PACAR KU BOSS

PACAR KU BOSS
MALU


__ADS_3

ketika aku mengangkat kakiku hendak ingin turun dari ranjangku, tiba-tiba Lili menghentikanku. aku menatap Lili dengan penuh rasa tanya, mengapa dia menghentikanku untuk menjenguk Zhen. Lili menggeleng-gelengkan kepalanya, aku penasaran kenapa Lili menghentikanku. apa aku bersalah sehingga tidak bisa menemui Zhen atau Hans yang melarangku untuk bisa bertemu dengan Zhen lagi, karna akulah yang membuat Zhen seperti itu. aku sangat penasaran sehingga bertanya kepada Lili.


" Lili, kenapa kamu menghentikanku? " Lili mendesah sambil menundukkan kepalanya terlihat seperti pasrah tak ingin hidup lagi di dunia ini, aku bertambah penasaran kenapa Lili menghentikanku.


" Lili, jawab aku! " aku memegang bahunya Lili dengan menggoyang-goyangkannya. Lili menunduk dan hanya diam saja, tiba-tiba Lili mengangkat kepalanya dan mengatakan beberapa kalimat.


" kau tidak memakai sendal! " ucap Lili dengan tatapan jijik. aku seketika retak bagaikan kaca pecah yang baru saja di lempari batu, tertegun sejenak mendengar perkataan Lili.


" kamu ingin menemui Zhen tanpa memakai sendal? " aku mengaruk-garukkan kepala ku sambil ketawa kepada Lili. aku kadang-kadang suka tidak memakai sendal karna aku pikir lantainya juga tidak kotor, tapi bagi orang yang gila kebersihan pasti akan membuat dia marah.


" Eun, lantainya gak terlalu kotor jugakan? " Lili mendesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menunjukkan ke lantai mengarah ke pintu keluar dari ruangan, nampak ada ribuan jejak kaki yang sangat kotor di atas lantai.


" itu maksudmu tidak kotor? " aku hanya diam tanpa berkata apapun dan langsung memakai sendalku.


" ayo kita jenguk Zhen " teriakku sambil berlari meninggalkan ruangan, Lili mengangkat tangannya ingin menghentikanku tapi tidak jadi karna aku berlari menjauhinya dan menurunkan tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya membuang nafas tak sanggup melihat kelakuanku.


" kek anak-anak TK " ucap Lili berjalan di belakangku menyusulku, aku yang melihat ke arah Lili tanpa melihat ke depan tiba-tiba menabrak seseorang dan aku hampir terjatuh namun tiba-tiba di tangkap oleh orang tersebut.


" terima kasih telah menyelamatkanku " ucapku membuka kedua mataku dan melihat siapakah itu. dan ternyata orang yang telah menangkap dan kutrabrak tersebut adalah Hans yang sedang ingin menjengukku ( GRran sedikit gak apa-apa ya? hihihi ).


" kamu! " aku mendorongnya, aku pura-pura tidak kenal dengan Hans karna Lili sedang melihatku yang sedang berada di pelukannya Hans

__ADS_1


" begitukah caramu memperlakukan orang yang telah menyelamatkanmu? " aku menatapnya dan mengisyaratkan mata menunjukkan ke arah Lili yang menyaksikan aku dan Hans.


" hey temanku ada di sini, bukankah kamu telah berjanji agar tidak sok akrab di depan orang-orang " aku menatapnya dengan berkata sedikit mengecilkan suaraku. dia terlihat tidak berekspresi namun tiba-tiba mendekat dan membisikkan di telingaku.


" berarti kalau sedang berdua aku boleh melakukannya? " bisik Hans di telingaku sampai-sampai pipiku memerah malu dan menahan geli di telingaku yang terhembus lembut oleh nafasnya Hans.


" hey " teriakku sambil menutup telingaku dengan tanganku dan melihat ke arah Lili.


" bekerja samalah, nanti aku akan mentraktirmu ketika gajian pertama " mendekatku sambil membisik dan memberikan isyarat mata kepada Hans, Hans yang tidak memiliki ekspresi langsung berjalan melewatiku dan terus berjalan ke depan.


aku penasaran kenapa dia berada di sini dan bukan sedang menjaga Zhen yang sedang koma, dia juga berjalan lurus tanpa masuk ke ruang apapun. Lili hanya diam saja dan memandang kami seperti sepasang kekasih dari tadi sehingga tidak menggangu kami, namun setelah Hans pergi dia langsung mendekat padaku dan menggodaku.


" sebenarnya apa hubunganmu dengan tuan muda Hans hmm? " senggol Lili padaku


" Lili, bukankah kamarku kamar kedua paling ujung? " tanyaku dengan memerhatikan Hans yang sudah mulai melambat jalannya, karna hampir sampai di ujung ruangan.


" ya, kenapa? " jawab Lili dengan menatapku penasaran karna tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian, dan aku mengerti sesuatu dan terseyum licik dengan menggosok-gosokkan kedua tanganku yang mulai gatal ingin mengerjai seseorang.


" Nana, kenapa aku merasa perasaan aneh ya? " ucap Lili dengan mata melihat ke mana-mana dan terlihat bulu kuduknya berdiri.


" Lili, kamu duluan aja. aku ada yang ke tinggalan " senyumku kepada Lili sambil memegang kedua tanganku.

__ADS_1


" oh. baiklah " Lili meninggalkan aku sendirian, aku berbalik dan segera melaksanakan rencanaku.


" ada apa dengan Nana ya? " ucap Lili bingung dengan sikapku yang berubah-ubah secepat kilat.


Hans yang sudah sampai di ujung ruangan dan mengambil ponselnya dari saku celananya, lalu melihat dari kaca hp ke belakang yang sudah tidak apa siapa-siapa lagi lalu mendesah sambil memejamkan matanya dan berbalik hendak ingin kembali ke ruangan Zhen.


aku berdiri sambil bersandar di dinding dengan menundukkan kepalaku sambil menggigit permen lollipop, Hans melihat dari bawah sampai atas dan nampak terkejut melihatku yang bersandar di dinding.


" sepertinya CEO sedang mencari sesuatu? " ucapku mengejek Hans. dia tampak tenang karna ekspresinya yang selalu sama di setiap saat.


" ya, aku sedang mencari kelinci kecilku yang hilang " aku membuka mataku dan menatap Hans dengan ujung mata, dia juga menatapku dengan muka kosongnya itu.


" oh, sejak kapan CEO memelihara seekor kelinci? " ucapku mengejek Hans, karna kau mengerti siapa yang di maksudkan olehnya.


" sudah lama, sejak bertemu di pinggir danau " ucapannya membuatku tiba-tiba naik pitam. namun aku harus bersabar karna aku yang ingin usil kepadanya, tapi malah dia membalikkan keadaannya.


" oh, saya tidak pernah melihat seekor kelinci yang lewat di sini karna saya di ruangan sebelah. apa lagi ini rumah sakit untuk manusia bukan untuk hewan, apa jangan-jangan CEO ingin menjenguk asistennya yang sedang sakit? " ucapku dengan lirikkan menggoda namun dia memiliki perisai dan lirikanku terpental. dia masih saja memasang wajah kosong padaku tanpa ekspresi, membuatku tidak tahan lagi dan pergi meninggalkannya, yang tadinya ingin mengerjainya berubah menjadi waktu yang terbuang sia-sia dengan melihat wajah kosong tanpa ekspresi.


aku meninggalkannya sendirian, Hans juga tidak mengikutiku dari belakang dan hanya berdiri saja sambil memandang aku pergi jauh. aku berjalan cepat dan bersembunyi di belakang tembok dan melihat apa yang akan di lakukannya, dan apa benar dia sedang mencari kelincinya yang hilang.


Hans yang memandang Nana pergi jauh dari hadapannya sampai menghilang yang tadinya tidak ada ekspresi apapun ketika di depan Nana dan tiba-tiba setelah Nana pergi menjauh pipinya Hans memerah dan hidungnya mimisan

__ADS_1


" dia tadi menggodaku? " kata Hans pada dirinya sendiri sambil menutup hidungnya mehan mimisan


__ADS_2