
Bab.26
Nyonya besar berjalan dengan langkah gontai ke sofa di ruangan, dia mengusap air matanya.
"Duduklah, lihatlah ini." Titah sang Nyonya seraya menaruh ponsel di atas meja.
Xaviera berjalan mendekat lalu duduk di sofa lainnya, ia menggeser ponsel ke arahnya. Foto di layar ponsel membuatnya menutup mulutnya dengan kedua tangan, itu adalah wajah berdarah Vicenzo bahkan bukan hanya wajahnya tapi seluruh tubuhnya yang bersimbah darah. "Vic..."
__ADS_1
Xaviera mengalihkan tatapannya dari foto mengerikan itu, ia menatap penuh tanda tanya pada sang Nyonya.
"Andrew sudah meninggal, Vicenzo sedang menerima hukuman dari Ayahnya," bibir Nyonya besar Gladwin bergetar. "Ayahnya bahkan mengatakan akan memasukkan Vicenzo ke dalam penjara jika perlu... Putraku..." seketika tangis sang Nyonya pecah, tiba-tiba ia berlutut bersimpuh di hadapan Xaviera.
"Nyonya!!!" Xaviera berusaha menarik tubuh sang Nyonya tapi Nyonya besar bergeming.
"Kamu juga seorang Ibu, Xaviera. Aku tak sanggup melihat putraku dipukuli sampai berdarah seperti itu bahkan mungkin sampai mati, jika bertahan hidup pun putraku akan dimasukkan ke dalam penjara oleh Ayah dan Pamannya. Aku mohon... tinggalkan putraku dan berikan kedua anakmu pada kami. Kami berjanji akan mengurus mereka, cucu-cucuku tak akan kekurangan apapun disini. Putraku akan selamat dan anak-anakmu akan hidup serba berkecukupan disini. Kamu masih ada satu anak lagi, Xaviera.... aku mohon..." isak tangis Nyonya besar begitu menyedihkan.
__ADS_1
"Hu... hu... Meskipun kamu kehilangan kedua anakmu kamu masih mempunyai satu anak lagi. Tapi aku hanya mempunyai Vicenzo, dia putraku satu-satunya... Aku mohon," Nyonya besar merapatkan kedua tangannya memohon pada Xaviera dengan air mata berlinang.
"Nyonya..." Xaviera bangun dari duduknya dan ikut bersimpuh di lantai bersama sang Nyonya, dia melirik lagi ke arah layar ponsel melihat keadaan mengerikan Vicenzo. Dia memang tidak menyukai lelaki itu tapi entah kenapa hatinya merasa sakit. Tapi dia juga tak ingin melepaskan kedua anaknya, Tidak akan pernah!
"Maaf, Nyonya. Tapi aku tak bisa mengabulkan permohonanmu, aku tak rela harus kehilangan kedua anakku," Xaviera menggeleng.
"Aku memberikan cara mudah padamu, Xaviera. Kamu tidak tahu sampai mana suamiku bisa bertindak, bahkan orang-orang yang selalu melawannya tidak pernah lagi terdengar namanya. Mereka semua bagai tertelan bumi menghilang begitu saja. Kamu pikir kamu bisa lolos dari Tuan besar Gladwin? Pikirkan itu... dulu bahkan saat aku menolak menikahinya karena masih mempunyai seorang suami, apa kau tau apa yang Ayah Vicenzo itu lakukan? Dia membunuh suamiku... Aku bisa bertahan sampai hari ini karena anak-anakku. Aku tahu kamu juga bisa bertahan, kamu wanita hebat karena telah melahirkan dan mengurus 3 orang anak sekaligus. Suatu hari... suatu hari nanti aku akan membantumu bertemu anak-anakmu saat mereka sudah kuat, Xaviera... ini adalah nasehatku untukmu karena kita sama-sama seorang Ibu. Aku juga merasakan seorang Ibu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, tapi semasih ada kekuatan besar dari suamiku... kamu tak akan bisa terlepas atau lari. Nantinya yang akan terluka bukan hanya kamu tapi semuanya."
__ADS_1
"Nyonya...." akhirnya pertahanan Xaviera runtuh juga, ia menangis begitu memilukan.
Satu jam kemudian, Xaviera berada diluar Mansion megah itu. Dia menatap nanar ke arah pintu berganda besar di depannya yang begitu dijaga dengan ketat, dengan deraian air mata ia berbalik pergi meninggalkan Mansion tanpa kedua anaknya.