbalik ke belakang, ternyata Deliyah yang menariknya. Wanita itu sudah bersiap ingin mencium bibir Vicenzo, tapi sebuah telapak tangan menghalanginya.
"Bibi! Kau genit! Ayo Daddy!" Caitlin melepas telapak tangan dari bibir Ayahnya, lalu menarik lengan Vicenzo pergi dari sana.
Deliyah masih terbengong, saat tersadar semua orang sudah bubar. Xaviera menggeleng lalu beranjak pergi dari ruang makan.
"Hahhh! Jalanmu masih panjang untuk mendapatkan suamimu, Deliyah..." Lionel merangkul bahu adiknya membawanya pergi dari ruang makan.
Sepergi semua orang, wajah santai Tuan besar Gladwin seketika mengeras, tatapannya dingin.
Di dalam kamarnya, Deliyah menghancurkan setiap barang. "Aku akan menghancurkan kalian semua! Arghtttt!"
Lionel duduk di ambang jendela yang terbuka, menatap Xavi yang berada di kebun bunga. Matahari menerpa wajahnya, begitu cantik seakan mengundangnya untuk mengelus wajah wanita itu.
"Kakak! Kenapa kau tersenyum-senyum!" Deliyah sudah berada di samping kakaknya, tatapannya langsung tertuju pada saingan cintanya di bawah sana.
"Kalian para lelaki sama saja! Tidak bisa membedakan wanita cantik! Aku lebih cantik dan lebih muda dari wanita itu tapi Vicenzo lebih memperhatikannya!" Deliyah muak ia pergi menjauh dari jendela lalu melempar tubuhnya ke atas ranjang menangis dengan histeris.
Lionel mengalihkan tatapannya dari wajah Xavi di bawah sana, dia menatap adiknya yang menangis dengan begitu sedihnya. "Jangan khawatir, kakak sedang merencanakan sesuatu. Kamu pasti akan bersama Vicenzo tanpa Xaviera yang menjadi penghalang dalam hidup kalian."
__ADS_1