
Bab.25
Semua orang di dalam ruangan berteriak panik, dengan cepat salah satu penjaga diluar pintu memanggil Dokter keluarga yang tinggal di belakang Mansion.
Andrew tersengal sengal seraya memegangi perutnya yang tertembak, ia menatap nanar ke arah Anetta. Tapi wanita itu jangankan mendekatinya menatap wajahnya pun tidak. Apa kamu begitu takut hubungan kita akan terbongkar Anetta? Kamu bisa tenang sayang, sampai mati pun aku tak akan pernah menyakitimu dan aku akan memberikan keinginanmu.
Obsesi cinta Andrew pada Anetta benar-benar membuatnya tak memperdulikan segalanya selain wanita itu. Sudah sejak lama lelaki yang terbaring bersimbah darah di lantai dingin itu melupakan akan pertalian persaudaraannya dengan Vicenzo bahkan tak menghargai kebaikan Vicenzo padanya selama ini. Cinta telah membutakan segalanya!
"Vic... " lirih Andrew.
Vicenzo akhirnya tersadar dari keterkejutan nya, dia mendekati Andrew yang terbaring dibawah kakinya.
"Andrew bertahanlah."
Tangan Andrew terulur padanya, dengan cepat ia mengenggam tangan sepupunya itu.
"Mendekatlah padaku... hhhh..." suara Andrew melemah.
Vicenzo mendekatkan wajahnya pada Andrew.
"Menikahlah dengan Anetta.... jika aku mati jiwaku akan tenang meninggalkannya padamu... dia sangat menantikan pernikahan denganmu... Hhhhh..."
"Cukup! Jangan katakan apapun lagi. Kau tidak akan mati, Dokter akan segera datang."
__ADS_1
"Hhhh.... arghtt..." tubuh Andrew bergetar hebat.
"Andrew!!!" teriak Mama Vicenzo, Andrew adalah putra kakak lelakinya bagaimana ia harus mempertanggung jawabkan sebagai seorang bibi jika terjadi sesuatu pada keponakannya itu.
Dokter keluarga berlari dengan tergopoh gopoh, langsung memeriksa luka tembak dan denyut nadi Andrew.
Tuan besar Gladwin merasa ini adalah kesempatan untuk mengancam putranya untuk menikahi Anetta, bagaimana pun wajah terhormatnya harus terjaga di mata umum. Apalagi ia tak akan membiarkan cucu-cucunya diasuh oleh Ibu kandung mereka yang berasal dari kelas rendahan.
"Vicenzo! Jika terjadi sesuatu pada Andrew! Kau harus mempertanggung jawab kan perbuatanmu!" teriak Tuan besar pada Vicenzo. "Dokter Felix, bawa Andrew ke ruanganmu. Periksa Andrew disana!"
Dengan cepat para penjaga membantu memindahkan tubuh Andrew ke ruangan khusus Dokter dari keluarga itu. Hanya Tuan besar Gladwin yang ikut masuk ke ruangan itu, diluar pintu dijaga dengan ketat oleh para penjaga.
Lima jam kemudian Dokter Felix mengatakan kabar jika nyawa Andrew tak bisa tertolong lagi karena mengalami pendarahan hebat.
Xaviera dan si kembar berada di ruangan kamar besar lainnya, mereka tak bisa keluar terkunci di dalam ruangan.
Ceklek.
Pintu terbuka, Nyonya besar Gladwin masuk ke dalam ruangan dengan dua orang pelayan. Wajah sang Nyonya begitu menyedihkan matanya sangat sembab.
"Xaviera 'kah namamu?" tanya sang Nyonya besar bertanya dengan lembut saat sudah berhadapan.
Xaviera mengerenyitkan keningnya, dia merasa heran tiba-tiba sang Nyonya yang awal bertemu dengannya seperti tak menyukainya tapi kini bersuara lembut padanya. "Ya, Nyonya. Nama saya Xaviera."
__ADS_1
"Aku tak ingin menyakitimu, aku sudah cukup terluka dengan keadaan Vicenzo. Dia adalah putraku satu-satunya. Bisakah kita bicara berdua saja, biarkan para pelayan mengasuh si kembar sebentar saja."
Xaviera menggeleng, dia semakin memeluk erat kedua anaknya. Dia juga tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada Vicenzo sampai membuat si Nyonya bersedih.
"Mereka adalah cucuku, aku takkan pernah menyakiti mereka. Jika kamu ingin keluar dari Mansion ini, menurutlah padaku. Aku akan membantumu."
Xaviera menatap sedih pada kedua anaknya, tapi dia memang harus keluar dari sana dia akhirnya mengangguk.
"Pergilah dengan para pelayan itu anak-anak, Mommy akan bicara sebentar dengan Nyonya ini. Tidak apa-apa, kan?"
Mata Caitlin sudah basah, air mata seketika tumpah dari mata mungil gadis kecil itu dengan bibir yang bergetar.
"Sayang, mereka tidak jahat. Kita harus keluar dari sini, Charles masih menunggu kita di rumah sakit. Kalian berdua sayang Charles, bukan?"
Charlie akhirnya menarik tangan Caitlin, berjalan mendekati kedua pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka.
Xaviera menatap pelukannya yang kosong saat keduanya menjauh, seketika air mata mengalir ke wajahnya. "Kalian tunggu Mommy, ya."
"We love you, Mommy." Ujar keduanya berbarengan.
"Love u too, baby." Xaviera mengecup dari jauh keduanya.
Sampai akhirnya wajah keduanya tak terlihat lagi saat pintu ruangan tertutup. Kini di ruangan itu hanya ada Nyonya besar dan Xaviera.
__ADS_1