One Night Stand And 1000 Dollar

One Night Stand And 1000 Dollar
Satu Nyawa Memang Telah Terenggut.


__ADS_3

Vicenzo segera meninggalkan Perusahaan menuju rumah sakit, berlari melewati setiap lorong rumah sakit ingin segera cepat sampai. Saat membuka pintu kamar rawat, tatapannya langsung tertuju pada Xavi.


Vicenzo menarik tubuh istri kesayangannya lalu memeluknya, "Hhhhh... syukurlah kamu baik - baik saja... Hhh..." nafasnya ngos - ngosan.


"Aku baik - baik saja berkat Deliyah. Berterimakasih lah padanya," Xavi mengelus punggung suaminya menenangkan.


"Aku yang terluka, Xavi yang mendapat pelukan. Dunia sangat tidak adil..." ujar Deliyah tapi ia terkekeh geli.


Vicenzo maju mendekati Deliyah yang terbaring di ranjang, "Terima kasih dan maaf."


"Tidak apa - apa, ini hanya luka kecil," Deliyah tersenyum tapi sesekali ia meringis kesakitan. Untung saja tusukannya tidak dalam, mengenai punggung belakangnya.


"Deliyah !!" Lionel dan orang tua Deliyah menyerbu masuk.


"Mama, Papa, Kakak."


Mama Deliyah memeluk putrinya, wanita setengah baya itu terus saja menangis.


PLAKKK !!!


Papa Deliyah menampar Vicenzo, menarik jas menantunya dengan tarikan kuat, "Kau! Mana janjimu melindungi putriku saat mengucapkan ikrar! Lihat keadaan putriku! Dia malah melindungi istrimu yang lain!"


"Pah! Lepaskan Vicenzo, ini semua keinginanku. Selama ini Vicenzo tidak pernah menjanjikan apapun padaku. Kalian juga tau aku yang keras kepala dan ingin menikah dengannya, Vicenzo tidak bersalah sama sekali..." bela Deliyah.


Papa Deliyah melepaskan tarikan tangannya dari jas menantunya, ia mendekati ranjang tempat putrinya berbaring.


"Pah, Deliyah baik -baik saja. Tadi pagi Deliyah dan Vicenzo sudah sepakat akan berpisah, malah Vicenzo ingin mengantar dan mengembalikanku kembali pada kalian. Kami tidak pernah berhubungan seperti suami - istri, jadi kami sepakat untuk berpisah. Jangan marah, terima saja keinginanku... yah," Deliyah menarik tangan kedua orang tuanya menggenggamnya.

__ADS_1


Orang tua Deliyah saling bertatapan lalu menghela nafas pasrah, "Baiklah, kalau itu maumu 'nak."


Lionel menatap tidak percaya pada adik perempuannya, sejak awal adiknya sangat terobsesi ingin menikah dengan Vicenzo meskipun lelaki itu sudah mempunyai seorang istri bahkan adiknya itu masih menerima saat dijadikan istri tidak sah. Tapi... sekarang bahkan Deliyah malah melindungi Xavi.


Vicenzo melirik ke arah Lionel, tadinya ia ingin menghancurkan bisnis - bisnis lelaki itu dengan melapor pada pihak berwenang tapi kini ia menghormati Deliyah atas tindakannya menyelamatkan Xavi dan lebih baik bicara baik - baik pada Lionel.


"Lionel, ayo bicara," Vicenzo melepaskan pelukannya dari Xavi berjalan keluar ruangan rawat.


Lionel mengikuti Vicenzo keluar, ia menatap punggung rival cintanya dari belakang dengan perasaan tak menentu.


Langkah Vicenzo berhenti di tempat sepi, ia lalu duduk di bangku lorong, "Duduklah, sebaiknya kita bicara baik - baik."


Lionel duduk, dia menunggu apa yang ingin dibicarakan Vicenzo.


"Aku sudah menangkap anak buahmu, dia bilang kau merencanakan penculikan Xaviera dan akan membawanya ke luar negeri bahkan kau sudah menyiapkan identitas baru untuknya. Benar, 'kan?"


"Itu benar. Ternyata kamu sudah lebih baik Vic, tidak lagi bodoh dan tidak hati - hati seperti dulu. Aku sudah tau semua tentang ceritamu dan Xavi sejak awal, tentang pertentangan Ayahmu, pengusiran Xavi dan memisahkannya dari kedua anaknya. Xavi adalah penyelamatku, aku ingin dia aman dari Ayahmu. Selain ingin Deliyah bisa mendapatkanmu, aku juga ingin Xavi bahagia. Tapi melihat adikku melindungi Xavi, kini aku sadar semua langkahku ternyata salah. Jika aku merebut Xavi darimu tapi Xavi tidak bersedia bersamaku, bukankah itu akan sia - sia?" Lionel tersenyum miris.


"Lionel, kau benar. Dulu aku tidak bisa berbuat apapun. Bahkan saat Xavi kembali padaku, aku masih tidak bisa melawan Ayahku. Tapi--"


"Tuan Vicenzo," seorang polisi memotong ucapan Vicenzo.


Vicenzo berdiri, "Ya, saya."


"Saya ingin meminta Ibu dan istri Anda menjadi saksi. Dan Ibu Anda harus menjadi saksi dua perkara," ujar petugas polisi kembali.


"Dua kasus?" tanya Vicenzo.

__ADS_1


"Ya. Selain perkara penusukan oleh Nona Aneeta, Tuan besar Gladwin juga sudah diperiksa polisi. Tuan Carver sudah melaporkannya pada kami, atas kematian Tuan Andrew. Maaf, tapi Anda juga sudah menjadi tersangka, Ayah Anda mengatakan Anda lah yang menembak Tuan Andrew."


Lionel berdiri, ia menatap Vicenzo dengan perasaan campur aduk.


"Baik, saya akan ikut dengan Anda. Tapi pisahkan saya dengan Ibu dan istri saya, jangan sampai mereka tau saya menjadi tersangka," Vicenzo sudah siap karena sudah menduganya saat memberikan berkas tentang kematian Andrew pada Pamannya.


"Baik, Tuan," jawab petugas polisi.


"Vic, kamu?" Lionel mencekal lengan Vicenzo.


"Aku kembalikan Deliyah pada keluargamu, maafkan aku tidak bisa membahagiakan adikmu. Bisakah aku meminta tolong padamu, Lionel?"


"Tentu."


"Tolong bawa Papa Andreas ke Mansion milikku, lalu bawa Xavi dan ketiga anakku kesana. Telepon Zayn, dia akan membantumu."


"Lalu, apa yang harus aku katakan pada Xavi kalau dia menanyakanmu?" tanya Lionel.


"Katakan padanya aku masih menjadi saksi kunci, jangan katakan hal lain."


"Vic..." lirih Lionel.


"Sekali lagi maafkan aku, tolong sebentar saja jaga Xavi dan anak - anakku. Aku tau kamu mencintai Xavi, kamu pasti akan menjaganya dan tidak akan menyakitinya. Aku percaya padamu, Lionel."


Vicenzo menepuk pundak Lionel mempercayainya, lalu berbalik pada petugas polisi. "Mari, Pak."


Vicenzo pergi dari sana dengan di ikuti petugas polisi, pergi mendatangi hukuman atas kejahatannya. Bagaimana pun terlepas itu karena ketidak sengajaan tapi satu nyawa memang telah terenggut.

__ADS_1


__ADS_2