
Xaviera mematung merasa dirinya sedang mendengarkan kekonyolan. Tapi, saat mulutnya ingin menolak mentah-mentah, suara putranya sekali lagi membuatnya geram.
"Mom, aku kedinginan. Mommy..." suara Charles semakin pelan terdengar.
Xaviera mengambil gelas di meja melemparkan pada kepala Tuan besar Gladwin dengan wajah muak.
Prankk!
Gelas meluncur dari atas kening Tuan besar Gladwin dan pecah hancur berserakan di atas lantai. Tuan besar Gladwin memegang dahinya yang kesakitan karena benturan dengan gelas, matanya menatap benci pada wanita yang berani padanya.
"KAU!!! Wanita kurang ajar! Kurang didikan! Ini lah yang aku tidak suka dari orang miskin dan kurang pendidikan seperti kamu! Tidak punya sopan santun! Kau bahkan berani menyerangku!" Tuan besar Gladwin berdiri jarinya menunjuk nunjuk Xaviera.
Vicenzo berdiri, dia mendekati pria tua angkuh di hadapannya. "Kau lebih buruk dari wanita miskin dan tidak berpendidikan seperti Xavi! Kau seseorang yang selalu makan dengan sendok emas seumur hidupmu tapi nyatanya sendok yang kau pakai terbungkus belatung-belatung akibat dari keserakahanmu! Kearogananmu suatu hari akan memusnahkan kekayaan dan kejayaan keluarga Gladwin!"
"Lancang... !!!" mata Tuan besar Gladwin sudah memerah, urat-urat di lengannya menonjol keluar.
Vicenzo berbisik di telinga Ayahnya. "Tuan besar Gladwin, ingat kesepakatan kita. Jangan menyakiti Xavi dan ketiga anakku atau bukti-bukti kebohonganmu atas kematian sepupuku Andrew, tentang kau yang menyuruh Dokter Felix untuk membiarkan luka tembak di tubuh Andrew tidak diobati membuat sepupuku itu sekarat dan meninggal tanpa perawatan. Aku sudah merekam pengakuan Dokter Felix dan bukti-bukti dari Dokter Felix sudah aku kantongi sejak lama. Aku bisa saja memenjarakanmu dan sekaligus merusak reputasimu tapi aku tau kau akan cepat bangkit dan keluar penjara dengan mudah karena kau akan menyuap para penegak hukum itu. Tapi bayangkan jika Mama dan Paman tahu perbuatanmu pada Andrew, meskipun mereka takut padamu bukan berarti mereka juga akan membiarkan penjahat asli yang membunuh keluarganya hidup dengan tenang. Jadi, mari kita hidup dengan damai Tuan Gladwin."
__ADS_1
Setelah mengatakannya Vicenzo memundurkan tubuhnya lalu menoleh menatap Vaxiera. "Xavi, aku hanya akan menikahi putri Lincoln dengan tidak sah, aku hanya akan menikah bersamamu baik itu di mata hukum atau Tuhan. Jika keluarga itu tidak setuju putrinya dijadikan seperti wanita simpanan maka mereka yang akan mundur dari pernikahan dan menarik kerjasama mereka. Apa kamu keberatan? Aku tidak akan benar-benar menikah dengan wanita lain, hanya denganmu? Hm?"
Xaviera tidak mendengar apa yang dibisikkan Vicenzo pada Ayahnya tapi saat melihat sorot mata Vicenzo yang meminta kepercayaannya tiba-tiba ia menganggukkan kepalanya.
Bibir Vicenzo tersenyum tapi dia tidak ingin terlalu bahagia, masih banyak rintangan yang harus dihadapi ke depannya.
"Terima kasih... Kita juga sudah selesai bicara, ayo pergi Xavi."
Tanpa berlama lagi Vicenzo menggenggam tangan Xavi berjalan keluar dari sana.
"Selamat datang di keluarga Gladwin, Xavi. Aku menyambutmu dengan tangan terbuka dan mengenai putri keluarga Lincoln, hadapi dia dengan berani. Aku akan berada di tengah-tengah dan tak ingin ikut campur. Sekarang istirahatlah di kamar, pelayan sudah menyiapkan kamar untukmu di lorong kanan kamar ketiga. Sebaiknya kalian berdua tidak tidur sekamar sebelum menikah, Vic... Mama melarangnya, Mama belum ingin memiliki cucu baru."
Wajah Xaviera memerah, Vicenzo hanya tersenyum merasa puas dengan perilaku sang Mama sekarang.
"Terima kasih Nyonya."
"Nanti setelah menikah panggil aku Mama seperti Vicenzo, pergilah istirahat."
__ADS_1
Xaviera mengangguk, Vicenzo menarik kembali tangannya mungkin membawanya ke kamar yang sudah disiapkan.
"Kamu akan membawa Charles sekarang 'kan, Vic?" tanya Xaviera seraya melangkah menyamai langkah lelaki yang terus menggenggam tangannya.
"Aku akan pergi menjemputnya sekarang, jangan khawatir."
"Hm. Tidak bisakah aku tidur dengan Caitlin malam ini?"
Langkah Vicenzo terhenti akhirnya dia memutar ke lorong lain membawa Xaviera ke kamar putri mereka.
"Sepertinya Caitlin sudah tidur, masuklah. Aku harus pergi," Vicenzo membuka pintu kamar putrinya dia berbisik di ambang pintu.
"Bangunkan aku saat kamu membawa Charles."
Vicenzo mengangguk, "Aku pergi."
Xaviera hanya mengangguk dan terus menatap kepergian Vicenzo sampai sosok lelaki itu menghilang dari pandangannya.
__ADS_1