
Bab.31
Vicenzo selesai mengurus kedua anaknya, saat kedua anak kembarnya bangun dari kursi makan ia ikut berdiri akan mengantar mereka lebih dulu ke sekolah sebelum ke Perusahaan.
"Hari ini, kamu tidak pakai tongkat untuk menyanggah kakimu Vic?" tanya Deliyah saat melihat Vicenzo berdiri sempurna tanpa tongkat yang biasanya selalu ada di tangan kiri pria itu.
"Kakiku memang sudah normal sejak 6 bulan lalu menjalani pengobatan, hanya jika sakit saat itu baru lah dibantu oleh tongkat," jawab Vicenzo datar.
"Hm, baru kali ini aku melihatmu tanpa tongkat. Semakin membuatmu lebih tampak menawan," Deliyah selalu mengutarakan perasaannya pada Vicenzo secara terang-terangan, apalagi dia sudah mendengar dari orang tua Vicenzo jika lelaki itu dan Anetta akan segera bercerai.
Anetta menekan garpuh di roti lapisnya dengan kuat, ingin sekali menusuk mulut lancang dan tak tahu malu perempuan itu.
Vicenzo tidak menanggapi ocehan Deliyah, dia akan fokus dengan rencana masa depannya tidak ingin terganggu oleh hama baru di kediaman Gladwin.
"Mah, Pah. Aku pergi. Ayo, anak-anak." Vicenzo berjalan beriringan dengan si twins tanpa menoleh lagi ke arah meja makan.
Caitlin berjalan menggandeng saudara kembarnya Charlie, tapi ia menoleh ke arah Deliyah lalu menjulurkan lidahnya mencemooh.
Mata Deliyah membelalak tak percaya, gadis nakal itu sedang mencemoohnya. Awas saja nanti saat aku menjadi Ibu tirimu gadis nakal! Huh!"
Anetta pun tak tinggal lama di meja makan, ia membersihkan wajah putrinya lalu pergi dari sana tanpa bicara apapun.
__ADS_1
Setelah mengobrol dengan Mama Vicenzo, Deliyah pulang dari kediaman Gladwin. Di dalam mobil kakak lelakinya menelepon, "Halo Kak Lionel, kapan kamu kembali? Aku sangat merindukanmu."
"Gadis manja, kau sekarang berusia 24 tahun belajar lah menjadi seorang wanita seutuhnya."
"Tentu saja aku akan menjadi wanita seutuhnya sebentar lagi, hanya tinggal menunggu Vicenzo bercerai dengan istrinya. Papa dan Mama sudah berjanji akan segera menikahkanku."
"Apa harus dengan pria dari keluarga Gladwin itu? Dia sudah mempunyai 3 anak, bahkan kedua anaknya tidak diketahui siapa Ibu mereka," ujar Lionel.
"Harus dia kakak, aku bersumpah pada Papa dan Mama kalau bukan dengan Vicenzo aku selamanya tak ingin menikah!"
"Astaga gadis keras kepala! Sudah! Kakak tutup."
"Oke, kakak pasti datang tapi jangan mencari kakak atau mendatangi kakak saat itu karena kakak ingin merahasiakan identitas kakak."
"Baik."
"Oke, kakak tutup."
Tuttttt.
.
__ADS_1
.
.
Lionel menatap layar ponsel yang semakin menggelap, dia ingin membawa Xaviera bersamanya ke pesta tapi bagaimana caranya. Dia hanya ingin mengulik rasa penasarannya pada wanita itu, kenapa wajah Charles dan putra dari Tuan muda dari keluarga Gladwin sangat mirip seperti saudara kembar.
Seminggu kemudian, pesta ulang tahun yang diadakan di ballroom hotel begitu megah. Pesta putri keluarga Lincoln yang adalah putri pemilik dari hotel itu. Para tamu adalah kolega-kolega bisnis dari dalam dan luar negeri. Keluarga Lincoln tak kalah dipandang terhormat oleh para pembisnis dan masyarakat seperti keluarga Gladwin dan Ansell. Perusahaan Lincoln bergerak dalam bangunan rumah sakit juga hotel-hotel berbintang.
Lionel menggandeng Xaviera memasuki ruang pesta, seminggu lalu saat ia mengatakan jika mendapatkan undangan dari seorang kenalan pemilik hotel yang berjasa menyekolahkannya sampai bisa menjadi seorang Barista, akhirnya Xaviera menerima ajakannya. Hati wanita itu memang sangat lembut dan perduli dengan sesama, itu lah yang membuatnya jatuh hati pada Xaviera.
"Lionel, pesta ini sangat megah. Pasti pemilik hotel ini yang baik hati menyekolahkanmu itu diberkahi kelimpahan kekayaan karena menjadi orang baik. Bahkan kamu yang yatim piatu mereka sekolahkan, sungguh orang berbudi," Xaviera berdecak kagum menatap sekeliling ruangan, makanan-makanan mewah bahkan begitu menggoda untuk ia terkam.
"Tapi kemewahan ruangan ini tidak se-menawan penampilan mu malam ini Xavi," bisik Lionel di telinga Xaviera membuat sekujur tubuh wanita itu bergidik.
"Haaaa... ha..." seraya sedikit menjauhkan tubuhnya Xaviera tertawa kering, ia menjadi salah tingkah.
Lionel tersenyum. "Ayo cari meja kita."
Xaviera mengangguk, mata indahnya merotasi sekali lagi ruangan yang sangat indah itu.
Disudut ruangan seseorang terperangah melihat wanita yang selama 6 tahun ini ia rindukan baru saja memasuki ruangan, hanya saja jantungnya seketika mencelos ketika melihat Xaviera menggandeng seorang pria. "Xavi..."
__ADS_1