
Hans yang melihat Nana terdiam saja membuat Hans tiba-tiba memeluk Nana, Nana terkejut dengan Hans yang tiba-tiba memeluknya. Nana memberontak karna tidak ingin di peluh oleh Hans, Hans semakin erat memeluk Nana dan berkata
" biarkan aku memelukmu sebentar " kata Hans yang memeluk Nana dengan hangatnya dan dengan sangat senangnya setelah beberapa hari tidak bertemu
Nana berhenti memberontak dan membiarkan Hans memeluknya, beberapa menit kemudian Hans masih tidak melepaskan pelukannya. Nana mulai merasa ada yang salah dengan Hans
" tuan muda Hans " panggil Nana kepada Hans yang sedang memeluknya
Hans tidak menjawab apapun, Nana melihat Hans dan ternyata Hans tertidur pulas di pelukan Nana karna kelelahan, Nana segera menghindar dan Hans hampir terjatuh kelantai karna Nana tiba-tiba mundur, akhirnya Hans terbangun dan segera merapikan pakaiannya lalu segera berbalik dan berjalan ke mejanya
" ehem... kamu sudah boleh keluar " ujar Hans dengan berbalik dan menatap Nana
" huh. habis manis sepah di buang " dalam hatinya Nana dengan merasa sangat marah dan menggenggam erat tangannya terasa ingin menonjok wajahnya Hans
Nana berbalik dan berjalan dengan masih sedikit pincang-pincang. Hans yang melihat Nana berjalan pincang-pincang segera menghentikan Nana dan menghampiri Nana lalu menggendong Nana, Nana terkejut dengan sikapnya Hans hari ini
Nana terus memberontak dan menyuruh Hans untuk menurunkannya, tapi Hans tidak berkata apa-apa malah ingin membawa Nana ke sofa. Nana terus memberontak dan memukuli Hans, namun Hans masih tetap menggendong Nana. tiba-tiba Nana menggigit telinganya Hans, lalu Hans terkejut dan wajahnya mulai memerah di buat Nana. Hans berkata
" diamlah atau aku tidak dapat menahan diriku sendiri " ujar Hans dengan menggendong Nana dan membawanya ke sofa
Nana akhirnya terdiam dan berhenti memberontak, Hans meletakkan Nana di atas sofa dengan sangat lembut dan baik. lalu Hans menjongkok dan melepaskan sepatunya Nana, Nana tidak mengizinkan Hans untuk melihat kakinya. namun Hans bersih keras untuk melihat kakinya Nana lalu akhirnya berhasil melihatnya dan memijatnya dengan sangat lembut
Nana merasa malu dengan Hans dan wajahnya memerah dan menatap Hans yang sedang memijat kakinya Nana, Hans menyadari kalau Nana sedang menatapnya. Hans berkata
" aku tau kalau aku itu tampan, tapi kamu tidak usah menatap begitu juga " ujar Hans dengan menatap Nana kembali
Nana segera menghindar tatapan mata dari Hans, dan mengalihkan pandangannya ke arah lainnya dengan berkata
" cih. siapa yang menatapmu, gunung es " jawab Nana dengan melihat ke arah lainnya
Hans terkejut lalu tersenyum melihat tingkah laku Nana yang begitu manis ketika marah. Nana melirik Hans yang sedang tersenyum sambil memijat kakinya bertambah merah wajahnya karna senyuman Hans yang begitu manis
__ADS_1
" sudah merasa baikan? " tanya Hans dengan melihat Nana dengan tatapan penuh dengan bertanya-tanya
" ya... sudah baikan " jawab Nana dengan terbata-bata dan menghindari tatapan mata
Hans bangun dan duduk di sampingnya Nana dan berkata
" bagaimana kakimu bisa membengkak? " tanya Hans dengan menghela nafas
" ah... sepertinya tuan muda Hans tidak baik ikut campur masalah pribadi seorang bawahannya " jawab Nana dengan duduk menjauh dari Hans
Hans merasa tidak suka dengan jawaban Nana yang barusan, Hans segera mendekat kepada Nana dan sangat dekat dengan berkata
" sayang, kita ini adalah tunangan. apakah kamu lupa? " kata Hans dengan menatap Nana dengan tatapan penuh dengan rasa tidak suka dengan perkataan Nana yang tadinya
Nana menghindari tatapan mata dengan Hans. tiba-tiba seseorang masuk dengan tidak mengetukkan pintu dengan berteriak-teriak memanggil Hans, Nana langsung mendorong Hans sehingga Hans duduk di atas sofa dengan baik sambil merapikan pakaiannya
" ada apa? " tanya Hans dengan menundukkan kepalanya
" selamat datang pak direktur " balas Nana dengan menatap kembali ke arah Aditia
Hans yang melihat Aditia yang mengabaikannya dan hanya memperhatikan Nana menjadi muram. Aditia merasakan tekanan yang tinggi di sampingnya dan baru menyadari kalau masih ada Hans di sampingnya Nana
" ehem " batuk Hans memperingatkan bahwa masih ada dia disampingnya Nana
" Hans " panggil Aditia dengan melihat ke arah Hans dan menjadi tidak berani menatap Nana lagi
Nana segera bangkit dari tempat duduknya dengan membungkukkan badannya lalu meminta izin untuk keluar dari ruangan. Hans hanya diam saja dengan menundukkan kepalanya, Aditia kembali melihat ke arah Nana dengan tatapan penuh dengan rasa suka
Nana segera keluar dari ruangan Hans, Aditia terus-menerus menatap Nana sampai Nana hilang dari pandangannya lalu berkata kepada Hans
" Hans, berikan saja yang satu ini untukku. kamukan masih banyak yang mengantri di luar sana " ujar Aditia dengan mata berbunga-bunga melihat Nana
__ADS_1
Hans marah dan semakin marah mendengar perkataan Aditia dan tekanan yang di rasakan oleh Aditia semakin besar
" sepertinya kamu butuh liburan " ujar Hans dengan senyuman iblis kepada Aditia
" tidak... tidak ( siapa yang ingin liburan jika ke Antartika, apalagi hanya ada pinguin di sana tanpa wanita cantik ). kamu terlalu perhatian kepadaku, aku masih belum ingin berliburan " balas Aditia dengan mengusap air matanya
" ada apa kamu mencariku " ujar Hans dengan serius kepada Aditia
Aditia mulai serius jika dalam sebuah kerjaan. Aditia menceritakan kepada Hans tentang bangkrutnya keluarga Khanza dalam semalam, dan juga keluarga mengalami pencurian. barang antik yang telah di jaga selama 3 tahun dengan sangat baik juga ikut hilang
" apakah wanita itu sudah kembali? " tanya Hans dengan sangat penasaran
" sepertinya bukan, karna pencurian sangat berbeda dengan gadis yang 3 tahun lalu. tapi aku heran mengapa mereka menggunakan lambang bintang bulan seperti gadis itu, apa tujuan mereka " jawab Aditia dengan sangat seriusnya
" berarti ada organisasi baru yang sedang ingin populer menggunakan identitas gadis itu " kata Hans dengan menatap Aditia
Aditia hanya diam saja, dan tiba-tiba Aditia terkejut dengan Hans yang tersenyum membuat Aditia merasa takut yang melihat Hans yang tersenyum tiba-tiba
" Hans, aku merinding melihat senyumanmu " ujar Aditia dengan menggigil karna senyuman Hans
" itu juga suatu hal bagus " kata Hans Dengan seriusnya
" maksud kamu. mereka bisa memancing gadis itu untuk keluar dan kamu akan bertemu dengannya lagi. wow sungguh sangat menarik " kata Aditia dengan tertawa
" segera cari tau mereka berasal dari organisasi mana " Hans
" baik. tapi Hans, jika kamu sudah bertemu kembali dengan wanita itu. kamu berikan Kirana kepadaku ya " kata Aditia
Hans tetap masih tidak ingin membiarkan Nana menjadi milik orang lain, dan masih memberikan tekanan kepada Aditia jika merebut Nana darinya. Aditia segera keluar dari ruangan karna takut Hans marah kepadanya dan mengirimnya ke Antartika
__ADS_1