
Bab.20
Vicenzo terengah-engah setelah memukul sepupunya, ia menahan amarahnya yang masih memberontak untuk dilepaskan.
"Kau sepertinya sudah menonton isi flashdisk, Vic. Bagaimana? Bukankah tubuh Xaviera sangat sexy, tubuhnya sangat molek. Kau harusnya berterima kasih padaku karena bisa mencicipi tubuh seindah itu.... Hahahhaa..."
Tubuh Vicenzo memberontak dari cekalan Zayn, tapi pemuda yang menjadi pengawalnya itu dengan sekuat tenaga menahan tubuh memberontak Tuan mudanya.
"Aku akan membunuhmu bajingan!"
"Ah, apakah setelah mengetahui perbuatanmu pada perempuan itu kau akan membatalkan pernikahanmu dengan Anetta?"
"Itu bukan urusanmu!" geram Vicenzo.
"Tentu saja itu adalah urusanku juga, karena aku melakukan semua ini karena ingin mendapatkan kekasihku kembali." Ujar Andrew secara lantang.
"Kekasihmu?"
"Ya, kekasihku. Anetta. Kau terlalu bodoh, Vic. Aku bukan hanya teman Anetta tapi kami adalah sepasang kekasih sejak sekolah. Bahkan kami sudah tidur bersama, wanita itu adalah milikku."
Mata Vicenzo membelalak, tubuhnya seketika tak bertenaga. Jadi selama ini dia sudah ditipu wanita itu, Anetta selalu mengatakan jika wanita itu masih perawan dan akan memberikan kesucian untuknya.
"Kenapa kau tak pernah mengatakannya padaku? Apa kalian masih melakukan hubungan di belakangku selama ini?
Andrew menatap sepupunya dengan berani. "Saat Anetta kuliah di London, aku menyusulnya dan kami terus berhubungan dengan sembunyi-sembunyi. Orang tua Anetta kau mengenal mereka dengan pasti, mereka dulu menolakku dan menyuruhku menjauhi Anetta. Tapi aku tetap tak bisa melepaskan Anetta meskipun perjodohan kalian terjadi. Dulu kami memang sepasang kekasih tapi saat Anetta menjadi tunanganmu dia mengatakan jika hubungan kami hanya sebatas saling memuaskan. Anetta mengatakan kau tak pernah menyentuhnya, membuatnya mengingikanku. Tapi kau tau apa yang dia katakan lagi? Dia berkata hanya kau yang pantas menjadi suaminya karena kau adalah pilihan keluarganya dan dia tak bisa menolak."
__ADS_1
Kini mata Vicenzo terbuka sepenuhnya dari kebodohannya, kini bahkan dia sudah tak emosi lagi. Saat mendengar tentang kebusukan dari wanita yang selama ini menjadi tunangannya, anehnya hatinya malah merasa lega. "Ambillah, aku berikan Anetta padamu."
Setelah mengatakannya, Vicenzo berjalan dengan tegap keluar dari Apartemen sepupunya.
Tiba-tiba pria itu tersenyum, akhirnya dia sudah menentukan apa yang berharga untuknya kini. "Daddy datang anak-anak. Aku datang, Xaviera. Kau adalah wanitaku, milikku."
Vicenzo tidak masuk ke dalam mobil, dia terus berlari semakin kencang seraya terus berteriak. "Aku adalah seorang Daddy !!! Aku adalah seorang Daddy !! Aku adalah pria bebas, aku akan menjalani hidupku sendiri !!"
Zayn Anderson masuk ke dalam mobil menyalakan mobil lalu mengikuti Tuan muda-nya yang sedang berlari menggila tapi bibirnya tersenyum sepertinya pria yang menjadi majikannya itu sudah mulai mengerti apa artinya hidup.
30 menit kemudian mobil Vicenzo sudah berada di depan tempat kerja Xaviera, Jesicca Laundry.
Tadi di dalam mobil dia menelepon Anetta dan memutuskan pertunangan secara sepihak, wanita itu bertanya padanya sambil menangis tapi ia hanya bilang jika mereka tak berjodoh.
"Apa benar ini tempatnya?" tanyanya pada Zayn.
"Oke," Vicenzo melangkahkan kakinya yang panjang menuju pintu kantor. Saat pria itu masuk dengan wajah tampan mendominasi dan tubuh atletis yang di impiakan semua wanita. Staff wanita yang bekerja disana menatap lelaki itu seraya berpikiran me sum dalam otak mereka.
"Ada yang bisa dibantu, Tuan?" tanya si manajer laundry, Heyna.
"Aku ingin nomer telepon pegawai disini yang bernama Xaviera, atau mungkin Anda tau di rumah sakit mana putranya dirawat? Xaviera pasti meminta ijin karena tak bisa bekerja, bukan?"
"Kalau boleh tau, Anda siapanya Xavi?" tanya sang manajer penasaran.
"Calon suaminya, akan menjadi Daddy dari anak-anaknya." Dengan bangga Vicenzo berkata.
__ADS_1
"Hahhhhhh!" semua orang terkejut, yang mereka tau selama ini Xaviera adalah single parent bahkan sering kekurangan uang. Tapi kini melihat penampilan lelaki kaya juga sangat tampan sempurna mengaku calon suami dari Xaviera yang berpenampilan lusuh dan tidak cantik apalagi mengaku sebagai Ayah dari ketiga anak wanita itu, sampai mati pun mereka tak bisa mempercayainya.
"Anda bercanda 'kan, Tuan. Haha... saya sudah kaget."
Vicenzo menatap tajam pada sang Manajer, "Kenapa kamu bilang saya bercanda?"
"I-itu karena penampilan dan kehidupan Xavi saat ini yang tidak mungkin ada seorang pria menyukainya apalagi menikahinya. Tuan, apalagi Anda. Itu tidak mungkin."
"Aku adalah Ayah kandung dari anak-anak kami, aku juga sangat menyukai penampilan apa adanya Xaviera. Calon istriku, paham? Jadi jangan pernah menghina penampilannya lagi."
"Maaf, maaf Tuan. Saya tidak bermaksud menghina penampilan Xavi. Dia adalah wanita baik, juga pegawai yang baik dan selalu membantu kami. Maaf..."
"Baiklah, jadi mana nomer ponsel dan alamat rumah sakit jika kau tau."
"Sebentar, Tuan. Ah... apa Xavi bisa membayar biaya rumah sakit? Selama ini dia selalu kesusahan mencari uang untuk putranya berobat, Tuan."
"Aku akan urus."
"Apa hutang Xavi pada Nona dari keluarga Ansell juga Anda akan mengurusnya, Tuan?"
"Hutang pada keluarga Ansell? Siapa?"
"Nona Anetta Ansell, beberapa minggu lalu Nona Anetta memarahi dan menghina habis-habisan Xavi bahkan meminta ganti rugi gaunnya yang seharga 200.000 dollar. Xavi sangat malang..."
"Ceritakan semuanya tentang Xaviera yang kau tau."
__ADS_1
Sang manajer mulai bercerita tentang kehidupan Xaviera selama bekerja di laundry, juga bercerita tentang wanita itu harus membayar uang pada Anetta Ansell.
Vicenzo keluar dari laundry dengan geram, satu lagi dia mengetahui kebusukan Anetta. Ternyata wanita itu selama ini hanya berpura-pura bak malaikat yang sering datang dan memberi sumbangan ke panti-panti sosial. Ternyata itu hanya lah topeng wanita bermuka dua itu.