
Bab.32
Di mejanya Xaviera terus tersenyum saat Lionel terus bercerita tentang masa-masa sekolahnya. Pria itu bahkan menceritakan tentang tiga tahun lalu saat seorang wanita menolongnya.
Lionel sekali lagi menghela nafas, ia menceritakan tentang kejadian tiga tahun lalu saat Xaviera menolongnya tapi tetap saja wanita itu sepertinya belum menyadari jika wanita itu adalah Xaviera.
"Xavi, ada cream di sudut bibirmu," Lionel menarik tissu menyodorkannya. "Ini."
Xaviera mengambil tissu dari tangan Lionel membersihkan sudut mulutnya, "Apa sudah hilang?"
Lionel menggeleng, tangannya terulur tanpa sadar jempolnya mengusap cream di sudut bibir wanita itu.
Saat tersadar keduanya terperangah, "Maaf, Xavi. Aku tak sadar, aku--"
"Tidak apa-apa, terima kasih," wajah keduanya memerah.
Interaksi keduanya tak terlewatkan dari pandangan menusuk Vicenzo yang masih berdiri di sudut ruangan, ia menggeram ingin sekali menarik tangan lelaki yang sedang bersama Xaviera lalu mematahkannya.
Wajah memerah Xaviera membuatnya kesal, apalagi gaun yang memperlihatkan sebagian kulit putih wanita itu membuatnya emosi. Dia tidak rela kulit indah wanita itu dilihat oleh setiap mata lelaki di ruangan itu.
"Tuan Vicenzo, kenapa Anda berdiri sendirian disini? Dimana istri Anda, Nyonya Anetta."
"Dia harus mengurus putrinya, saya datang sendiri."
"Ah, begitu. Kalau begitu saya pergi, silahkan lanjutkan," ujar seorang kenalan Vicenzo seraya pergi.
__ADS_1
Degh!
Vicenzo melihat Xaviera berdiri dari duduknya, tanpa berlama dia mengikuti wanita itu ternyata mengarah ke toilet, ia menghalangi jalan wanita itu.
"Vicenzo!" Xaviera menutup mulutnya tak percaya.
"Ikut aku sebentar," tanpa menunggu ijin dari si pemilik tangan dia menarik lengan Xaviera menjauh dari toilet terus berjalan membawa wanita itu keluar ruangan ballroom.
"Vic! Ayahmu!" Xaviera mencoba melepaskan cekalan Vicenzo tapi sia-sia tenaga lelaki itu sangat kuat.
Vicenzo membawa masuk Xaviera ke dalam lift hotel menuju atap.
Pintu lift terbuka, sekali lagi Vicenzo menarik lengan Xaviera tapi kali ini dengan lembut. Ia membuka pintu atap dan melangkahkan kakinya di tempat paling teratas gedung hotel itu.
"Vic! Lepaskan!" teriak Xaviera saat lelaki yang berjalan di depannya dengan mencekal lenganya tak kunjung melepaskan tangannya.
"Xavi, aku sangat merindukanmu... enam tahun... hatiku sangat sakit... Xavi... Xavi..." racaunya telapak tangan besarnya terus menerus menyentuh serta membelai rambut dan punggung polos wanita itu.
Xaviera merasa sesak dalam pelukan Vicenzo, dia mendorong tubuh lelaki itu. "Vic, sesak!"
Akhirnya Vicenzo melepaskan pelukan eratnya tapi dia tak melepaskan tubuh wanita itu seakan takut Xaviera akan berlari kabur darinya.
"Vicenzo Gladwin! Kau masih belum berubah! Berbuat semaumu!"
"Itu karena aku sangat merindukanmu, bagaimana kabarmu? Charles? Aku ingin bertemu dengan putraku."
__ADS_1
Xaviera sedang mencoba menenangkan diri, dia mencoba sekali lagi melepaskan diri. "Aku tidak akan pergi, lepaskan cekalanmu."
Dengan tak rela Vicenzo melepaskan cekalannya.
Setelah terlepas Xaviera berjalan ke tepi atap yang terhalang oleh pagar, dia menatap lampu-lampu dari gedung tinggi nan megah yang berkelap kelip di kejauhan. "Bagaimana kabarmu dan kedua anakku? Ibu tiri mereka baik pada mereka bukan?"
Vicenzo menghampiri Xaviera ikut berdiri di tepi bersebelahan dengan wanita itu, "Baik. Aku dan anak-anak baik. Tapi tak akan sebaik jika kita semua berkumpul bersama."
"Ayahmu baik pada mereka?"
"Tentu, apalagi aku tak akan membiarkan anak-anak kita disakiti siapapun termasuk Ayahku."
"Hm," Xaviera mengangguk.
"Kamu tidak merindukan Charlie dan Caitlin?"
"Bukan hanya rindu bahkan aku telah kehilangan separuh jiwaku, menurutmu bagaimana keadaanku setelah terpaksa meninggalkan anak-anakku di genggaman Ayahmu! Setiap hari ingin rasanya menerobos masuk ke dalam kediamanmu lalu membawa pergi kedua anakku!"
"Aku juga sama, menurutmu aku tidak kehilanganmu dan Charles? 6 tahun lalu saat aku bisa turun dari ranjang dan bisa berjalan, aku terus mencari keberadaanmu kemana-mana tapi aku tak bisa menemukanmu."
Xaviera memang mengetahui jika Vicenzo memakai tongkat di kakinya dari beberapa berita, matanya seketika menatap kaki lelaki itu. "Apa masih sakit? Tubuhmu baik-baik saja saat terluka waktu itu? Bagaimana dengan kakimu? Dimana tongkatmu?"
Akhirnya bibir pria itu tersenyum, "Jadi selama ini kamu selalu memperhatikanku? Kamu mencemaskanku, hm?" Vicenzo menoleh ke samping perlahan mendekatkan wajah mereka berdua.
Xaviera memundurkan tubuhnya, "I-tu karena aku mencari tahu kabar Charlie dan Caitlin, tentu saja aku juga mengetahui kabarmu selama ini."
__ADS_1
Xaviera ingin memalingkam wajahnya tapi Vicenzo menahannya, ia semakin menempelkan wajahnya lalu mengecup bibir Xaviera menahan pinggang wanita itu menempelkan tubuh Xaviera pada tubuhnya. Saat Xaviera tak melawannya, ia semakin memperdalam ciuman mereka.