
Bab.16
Vicenzo melihat keaadan Charles sebentar, anak itu masih seperti tadi. "Aku harus pergi lagi."
"Pergilah, kamu pasti banyak yang harus diurus. Aku sudah biasa sendiri, ada tidak nya kamu tidak ada pengaruhnya," jawab cuek Xaviera.
Manik biru Vicenzo menatap tak berkedip wajah Xaviera, dia tau wanita itu sedang menyindirnya tapi entah kenapa dia tak merasa kesal sama sekali. "Baiklah, aku juga akan memeriksa keadaan Charlie dan Caitlin. Apa saat mereka bangun, aku harus membawa mereka kemari?"
"Ya, bawa saja kemari. Aku sudah menelepon Papa-ku, dia akan datang dan membawa Charlie serta Caitlin. Tidak baik untuk si kembar berada dekat dengan saudaranya yang sakit, mereka mudah sekali tertular. Akhirnya ketiganya akan sakit."
"Kamu bisa menitipkan anak-anak padaku, Xaviera..."
"Tidak usah, Tuan pergilah."
Vicenzo menarik nafas panjang, dia tak berkata apapun lagi berbalik beranjak berjalan dengan langkah ragu keluar kamar. Ia masih ingin bicara dengan wanita itu, tapi dia juga tak bisa egois dengan tak mengurus tunangannya. "Hahh..." dessahnya lalu membuka pintu dan keluar. Pintu kembali tertutup rapat.
Vicenzo menitip pesan pada pengawalmya jika si twins bangun untuk mengantarkan mereka pada Mommy-nya di ruang rawat Charles.
"Ya, Tuan."
Vicenzo berjalan ke kamar rawat Anetta, saat masuk dia hanya melihat calon Papa mertuanya. "Anetta, makanan sudah datang masih hangat ayo makan."
"Makasih, Vic. Suapin aku..."
__ADS_1
"Manjamu masih sama, baiklah," laki-laki itu duduk di kursi samping ranjang dan mulai menyuapi tunangan nya itu.
Sedangkan di kamar rawat Charles, Mama Anetta benar-benar sedang murka. "Wanita sialan! Kau disini merayu dan menggoda calon menantuku, sedangkan putriku terbaring lemah di kamar rawat lain karena ulahmu! Benar saja dugaanku, kau hanya ingin memanfatkan calon menantuku! Lihatlah ruang rawat ini adalah yang termahal di rumah sakit ini! Dasar sun dal penggoda!"
Xaviera tak ingin Charles terganggu, dia bangun dari kursinya berjalan dengan pandangan menusuk pada si Nyonya tanpa bicara apapun dia mencekal lengan si Nyonya menyeret keluar dari ruangan itu keluar.
Brak.
Pintu tertutup, kini mereka berdua ada diluar kamar rawat.
"Nyonya, apa Anda tak pernah diajarkan sopan santun. Anda masuk begitu saja bahkan langsung berteriak marah, apa Anda tidak mempunyai seorang anak?! Anda tidak melihat ada yang sedang terbaring sakit di atas ranjang! Kenapa Anda harus berteriak, bicaralah dengan saya secara baik-baik!" Xaviera tak kalah marahnya
"Beraninya kamu!" telunjuk wanita kaya itu menekan tubuh Xaviera, "Aku adalah Nyonya dari keluarga terpandang! Beraninya kamu berteriak padaku!"
"Kenapa dengan bicaraku?! Aku berkata yang sebenarnya, kau adalah penggoda calon suami orang!"
"Nyonya, ada apa?" Anderson, si pengawal yang membawa Charlie dan Caitlin yang baru bangun memotong pembicaraan kedua wanita itu.
"Ah, aku kebetulan lewat. Merasa mengenali wanita ini, aku hanya datang menyapa," ujar Mama Anetta setelahnya wanita kaya itu ngeloyor pergi dari sana.
"Mommy, aku ketiduran. Maaf," ujar Charlie.
"Caitlin juga ketiduran malah lupa mau bawa minum buat Mommy, apa Mommy haus?"
__ADS_1
Xaviera menahan rasa sesak di dadanya karena terus dihina wanita kaya itu, dia tersenyum seraya menggeleng. "Mommy gak haus, Kakek Andreas bentar lagi jemput. Ayo masuk..."
Xaviera lalu menatap pria muda yang mengantar kedua anaknya, "Kanapa kamu yang mengantar? Kemana Tuan mu?"
Anderson si pengawal hanya diam, menutup mulutnya rapat. Dia tak ingin keceplosan jika Tuan-nya sedang bersama sang Tunangan.
Tapi setelah mendengar ucapan si Nyonya kaya tentang putrinya yang juga dirawat di rumah sakit ini, sepertinya dia tau kemana perginya pria itu. Bahkan seorang Anetta yang masih lengkap orang tuanya dan pasti banyak yang menjaganya, pria itu tetap pergi menemaninya. Sedangkan putranya masih terbaring lemah disini belum kedua anaknya yang lain meskipun pria itu menitipkan pada seorang pengawal tapi apa lelaki itu tidak keterlaluan. Hanya karena tadi dia bilang tidak ada pengaruhnya jika pria itu ada atau tidak, tapi bukankah setidaknya pria itu mengurus kedua anaknya yang lain bukan dititipkan?! Apa ucapan Vicenzo yang tadi meminta agar dirinya menitipkan anak-anak pada pria itu hanya omong kosong belaka?!
"Xavi, Papa datang." Andreas tergopoh-gopoh setengah berlari.
"Pah, makasih sudah datang. Jika tidak mendesak, aku tak ingin merepotkan Papa."
"Kamu ini, Papa bilang andalkan Papa. Jadi bagaimana keadaan Charles?
"Bisakah kita memindahkan nya ke rumah sakit lain, Pah?"
"Ada apa? Sebentar, ruang rawat ini sangat mahal? Apa terjadi sesuatu, Xavi?"
"Nanti Xavi ceritakan sama Papa, untuk saat ini bisakah kita pergi. Aku akan menggendong Charles, Papa bawa Charlie dan Caitlin."
"Nyonya, Anda harus meminta ijin terlebih dahulu pada Tuan." Ujar Anderson si pengawal.
"Aku tak butuh ijin darinya, dia bukan siapa-siapa kami! Bilang padanya jangan mencampuri urusanku lagi, urus saja tunangan nya itu!" bentak Xaviera pada si pengawal.
__ADS_1
"Tunggu Pah, aku gendong Charles dulu," Xaviera membuka pintu berjalan dengan cepat ke ranjang rawat lalu menggendong Charles yang masih tertidur. Wanita itu keluar kamar lalu bersama-sama dengan Papa tirinya pergi dari rumah sakit itu.