
Vicenzo menjemput Xaviera sesuai di telepon tadi, istrinya sedang menunggu di depan pintu dengan penampilan anggunnya.
Mobil baru saja berhenti, Xavi sudah membuka pintu dan memasukkan tubuh tingginya.
"Kenapa buru-buru? Aku bisa membuka pintunya, biar terlihat jentle," Vicenzo mengerucutkan bibirnya ngambek.
Xavi menarik pipi suaminya, "Karena aku sudah tak sabar ingin melihat wajah tampanmu, puassss..."
Mendengar itu senyum Vicenzo mengembang, ia memajukan tubuhnya mengecup lembut bibir istrinya. "Baiklah, ayo pergi."
Tap! Tap! Tap!
"VIC TUNGGU!!!" Deliyah berteriak memanggil sembari menuruni anak tangga depan Mansion.
Wanita itu menurunkan setengah tubuhnya di ambang jendela mobil, mensejajarkan wajahnya dengan Vicenzo yang berada di dalam mobil.
"Vic, boleh aku ikut dengan mobilmu? Aku ingin ke mall mencari lipstik, boleh?" tanya Deliyah.
"Masuklah, Deliyah," sebelum Vicenzo menolak, Xaviera lebih dulu mengijinkan.
Vicenzo dan Deliyah terkejut, tak menyangka Xaviera lah yang akan mengijinkan.
"Kenapa kau yang menjawab?! Aku meminta pada suamiku!" kesal Deliyah.
"Kau mau ikut atau tidak?! Jangan membentak Xavi! Semua perkataannya adalah perkataanku juga, jadi dia berhak bicara mewakiliku pada siapapun!" bentak Vicenzo tak sabar.
__ADS_1
"Huh!" Deliyah menghentakkan kakinya kesal tapi dia berjalan ke arah belakang membuka pintu mobil lalu duduk di jok belakang.
Vicenzo membawa mobilnya pergi dari Mansion megah Gladwin, mungkin sebentar lagi Mansion itu juga akan lenyap. Ia sudah lama menyiapkan Mansion-nya sendiri, untuk istri dan anak-anaknya. Ia sedang menyusun rencana yang mungkin berbahaya, tapi mungkin juga bisa mengakhiri semua kemelut kehidupannya. Ia ingin secepatnya tinggal bersama Xavi dengan tenang, damai dan juga memberikan semua cintanya yang belum ia berikan seutuhnya.
"Vic, tidak bolehkah aku ikut ke sekolah anak-anak? Aku berjanji, mulai sekarang akan menganggap mereka anak-anakku juga," ujar Deliyah.
"Tidak perlu, Deliyah. Mereka mempunyai Ibu, jadi kamu bersikaplah seperti biasanya. Kalau kamu mau, kamu bisa mempunyai anakmu sendiri," ada nada sindiran dari Xavi dan itu terartikan dengan jelas oleh Deliyah.
"Tentu saja aku akan mempunyai anakku sendiri dengan Vicenzo, hanya saja belum waktunya. Bagaimanapun, saat waktuku tiba Vicenzo harus melaksanakan kewajibannya sebagai suamiku," jawab Deliyah tenang.
Vicenzo melirik wajah Xavi, memang kesepakatannya seperti itu. Meskipun Deliyah bukan istri sah-nya, tapi wanita itu berhak mendapatkan hak-nya sebagai seorang istri. Tapi, itu jika dia mau menyentuh Deliyah dan itu tidak mungkin karena secepatnya dia akan membawa pindah Xavi dan anak-anaknya ke Mansion barunya.
"Vic, kenapa kamu diam saja? Aku berhak atas kamu, bukan?"
"Tentu, kamu juga berhak Deliyah. Tapi, jangan melewati batasanmu dengan menekanku. Aku mempunyai keinginan dan pikiranku sendiri," jawab Vicenzo menatap sebentar Deliyah dari kaca spion.
Vicenzo berbalik menatap Xaviera, mengelus rambut panjang istrinya. Xavi berbalik membalas suaminya dengan senyuman mengerti.
"Dimana aku harus menurunkanmu, Deliyah?"
"Di depan," jawab wanita itu kesal.
Vicenzo menepikan mobilnya, ia sengaja mengendarai mobilnya sendiri dari Perusahaan karena ingin bermesraan dengan Xavi tak disangka malah terganggu oleh Deliyah.
"Cepat turun!" setelah menepikan mobilnya Vicenzo berbalik ke belakang karena Deliyah masih tetap duduk diam.
__ADS_1
"Kamu nggak mau menemaniku ke dalam, Vic?" sekali lagi Deliyah berusaha membujuk.
"Turun!"
Deliyah menghela nafasnya, wajahnya memberengut kesal lalu dengan terpaksa membuka pintu dan keluar dari dalam mobil.
Deliyah menatap kepergian mobil suaminya, matanya menyendu. "Aku juga istrimu, aku bahkan rela menjadi istri keduamu tapi..." bibirnya gemetar, air mata tak terelakkan lagi membasahai wajahnya.
Ia berjalan masuk ke dalam mall dengan pandangan matanya yang kabur karena air mata.
Dugh!
"Aww!!" Deliyah mengelus bahunya yang bertabrakan.
"Nona, kamu tidak apa-apa?" suara seorang laki-laki.
"Sakit! Kamu--"
Ucapannya terpotong saat mengenali lelaki di hadapannya, "Brandon? Kapan kamu kembali dari Prancis? Wah! Senang banget bertemu denganmu, teman!" Deliyah memeluk lelaki itu tanpa ada rasa canggung, mereka sudah berteman hampir 7 tahun lamanya.
"Deliyah! Menyenangkan bertemu denganmu disini! Apa kabar?" Brandon membalas pelukan wanita itu.
Deliyah melepaskan pelukannya, ia mengusap air mata di wajahnya. Lalu tersenyum, "Baik, tentu saja kabarku baik. Ayo mengobrol, sudah lama kita tidak bertemu dan ngobrol seperti masa-masa kuliah dulu."
Brandon hanya mengikuti langkah kecil Deliyah saat wanita itu menggandeng lengannya menyeret tubuhnya kemana pun yang wanita itu inginkan.
__ADS_1
Aku sudah lama berada dekat di sampingmu, Deliyah. Aku akan merebutmu dari suami jahatmu itu! Beraninya lelaki itu memperlakukanmu dengan buruk! Bahkan meskipun kau istri kedua, tapi bagiku kau wanita yang pantas menjadi istri satu-satunya! Akan aku rebut kamu dari Vicenzo!