
Bab.28
Xaviera melihat Charles tertidur, ia merogoh ponselnya ingin menelepon Papa tirinya Andreas tapi beberapa panggilan tak terjawab terlihat di layar ponselnya.
Drrttttt Drrrttttt.
Kali ini ia mengangkat panggilan dari nomer tak dikenalnya, "Halo?"
"Xaviera, ini aku Mama Vicenzo."
"Ya, Nyonya."
"Keluarlah, aku mengirim seseorang untuk memberikan uang untuk berobat putramu dan untuk biaya kau pergi dari kota ini. Kamu sudah berjanji takkan pernah lagi terlihat atau menampakkan lagi dirimu, jadi jangan mengingkarinya."
Tangan Xaviera mengerat di ponselnya, dia menatap nanar ke arah Charles. "Tidak Nyonya, jika aku menerima uang itu darimu aku seperti menjual anak-anakku. Tanpa uang itu aku bisa membayar biaya berobat Charles."
"Hm, baiklah. Tapi ingat tepati janjimu."
Tutttttttttt.
Ponsel terjatuh dari tangan Xaviera, tubuhnya gemetar dia tak sanggup harus meninggalkan kedua anaknya jauh.
"Xavi..." Andreas membuka pintu melihat wajah sedih putrinya, pria tua itu mendekati Xaviera.
"Papa, aku benar-benar sudah kehilangan kedua anakku... hu... hu..." akhirnya tangisnya pecah, ia menahan mulutnya dengan kedua tangan tak ingin suara tangisannya membangunkan Charles.
__ADS_1
"Papa masih ada tabungan, Papa yang akan bayar biaya rumah sakit Charles. Papa juga akan menjual rumah mu secepatnya, ayo pergi dari sini bersama Papa. Jangan melawan orang-orang tak berperasaan itu, kamu harus kuat jangan menjadi lemah. Suatu hari, keadilan akan berpihak padamu."
"Papa... Charlie... Caitlin..." ucapnya di sela isak tangisnya.
Tiga hari kemudian, setelah rumah terjual Xaviera pergi membawa satu-satunya anaknya bersama dengan Papa tirinya tanpa berpamitan pada kedua anaknya yang berada di kediaman Gladwin maupun berpamitan pada teman-teman seperjuangannya. Sekali lagi pergi meninggalkan kota kelahirannya tapi kini wanita itu juga meninggalkan anak-anak berharganya.
.
.
.
Setelah dua hari dalam keadaan tak sadarkan diri, hari ini Vicenzo membuka kedua mata bengkaknya. Bola matanya tertutup kelopak mata yang membengkak, lelaki itu hanya bisa melihat sinar dari sedikit celah matanya yang tidak tertutup kelopak mata.
"Uhhhggt..." rintihnya menggerakkan tubuhnya tapi tak bereaksi.
"Tuan muda! Anda sudah bangun! Sebentar saya akan memanggil Dokter Felix!" suara samar-samar Paman Benjamin terdengar oleh Vicenzo.
Lelaki itu mulai menggerakkan tangannya dan berhasil ia bisa menggesernya, tapi saat menggerakkan kedua kakinya ia tak bisa menggerakkan nya sedikit pun. Ia memaksakan membuka lebar kelopak matanya meskipun terasa sakit untuk melihat kakinya, ternyata kakinya dibalut gips.
"Hahhhh... " errangnya.
"Bagaimana Xavi dan anak-anak... Aku harus bangun..."
Vicenzo ingat terakhir kalinya bersama Xaviera dan kedua anaknya. Setelah tubuh Andrew yang bersimbah darah dibawa keluar, Ayahnya memerintah para penjaga untuk menyeretnya keluar. Dia diseret oleh 6 orang penjaga pribadi Ayahnya pergi dari ruangan itu, ia sempat menatap wajah Xaviera dan anak-anaknya saat diseret keluar.
__ADS_1
Saat disiksa di dalam kamarnya ia melawan dengan sekuat tenaga para penjaga pribadi Ayahnya, tapi sekuat apapun ia melawan akhirnya ia tumbang tak bisa bertahan.
"Tuan muda! Dokter Felix datang," suara Paman Benjamin.
"Paman, sudah berapa hari aku tak sadarkan diri? Dimana Xaviera dan kedua anakku?"
"Ada, Tuan. Anak-anak Anda ada, mereka berada di kamar mereka."
"Xaviera?"
Mulut sang pengurus pribadinya terdiam, Vicenzo merasakan firasat buruk. "Paman, dimana Ibu dari anak-anakku?!" geramnya.
"Tuan dan Nyonya besar sudah mengusirnya dua hari lalu setelah Anda dipukuli, Tuan Andrew juga sudah meninggal."
"Apa?! Ahhffgtt...." Vicenzo mengerrang kesakitan, dadanya sakit sekali.
"Saya akan memeriksa tubuh Anda, Tuan muda. Rusuk Anda ada yang patah, Anda tidak boleh banyak bergerak. Kaki Anda juga masih belum bisa digerrakkan, itu sepertinya akan memakan waktu sebulan untuk sembuh total."
"Arghht! Pergi! Aku tidak ingin sembuh!" Vicenzo mulai berontak, ia mencabut selang infus di lengannya membalikkan tubuhnya ke samping sampai ia terjatuh dari atas ranjang tidurnya ke lantai berkarpet.
"Tuan muda!" Paman Benjamin dan Dokter Felix berusaha mengangkat tubuh tak berdaya Tuan muda mereka di atas lantai.
"Jangan menyentuhku! Biarkan aku pergi! Aku ingin bertemu Xavi!"
Vicenzo dengan sekuat tenaga merayap di lantai menuju pintu, saat rusuknya yang patah menusuk dadanya itu sangat menyakitkan tapi dia terus merayap tak ingin menyerah. "Hhhhhh... Xa... vi...." Tiba-tiba pandangan matanya menggelap membawa dirinya ke pusaran hitam yang tak berujung.
__ADS_1
Dengan cepat Paman Benjamin dan Dokter Felix mengangkat dengan hati-hati tubuh tak sadarkan diri Tuan muda mereka lalu membaringkan kembali di ranjang besar milik kamar sang pewaris itu.