PACAR KU BOSS

PACAR KU BOSS
PERHATIAN


__ADS_3

Lili meninggalkan aku dan kakak Khen berduaan di kamar, kakak Khen tiba-tiba mendekat padaku dan duduk di samping ranjangku, aku duduk di atas ranjang sambil menatap kakak Khen. kakak Khen duduk sambil menatapku dan tersenyum dengan sangat-sangat lembut, entah mengapa aku merasa semakin aku perhatikan kakak Khen makin hari makin membuatku nyaman dan aman berada di sampingnya seolah-olah aku sedang di lindungi oleh sosok kakak yang sangat menyayangi adiknya.


" Nana, cepat sembuh ya! " ucap kakak Khen dengan senyuman manis dan membuat hatiku tenang melihat senyumannya. aku menatapnya sambil mengangguk-anggukkan kepalaku dengan cepat seperti seorang adik yang takut dimarahi oleh kakaknya.


kakak Khen menanyakan berbagai pertanyaan yang menyangkut dengan kejadian tersebut, aku menjawab dan menceritakannya kepada kakak Khen tanpa berbohong sedikitpun. kakak Khen hanya tersenyum sambil memejamkan mata mendengar ceritaku, entah mengapa aku merasa kakak Khen seperti mengetahui sesuatu namun aku tidak bisa berprasangka buruk terhadapnya.


entah bagaimana tiba-tiba saja Hans sudahpun berada di pintu sambil menatapku dengan wajah kosongnya itu, dia mungkin mendengar percakapan antara aku dengan kakak Khen, aku menatapnya sehingga membuat kakak Khen berpaling dan melihat ke arah Hans. kakak Khen melihat kembali ke arahku dan kembali berbicara kepadaku tanpa memperdulikan Hans yang menatap kami berdua seolah-olah aku dan kakak Khen tertangkap basah selingkuh di belakang pacarku.


" Nana, kau kenal Presdir GW? " tanya kakak Khen dengan terseyum tertutup mata kepadaku seolah-olah tidak ingin aku ada hubungan apa-apa dengan Hans.


" hmm iya, dia atasanku " jawabku sambil tersenyum canggung dengan Hans, Hans menatapku dengan tatapan tidak suka entah mengapa aku merasa dia sedang cemburu dengan kakak Khen dan marah dengan jawabanku bahwa dia atasanku.


setelah mendengar perkataanku dia tiba-tiba mendapat telepon dari seseorang, dia tampak sangat marah ketika berbicara dengan telepon. kakak Khen menatapku tanpa berpaling sedikitpun sedangkan aku melihat Hans yang sedang berbicara dengan teleponnya, kakak Khen tiba-tiba berdiri dengan berkata


" Nana, istirahatlah. aku harus kembali, ada sesuatu yang harus aku lakukan " ucapnya dengan tersenyum manis kepadaku, aku membalas senyumannya dengan menatapnya. siapa sangka Hans yang melihatku tersenyum kepada kakak Khen bertambah marah, kakak Khen melewati Hans sambil tersenyum kepada Hans tapi Hans hanya menatap kakak Khen dengan wajah kosongnya itu.


setelah kakak Khen keluar dari ruanganku, Hans segera masuk ke dalam ruanganku dengan menutup pintu ruangannya lalu segera berjalan ke arahku, aku mengangkat sebelah keningku sambil menatap Hans. dia menatapku dengan tatapan yang sangat marah seolah-olah ingin membunuhku dengan matanya itu, dia memegang bahuku dan langsung mengecup keningku lalu melepaskan pegangannya. aku terkejut dengan Hans yang tiba-tiba mengecup keningku, dia juga mengelus kepalaku seakan-akan aku seeokor kucing yang terbuang yang membutuhkan seorang majikan.


" istirahatlah " ucap Hans dengan mengelus lembut kepalaku, aku hanya menatapnya dengan bengong karna sifatnya yang tiba-tiba menjadi lembut seperti marshmellow. dia mengangkat tangannya dan memegang bahuku lalu merebahkanku ke ranjang supaya aku tidur, aku memalingkan wajahku menghindari tatapan mata dengannya, aku tak tau kenapa dia bersikap seperti itu yang pasti dia mau aku beristirahat agar bisa di perlakukan semaunya besok.


" aku hanya kebetulan lewat, jadi jangan berpikir kalau aku ingin menjengukmu " ucapnya dengan sombongnya, aku yang mendengar perkataannya terkejut dan terkekeh. orang yang melihatnya pun tau kalau dia sedang menyangkal perkataannya sendiri.


" iya, aku tau " jawabku dengan sedikit tersenyum melihat wajahnya yang malu-malu itu tampak sangat imut seperti seekor rubah kecil namun ada maksud lain. aku segera berbalik dan memejamkan mataku dengan Hans yang belum keluar dari ruanganku, dia masih berdiri di belakangku seperti sedang menungguku tertidur. aku yang tak sanggup lagi untuk menahan rasa lelahku akhirnya aku terlelap karna hari pun sudah mulai gelap.


keesokan subuh nya


aku merasa sangat hangat dan sedang memeluk bantal guling yang begitu besar dan panjang tiada ujung, aku merasa ada yang aneh karna aku sedang berada di rumah sakit kenapa ada bantal guling. aku ingat terakhir kali setelah aku di jenguk oleh Hans aku tertidur lelap karna tidak sanggup menahan rasa lelahku. aku membuka mataku pelan-pelan dan melihat dada yang lebar begitu indah dan kekar aku memegang dan cubit-cubitnya tanpa melihat siapa terlebih dahulu. aku akhirnya berhenti dan mengangkat kepalaku melihat badan siapakah ini, aku melihatnya dan terdiam tanpa sepatah kata pun karna aku juga malu setelah mencubit-cubit bodinya yang bagus itu.

__ADS_1


" sudah cukup cubit-cubitnya? " tanya Hans dengan menatapku sambil tersenyum kepadaku, aku terdiam dan langsung mendorongnya hingga terjatuh ke lantai.


" kenapa kamu mendorongku? " tanya Hans dengan memegang bokongnya, sepertinya dia kesakitan karna terjatuh ke lantai. aku segera turun dari tempat tidur dan langsung membantunya untuk berdiri, aku memegang lengannya dan mengangkat lengannya dan meletakkan di bahuku, sepertinya kakinya terkilir dan tidak bisa berjalan lalu akhirnya aku membawanya ke sofa.


" kakimu tidak apa-apa? " tanyaku dengan memegang kakinya dengan menatap nya dan saling bertatapan, tiba-tiba kakinya bertambah sakit entah perasaanku saja atau benarnya dia mulai mengerjaiku.


" sakit, sepertinya aku tidak bisa berjalan lagi " ucapnya dengan menahan rasa sakit, aku segera bangun hendak ingin memanggil dokter untuk di periksa namun dia menghentikanku untuk pergi dan menarik tanganku.


" mau kemana? " tanya Hans sambil menatapku dengan mata yang terbinar-binar, aku tak tau mengapa hatiku luluh melihat mata yang seperti itu dan tak sanggup menahan perasaanku untuk mengelus-elusnya.


" aku ingin memanggil dokter untuk memeriksamu " ucapku sambil mengelus-elus kepalanya dengan lembut seperti seekor rubah kecil yang sedang dikasihani oleh seekor kucing. sayangnya seeokor rubah tetaplah seekor rubah dan suatu saat akan menunjukkan ekornya.


" jangan pergi, cukup di pijit aja " ucapnya dengan menatapku dengan tatapan sedih, aku tidak bisa menolak dan membungkuk dengan memegang kakinya, aku menyadari sesuatu ketika memegang kakinya bahwa tidak terjadi apa-apa dengan kakinya karna dia hanya berpura-pura saja.


" baiklah " ucapku dengan tersenyum sinis dan mempunyai rancana tertentu, aku walaupun bukan seorang dokter tapi aku sedikit mengerti tentang ilmu kedokteran. aku memijat kakinya dia selalu menatapku tapi aku tidak memperdulikannya dan terus memijat kakinya lalu akhirnya kakinya membengkak.


BONUS UNTUK PARA PEMBACA BARU 😁😁😁






__ADS_1















__ADS_1


__ADS_2