One Night Stand And 1000 Dollar

One Night Stand And 1000 Dollar
Pelanggan, Andrew Carver.


__ADS_3

Bab.8


Xaviera dan ketiga anak kembar nya akhirnya menerima permintaan Kakek Andreas, biasanya setiap hari mereka selalu berangkat menaiki bus pulang pergi. Hari ini anak-anak merasa senang bisa naik mobil kakek mereka.


"Kakek, ini mobil kakek Andreas?" tanya Charles.


"Ya, sekarang ini mobil kalian juga. Kakek akan antar jemput setiap hari, mau?"


"Mauu!!!" jawab serempak ketiganya.


"Pah, ngerepotin," ujar Xaviera.


"Papa kan sudah pensiun, jadi nggak ngerepotin. Nanti anak-anak sekolah, biar Papa juga yang antar jemput, kapan mereka mulai sekolah?"


"3 bulan lagi, Pah. Anak-anak sudah bisa masuk taman kanak-kanak."


"Nah nanti kakek jemput tiap hari ya. Untuk tinggal bersama, kakek harus bujuk Mommy kalian dulu," Kakek Andreas menghela nafas, karena tadi di rumah ia mengajak Xaviera untuk tinggal di serumah lagi tapi tetap tak berhasil.


"Nanti di depan belok ke kanan, Pah."


"Iya."


Setelah sampai, Xaviera menuntun Charlie dan Caitlin. Kakek Andreas memangku tubuh kecil Charles, si bungsu yang sering sakit-sakitan.


"Kakek, apa Kakek Andreas berjanji akan jemput kami lagi? Soalnya Mommy sering telat jemput karena sibuk bekerja, kasihan Mommy..." tanya Charles dengan bibir imutnya, tapi sayang wajah anak itu sangat pucat tak sesegar kedua kembar lain nya, tubuh kecilnya pun sangat ringan.


"Kakek janji, emuacch," Kakek Andreas mengecup pipi tirus Charles, "Charles juga janji, jangan sakit terus ya. Banyakin minum air putih, menurut sama Mommy."

__ADS_1


Anak kecil itu mengangguk, "Charles janji, Kek."


Setelah mengantar ke dalam ruangan penitipan anak, Xaviera diantar ke tempat kerjanya. Berapa kali pun dia menolak tapi tetap saja Papa Andreas memaksa untuk mengantarnya.


"Pah, makasih. Nanti kalau ada libur, aku ingin datang ke kuburan Mama dan Papa Efrain."


"Nanti Papa antar, Xavi..."


"Ya?"


"Jangan menahan nya seorang diri, anggap Papa sebagai Ayah kandungmu. jika ada apa-apa, bicaralah pada Papa. Ya?"


"Xavi hanya nggak mau ngerepotin Papa."


"Papa tidak repot, Papa bahagia sudah mempunyai 3 cucu."


"Baik, dia sudah bekerja di salah satu Perusahaan milik keluarga Gladwin. Emm, Xavi. Suatu hari nanti Papa ingin mengatakan sesuatu yang penting, tapi untuk saat ini Papa belum bisa mengatakan nya. Baiklah, jaga kesehatan dan hati-hati saat bekerja."


"Iya, Pah. Papa juga, hati-hati bawa mobil."


Xaviera melambaikan tangan saat mobil Papa Andreas melaju pergi dari depan laundry, setelah mobil tak terlihat lagi ia masuk ke dalam dan mulai bekerja.


2 jam kemudian, setelah mengantar pesanan ke beberapa rumah dan Apartemen. Kini Xaviera berada di depan salah satu unit Apartemen. Itu adalah pelanggan baru, dia baru kali ini mengantar kesana. Dia menekan bel.


Ceklek.


Seorang pria dengan rambut acak-acakan, nafas bau minuman beralkohol dengan tubuh bagian atas ber telanjang dada. Refleks Xaviera mundur, dia trauma dengan pria dan bau alkohol.

__ADS_1


"T-tuan, ini pakaian Anda dari Jessica Laundry."


"Emm.."


Pria asing itu hanya bergumam tak jelas, pria itu mengambil pakaian yang disodorkan Xaviera tapi tiba-tiba mata ngantuk pria itu membelalak.


Xaviera semakin memundurkan tubuhnya, saat pria itu maju mendekatinya dia kemudian lari sekencang-kencangnya.


"Hei!!! Kau!!!"


Xaviera tak menghiraukan teriakan panggilan dari si pria asing itu, dia terus berlari masuk ke dalam lift dan saat pintu lift tertutup seketika dia bernafas lega, "Hahhhhh... hahhhh..." Dia menarik nafas beberapa kali dan menghembuskan nya.


Tapi sayang bagaimana pun dia menghindar, saat kembali ke tempat laundry telepon dari unit Apartemen tadi menyuruh nya kembali.


"Aku nggak mau, Kak Heyna!" tolak Xaviera pada Manajer-nya.


"Xavi, dia bilang ada sesuatu yang harus ditanyakan tentang pakaian-nya yang tadi kamu bawa. Dia bilang kalau kamu datang, dia tak akan meminta ganti rugi. Plisss, Xavi. Kerugian kemarin saja, kita belum bisa menggantinya."


Xaviera menggigit bibir bawahnya, "Ok, tapi katakan padanya jangan berbuat macam-macam padaku. Atau Kak Heyna akan melapor pada polisi."


Akhirnya Xaviera berkompromi, Kak Heyna sang Manajer mengangguk setuju.


Xaviera kembali lagi ke unit Apartemen si pria asing tadi, berbekal semprotan merica di dalam tas-nya. Sekali lagi dia memijit bel pintu, tak lama pintu terbuka dan si pria tadi sudah berpakaian rapi dan juga wangi tidak bau alkohol seperti tadi.


"Masuk, maaf tadi mengagetkanmu." Ucap si pria asing bicara ramah.


Xaviera semakin curiga mendengar nada ramah dari pria asing itu, tapi dia tadi sempat menanyakan nama pelanggan baru mereka itu, Manajer mengatakan nama pelanggan ini adalah Andrew Carver.

__ADS_1


__ADS_2