
Bab.27
Xaviera sedang menatap langit malam dari dalam kamar rawat Charles, keningnya bersandar di kaca jendela ujung jarinya mengukir nama kedua anaknya di permukaan kaca, matanya sembab karena terus menerus menangis.
Drrttttt Drttttt.
Getaran dari ponselnya bahkan tak ia hiraukan, sampai suara Charles terdengar.
"Mommy..." suara lirih putranya dari belakang akhirnya menyadarkannya.
"Y--ya... sayang," Xaviera membersihkan air mata di wajahnya dengan kedua tangan. Dia berbalik berjalan menghampiri Charles, kini hanya anak itu satu-satunya miliknya.
"Ada apa sayang? Charles mau minum?"
Anak lemah itu menggeleng, "Aku merindukan Charlie dan Caitlin, dimana mereka? Kenapa aku belum melihat mereka lagi? Apa Daddy membawa kabur mereka dari Mommy?"
"Tidak, Daddy-mu emm... Daddy-mu adalah orang baik, dia tidak membawa kabur kedua saudaramu. Hanya saja kata Dokter saudaramu harus terpisah dengan Charles selama kamu masih sakit, Charles sayang Charlie dan Caitlin 'kan?"
"Sayang Mommy..." anak itu mengangguk.
"Kalau begitu, biarkan saudaramu bersama Daddy sebentar. Kamu, Mommy dan Kakek Andreas hidup bertiga sampai Charles sembuh. Ya?"
"Tapi kalau Charles merindukan mereka berdua bagaimana?"
"Charles hanya tinggal menutup mata, lalu berdoa dan meminta pada Tuhan agar Charles segera sembuh dan bisa berkumpul kembali dengan kedua saudaramu," ujar Xaviera dengan bibir bergetar menahan isak tangis.
"Baiklah, Mommy. Charles akan mulai berdoa sekarang," anak kecil yang masih terbaring lemah itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan berdoa. "Tuhan, jika Engkau menyayangiku, sembuhkanlah aku supaya bisa kembali bersama kedua saudaraku. Amin."
"Amin." Xaviera mengaminkan doa putranya.
__ADS_1
.
.
.
Setelah mendengar penuturan dari putri tirinya, Andreas pulang ke kediamannya. Dia ingin menemui putri kandungnya agar putrinya itu bersedia menjadi saksi dan mengatakan tentang kebenaran kecelakaan tabrak lari Ayah kandung Xaviera.
"ANNA!!!"
Di dalam kamar perempuan itu mengerenyitkan keningnya merasa aneh karena sudah lama Papanya tak berteriak padanya.
Baru saja ingin bangun dari rebahannya di ranjang, tiba-tiba pintu kamar terbanting terbuka.
Brakkkkk!!!
"Ayo ikut Papa!"
"Kemana?"
"Ke kantor polisi, laporkan temanmu itu. Putri bungsu dari keluarga Gladwin! Mereka sudah mengambil kedua cucuku, mereka sudah menyakiti putriku. Aku akan menjebloskan ke dalam penjara putrinya dan mempermalukan keluarganya!"
"Cucu apa? Putrimu siapa?" Anna kebingungan.
"Xaviera mempunyai anak dari Vicenzo Gladwin, putra Tuan besar Gladwin yang adalah pemilik Perusahaan kamu bekerja juga Ayah dari temanmu itu yang menabrak Ayah kandung Xaviera! Mereka mengambil anak-anak Xaviera! Aku harus mengambilnya kembali!" raungan marah Andreas membuat Anna memundurkan tubuhnya.
Anna menggeleng, dia baru beberapa tahun ini bekerja di Perusahaan Gladwin. Itu pun karena jasanya yang selalu menutup mulut karena tidak melaporkan perbuatan temannya putri keluarga Gladwin, Brianna Gladwin.
"Apa Papa ingin aku dipenjara?"
__ADS_1
"Ya! Itu memang sepantasnya kamu juga dipenjara! Jika perlu aku juga akan ikut dipenjara bersamamu karena sudah ikut menyembunyikan faktanya selama ini!"
"Papa! Xavi hanya anak tiri Papa! Aku lah yang putri kandungmu!"
"Kalian sama-sama adalah putriku, kau dan Xavi aku tak pernah membedakan kalian berdua. Tapi kau juga mengerti dengan pasti selama ini aku lebih menyayangimu! Demi kau aku pernah membiarkan Xaviera di usir dari rumah! Kali ini aku takkan tinggal diam saat Xavi menderita!"
"Baiklah Pah! Ayo pergi ke kantor polisi tapi dengan tubuhku yang sudah tak bernyawa!" Anna berlari keluar dengan cepat menuruni anak tangga satu persatu lalu mendekat ke arah meja makan mengambil pisau buah di atas meja.
Andreas mengikuti putrinya turun saat melihat pisau mengarah ke urat nadi di perge langan tangan putrinya seketika ia shock. "ANNABEL!!! Lepas pisau itu!"
"Papa ingin aku mati atau membiarkan Xavi?!"
"Anna... Papa..."
"Jawab Papa! Pilih salah satu! Aku atau Xavi!"
"Annabel, kau membuatku sedih dan kecewa sudah menjadi Ayahmu," lirih Andreas benar-benar kecewa pada putri kandungnya.
Pria paruh baya itu menarik nafas pasrah, "Aku tidak akan memaksamu lagi, lepaskan pisau itu."
"Papa berkata jujur?"
"Yah..."
Anna melepaskan pisau dari perge langan tangannya tapi masih menggenggam pisau itu.
"Tapi kau harus keluar dari rumah ini! Rumah ini adalah milik Xavi, Papa akan menjualnya dan pergi bersama Xaviera. Mulai saat ini kau hidup sendiri, kau bukan lagi putriku. Dengan mengabulkan keingannmu, Ini adalah hadiah terakhirku sebagai Ayah untukmu! Sampai kau mati, jangan pernah memanggilku lagi Papamu! Pergi! Kemasi barang-barangmu dan keluar dari rumah ini!"
Annabel menatap wajah tegas Ayahnya, tapi demi masa depannya ia mulai berjalan menaiki tangga ke atas kamarnya dan mulai mengemas semua barang-barangnya untuk keluar dari rumah itu.
__ADS_1