
Mobil sampai di sekolah, Xavi dan Vicenzo turun. Sekitar 2 jam pertandingan putranya, mereka akhirnya pergi dari sekolah.
"Anak-anak, kita akan makan di Mansion milik Daddy. Mau?" ujar Vicenzo.
"Mansion Daddy?" tanya Caitlin bersemangat.
Tadi dalam perjalanan ke sekolah, Vicenzo sudah menjelaskan semuanya pada Xavi. Tentang dia yang akan menghancurkan Perusahaan Ayahnya, juga tentang Perusahaan dan Mansionnya sendiri. Xavi tidak banyak bicara, hanya menyetujui apapun keputusannya.
"Bukan Mansion Daddy, tepatnya Mansion kalian anak-anak. Apa kalian senang kalau kita secepatnya pindah?"
"Kami senang, Dad. Apa Bibi genit akan ikut?" tanya Caitlin tak senang.
"Tentu saja tidak, dia akan tinggal bersama Tuan besar Gladwin dan Nenek kalian di Mansion. Daddy berjanji tidak akan mengajaknya."
"Jangan ingkari janji Daddy, aku tidak akan memaafkanmu, Dad!" Caitlin bersedekap dengan wajah mengintimidasi.
Vicenzo hanya tersenyum samar, "Sebelum pindah kalian harus bekerja sama dengan Daddy, jaga Mommy jika Daddy sedang tidak ada di Mansion."
"Oke," jawab ketiganya serempak.
Satu jam mereka makan di Mansion milik Vicenzo, saat perjalanan pulang Xavi mengingat teman-temannya dari kediaman kelurga Anetta dan ingin memperkerjakan mereka di Mansion Vicenzo.
__ADS_1
"Vic, bisakah kita mampir dulu ke kediaman Anetta? Aku ingin bertemu dengan teman-temanku yang berada disana," pinta Xavi.
"Teman-temanmu? Ahhh, aku baru ingat. Dulu Manajet laundry pernah menceritakan tentang mereka, maaf aku melupakan mereka dan tidak membantu," ujar Vicenzo penuh penyesalan.
Xavi hanya menepuk lengan suaminya seraya tersenyum.
Tak lama mobil berhenti di depan Mansion besar milik keluarga Anetta, tapi keramaian di depan kediaman itu membuat Xavi penasaran. Ia melihat kepala Nenek menunduk, teman-temannya bahkan sedang menangis sembari memeluk tas-tas mereka.
"Nenek! Ada apa?" Xavi tak sadar kedatangannya dengan pakaian seorang Nyonya dan penampilan yang berbeda akan mengagetkan mereka.
"Xavi ! Ini kamu?!" Nenek kepala tak menyangka akan melihat Xavi lagi sejak hilangnya Xavi 6 tahun lalu apalagi Xavi berubah menjadi wanita elegan.
"Iya, Nek. Ada apa? Apa yang terjadi?"
Sebelum Nenek kepala menjelaskan, Anetta yang berpenampilan acak-acakan dengan make up yang luntur mencoreng wajahnya karena basah oleh air mata, wanita itu berlari menghampiri Xavi dengan tongkat bisbol di tangannya. "Aku akan membunuhmu! Xavi! Aarggtttt! Wanita miskin yang tidak tau diri!"
Vicenzo berlari sekencang-kencangnya dari samping mobil menghampiri Xavi yang sedang berdiri di depan pintu, saat ayunan tongkat bisbol akan mengenai wajah Xavi tepat saat itu Vicenzo memeluk tubuh istrinya.
Bugh!
"Arghttt!!" ujung tongkat bisbol mengenai punggung Vicenzo.
__ADS_1
Anetta tidak perduli dengan pekik kesakitan Vicenzo, pandangannya sudah tidak waras. Ia kembali mengayunkan tongkat bisbol tapi tiba-tiba tangannya ditahan oleh seseorang.
"Dasar wanita hina! Kau mengatai wanita lain tidan tau diri! Tapi kau selalu memanfaatkan putraku, membuatnya menjadi seorang penjahat yang mengakali saudaranya! Kau lah wanita miskin itu sekarang! Kau wanita tidak tahu malu !"
Vicenzo mengenali suara Pamannya, sembari menahan rasa sakit di punggungnya ia berbalik. "Pamam Carver, ada apa ini ?"
"Vic, sebenarnya selama ini aku diam bukan berarti tidak bergerak. Aku mengumpulkan bukti-bukti tentang kekuasaan keluarga Anetta juga, aku mempunyai banyak kenalan dan akhirnya berhasil menerobos Perusahaan mereka dan menemukan pajak-pajak yang tidak dibayarkan oleh Ayah Anetta, juga dana-dana ilegal. Hari ini, dari pihak pajak dan dewan-dewan Perusahaan mengambil juga menyita aset-aset yang tidak dibayarkan pajaknya. Bahkan Mansion ini sudah disita, keluarga Anetta sudah hancur dan mereka sudah diusir."
Xavi menatap Nenek dan teman-temannya yang sedang menangis, pantas saja tiba-tiba dia ingin menemui mereka.
"Vic, ayo pulang ke Mansionmu. Bawa serta Nenek dan yang lainnya," ujar Xavi.
Vicenzo mengangguk.
"Ja llang hina! Dan kau Vic, setelah menghancurkanku karena membongkar hubunganku dengan Andrew pada Paman Carver, sekarang kalian ingin pergi begitu saja! Arghhtt, lepaskan! Aku ingin membunuh mereka!" Anetta memberontak dari cekalan Paman Carver.
"Pergilah, Vic. Kamu tidak ada urusan lagi dengan wanita hina ini, dia dan keluarga angkuhnya akan menerima balasan dari Paman karena dulu menolak Andrew."
Vicenzo menatap mata nanar Pamannya, di dalam sana masih tergurat kesedihan karena kehilangan putra satu-satunya.
"Aku pergi, ayo Xavi."
__ADS_1
Vicenzo menelepon anak buahnya, beberapa mobil berdatangan. Semua para pelayan dari keluarga Anetta dibawa oleh Xavi, menuju Mansion Vicenzo.