
Lama Vicenzo menunggu diluar hotel, ia sudah tak sabar di dalam mobilnya.
"Tuan muda, kita sudah mengantongi identitas lelaki yang bersama Nyonya Xaviera. Dia adalah putra satu-satunya keluarga Lincoln, kakak dari Nona Deliyah," ujar Zayn.
Bola mata Vicenzo membesar karena terkejut dia tak menyangka akan kebetulan ini.
"Lalu?"
"Hanya itu Tuan muda, mungkin Billy butuh waktu lagi untuk lebih banyak mendapatkan data Tuan muda Lincoln ini."
Vicenzo mengangguk "Apa Xaviera tahu identitas lelaki itu? Apa karena pria itu, Xavi menolakku?" gumamnya.
"Zayn, siapa namanya?"
"Lionel, Tuan muda Lionel."
Akhirnya para tamu keluar, tak jauh darinya Xaviera menggandeng lengan seorang pria yang adalah Lionel keluar dari hotel.
"Aku ingin sekali menarik Xaviera sekarang, tapi disini banyak orang. Ikuti mereka, tidak usah sembunyi-sembunyi. Jika bisa dempet saja mobil itu, Zayn."
"Baik, Tuan muda."
Mobil yang dikendarai Lionel keluar dari area hotel, mobil Vicenzo mengikutinya dari belakang.
Setengah perjalanan Lionel merasakan seseorang membuntuti mobil yang dikendarainya, ia terus melirik dari kaca spion tapi tak bisa melihat orang-orang di dalamnya. Dia melajukan mobilnya lebih kencang, ingin melihat apa mobil di belakangnya terus mengikutinya atau tidak. Ternyata benar! Dia diikuti!
"Ada apa, Lionel?" Xaviera merasakan mobil terlalu cepat.
"Ada yang mengikuti kita," jawab lelaki itu.
Xaviera melihat ke arah mobil belakang dari kaca spion, sepertinya dia bisa menebak siapa yang mengikuti mereka.
__ADS_1
"Berhenti disini, Lionel."
"Apa?!"
"Aku bilang berhenti!"
Ciiiiiiiittttttt... !!!
Brakkkkkk.
"Arghttttt, kamu nggak apa-apa Xavi?" dahi Lionel tebentur tapi dia mencemaskan wanita yang duduk di sampingnya.
"Aku baik-baik saja, aku akan turun. Kamu tunggu di mobil," Xaviera membuka seat belt membuka pintu mobil lalu turun.
Dengan amarah memuncaknya wanita itu berjalan dengan menghentakkan kakinya kasar menuju mobil Buggati di belakangnya.
"Vic! Keluar!" Xaviera menggedor gedor jendela mobil.
Karena kakinya masih sakit, Vicenzo berdiri bertumpu bersandar di samping mobil. "Kamu baik-baik saja?"
Vicenzo sengaja menyuruh Zayn menabrakkan mobilnya pada mobil yang dinaiki Xaviera, tapi dengan pelan agar Ibu dari ketiga anaknya itu baik-baik saja.
"Setelah kau mengikutiku dan menabrak mobilku, kau bertanya aku baik-baik saja?! Tentu saja tidak! Ada apa denganmu Vic!?"
"Di atap tadi aku sudah bilang, Xavi. Aku akan terus datang kepadamu! Kamu adalah milikku!"
"Kau!" Xaviera menggertakkan giginya menahan amarahnya.
"Tuan muda, Nona Caitlin sakit perut! Nona baru saja meneleponku!" teriak Zayn dari dalam mobil.
"Apa?!!" teriak Xaviera dan Vicenzo berbarengan.
__ADS_1
"Nona kecil meneleponku barusan, sebaiknya kita cepat pulang."
"Aku ikut!" panik Xaviera.
"Kamu yakin?" Vicenzo menaikkan sebelah alisnya tak percaya wanita itu berinisiatif sendiri ingin ikut dengannya.
"Yakin."
"Tidak takut?" tanya pria itu lagi.
"Tidak! Aku ingin menemui putriku!"
"Baiklah, masuklah," Vicenzo membuka pintu mobil di bagian belakang, saat Xaviera akan masuk sebuah suara menghentikannya.
"Xavi, kamu mau kemana?"
Xaviera menepuk jidatnya ia lupa dengan Lionel.
"Lionel, kamu pulanglah. Simpan mobilku di tempat biasa, katakan pada Papaku dan Charles aku harus ke suatu tempat sebentar. Tolong ya, Lionel."
"Tapi--"
"Xavi bilang dia harus pergi ke suatu tempat, apa telingamu tak bisa mendengarnya?" ujar Vicenzo dengan suara dingin serta tatapan tajam ingin mendominasi Lionel.
"Oke, Xavi. Nanti telepon aku kalau ada apa-apa."
"Tidak akan terjadi apapun pada Xavi! Aku yang akan menjaganya."
Vicenzo mendorong masuk tubuh Xaviera, setelahnya dia ikut masuk dan duduk di samping wanita itu di bagian belakang.
Mobil pergi dari sana meninggalkan Lionel dengan wajah kesalnya.
__ADS_1