
Bab.13
Bibir Vicenzo tak henti-hentinya terus tersenyum lebar, dia melihat kedua anak kembar di depan nya memakan potongan pizza di tangan mereka dengan begitu lahap.
"Apa enak?" tanyanya penasaran melihat raut wajah sepasang twins itu seperti menikmati.
"Kami pernah 1 kali makan pizza, itu saat Mommy mendapatkan uang lebih. Kata Mommy, makanan mewah itu hanya menghambur-hamburkan uang. Mommy harus menyimpan uang untuk berobat Charles tapi terkadang Mommy juga tak punya uang hanya untuk berobat Charles," jawab Caitlin polos.
Mata Vicenzo terkejut, bibir tersenyum nya berubah kaku. Apa wanita itu sebegitu miskin nya?
"Kalau kalian mau, kalian boleh pesan pizza lagi dan membawanya untuk Mommy kalian."
"Mommy tak suka pizza, bahkan Mommy hanya makan sisa roti saat sarapan. Aku tak pernah melihat Mommy memakan makanan enak, jika memasak untuk kami Mommy hanya makan dengan air kaldu nya saja. Lauk selalu untuk kami, saat kami bertanya Mommy bilang karena Mommy sangat menyukai air kaldu. Iya 'kan, Charlie?"
Vicenzo berbalik menatap Charlie, dia terperanjat karena bocah kecil itu sedang menatapnya tajam. "Astaga, nak! Kamu mengagetkanku, jangan terus menatapku benci. Aku tak bersalah sama sekali, aku-" dia menghentikan ucapan nya, dia bingung harus menjelaskan bagaimana pada anak-anak itu jika dia tidak mengingat telah mem perkosa Mommy mereka, bagaimana dia bisa tau keberadaan mereka bukan? Jika dia menjelaskan yang ada nanti dia akan ditertawakan karena memori otaknya sangat minim karena melupakan kejadian itu.
"Meskipun kamu membawa kami ke tempat mahal ini, tapi bagiku kamu tetap pria tak berguna. Kamu bahkan menelantarkan kami semua, kamu tidak tau Mommy harus bekerja keras sambil mengurus kami. Bahkan saat Mommy sakit, Mommy tidak meminum obat. Kamu pria jahat! Aku gak akan pernah menerimamu menjadi Daddy-ku!" dengan kesal Charlie melempar sisa potongan pizza di tangan nya ke atas meja. Dia bersedekap lalu memalingkan wajah mungil nya dari wajah Vicenzo.
Vicenzo menghela nafas, kini dia merasa sedikit menyesal. Andai saja dulu saat dia mabuk dan merasa ada sesuatu yang salah yang ia lupakan seharusnya dia lebih menggalinya lagi.
__ADS_1
Di dalam mobil twins bersaudara itu tertidur, kepala si gadis kecil tertidur di atas pangkuan saudara lelakinya. Sedangkan kepala Charlie bersandar pada sandaran jok. Saat melihat kedua anak itu saling menyayangi, seketika hatinya melembut. Dengan perlahan dia memegang kepala Charlie dan menempatkan nya di pinggir lengan nya.
"Kenapa aku berharap kalian benar adalah anak-anakku? Hahhhh... tapi apa masih belum terlambat bagiku untuk mengambil hati kalian agar tak membenciku?" gumamnya.
Setelah sampai di rumah sakit Vicenzo memangku tubuh Caitlin dalam gendongan nya, dan menyuruh pengawal nya menggendong Charlie. Mereka masuk ke ruangan paling mewah di rumah sakit, yang sengaja telah Vicenzo pesan. Setelah masuk dia membaringkan gadis kecil dalam gendongan ke atas ranjang besar di kamar rawat itu.
Pengawal juga membaringkan Tuan muda kecil-nya di atas ranjang.
"Kamu jaga mereka di depan pintu, aku akan melihat anak satunya lagi," titah Vicenzo.
"Baik, Tuan muda."
"Kau sudah amankan DNA, bukan? Jangan sampai ada yang mengotak-ngatik DNA-nya," ujar Vicenzo.
"Sudah Tuan muda, itu sangat aman," jawab si pengawal yang bernama Anderson. Pengawal itu masih sangat muda mungkin sekitar 20 tahun.
"Hm, jaga pintu."
"Ya."
__ADS_1
Vicenzo berjalan menuju ruangan unit gawat darurat anak satunya lagi bernama Charles diperiksa, dia mengerutkan keningnya saat teringat Xaviera mengatakan anak itu sakit sejak dilahirkan. " Apa begitu parah sejak lahir?" gumam nya.
Saat sampai ternyata wanita itu sudah tidak ada di depan ruangan gawat darurat, "Kemana dia?"
Dengan panik Vicenzo mencari Xaviera, dia berjalan ke meja perawat. "Apa pasien dengan nama Charles sudah masuk ruangan? Atau masih di ruang gawat darurat?"
"Sebentar, Tuan," si perawat jaga memeriksa data di komputer.
"Apa Anda Tuan Vicenzo?"
"Ya."
"Anak itu sudah masuk ke ruangan rawat, Tuan. Sekitar 10 menit lalu."
"Ruangan mana?"
"Di ruangan yang sudah Anda pesan tadi kepada Dokter, Tuan."
Sang perawat kemudian memberitahukan ruang rawat Charles, Vicenzo setengah berlari menuju ruangan itu.
__ADS_1