PACAR KU BOSS

PACAR KU BOSS
SADAR


__ADS_3

DI DEPAN RUANGAN ZHEN


aku yang tadinya sangat senang berubah menjadi sedih melihat keadaan Zhen yang sedang terbaring dan entah kapan dia akan terbangun dari tidurnya, aku memegang kaca sambil melihat ke dalam ruangan. anehnya walaupun aku sedih tapi aku tidak bisa meneteskan air mata setetes pun.


aku terus berdiri di depan kaca sambil melihat ke dalam, menatap Zhen dan berharap dia akan segera sadar kembali dan ceria seperti sebelumnya.


aku melihat Hans dari kejauhan yang sedang memandang Zhen dan berharap agar cepat sadar, rasa cemas yang di miliki oleh seorang kakak ini tidak bisa di katakan lagi, tapi dengan wajah kosongnya itu tidak tau bagaimana cara mengekspresikan wajah sedihnya. Hans juga tidak ingin menunjukkan rasa cemasnya itu kepada orang namun aku sangat tau apa yang dia rasakan. jantung berdetak sangat kencang dan nafasku terasa sesak ketika memandangnya yang sedang memandang Zhen dari kejauhan, rasanya aku ingin menghiburnya tapi aku juga tidak tau bagaimana caranya untuk menghibur seseorang yang lagi bersedih.


" Nana, kamu harus istirahat juga biar lukamu cepat sembuh " ucap Lili mengkhawatirkan keadaanku, aku menatap Lili yang di raut wajahnya sangat khawatir akan diriku.


" iya " jawabku mengiyakan Lili, dia memapahku meninggalkan ruangan Zhen karna berfikir aku tidak sanggup berjalan lagi setelah melihat Zhen yang berbaring di atas kasur tanpa sadar-sadar, malah sebaliknya aku yang harus memapah Lili karna begitu lelah tanpa istirahat dalam beberapa hari ini.


ketika beberapa langkah aku hendak ingin meninggalkan ruangan Zhen tiba-tiba Zhen tersadar dari komanya. aku mendengar Zhen yang baru saja berhenti dan segera berbalik lalu menjenguk Zhen yang sudah sadar. tapi dokter melarang untuk masuk ramai-ramai ke dalam ruangan karna Zhen baru saja sadar, Hans sudah masuk duluan menemui Zhen. aku yang memandang dari luar di balik kaca melihat Hans hanya berdiri sambil menatap Zhen dengan raut wajah yang sedih.

__ADS_1


aku melihat Zhen terseyum kepada Hans, dia tampak sedang berbicara dengan Hans. aku bisa membaca bahasa mulut tapi mulut Zhen tertutup dan hanya bisa membaca apa yang di katakan oleh Hans.


" aku tidak menyuruhmu untuk membunuh dirimu sendiri " ucap Hans dengan wajah yang sedikit tampak sedih menatap Zhen, namun Zhen tetap saja tersenyum dan berkata entah apa yang dia katakan itu.


" siapa yang khawatir, dan siapa yang sayang? " ucap Hans dengan lantang dan wajahnya yang tadinya sedih berubah menjadi wajah kosongnya itu, ekspresinya berubah secepat membalikkan halaman buku.


setelah Hans dua jam di dalam ruangan tidak keluar-keluar, para dokter spesialis sudah mulai mencemaskan keadaan pasien yang dari tadi tidak istirahat-istirahat namun tidak bisa mengatakan apa-apa karna yang berada di dalam sana adalah orang yang sangat terpengaruh di kota B ini.


aku mendekat pada dokter-dokter Tersebut dan bertanya-tanya apakah aku bisa masuk dan mengatakan bahwa pasien harus segera istirahat, para dokter tersebut terkejut mendengarnya dan segera menyuruhku untuk masuk secepat mungkin atau pasien akan koma kembali, akupun segera masuk ke dalam ruangan. aku sangat kagum kepada kakak yang satu ini, di mulut berkata tidak khawatir dan tidak sayang kepada adiknya tapi jauh di dalam lubuk hatinya sangat menyayanginya dan mengkhawatirkannya sampai-sampai dua jam berdiri di sampingnya tanpa merasakan lelah sedikitpun, aku segera masuk ke dalam ruangan mengenakan pakaian suster dan tidak lupa masker untuk menutupi wajahku. tanpa mengetuk pintu aku masuk tanpa izin dari Hans, aku berjalan menghampirinya dan berdiri sejauh satu meter di belakangnya.


" paman, anda tidak bisa menggangu pasien. pasien baru saja sadar dari komanya, pasien membutuhkan istirahat yang baik. jadi maaf paman, anda harus keluar. ini semua untuk kebaikan pasien " ucapku sambil tersenyum dan sangat ramah. namun Hans benar-benar sangat marah mendengar perkataanku.


" bukankah aku sudah bilang, seorangpun tidak boleh masuk " ucapnya dengan lantang dan sangat marah mendengar ucapanku. aku juga mulai marah mendengarnya memebentakku.

__ADS_1


" heh, buat apa teriak-teriak. Zhen baru saja bagun, lho mau buat dia pingsan lagi. sudah dua jam lho berdiri di sini apa gak pegel apa? " bentakku dengan melepas maskernya karna aku juga mulai marah. dia berbalik dan terlihat terseyum kepadaku, yang tadinya dia marah kini tersenyum membuatku merinding melihatnya.


aku berdiri tegak menatap Hans, aku dan Hans saling menatap. Zhen tersenyum melihat kami berdua, Hans berjalan mendekat kepadaku dan berdiri pas di hadapanku. dia mendorongku ke tembok dan menatapku dengan terseyum, aku ingin pergi dari hadapannya dan ingin melarikan diri tapi dia mehanku dengan tangannya, wajahnya perlahan-lahan mendekat padaku, aku memalingkan wajahku ke arah lain dia tersenyum melihatku, wajahku mulai memerah jantungku mulai berdetak kencang, aku tidak tau kenapa tiba-tiba jantungku berdetak sangat kencang. apakah ini gejala penyakit baru atau gara-gara tembakan itu jantungku mulai tidak normal, tapi dulu ketika melompat dari gedung tinggi pun aku tidak merasakan detak jantung yang berdetak begitu kencang.


" kamu mengkhawatirkan ku sayang? " bisik Hans lembut di telingaku, nafasnya yang terasa sedikit hangat menghembus di telingaku membuat telingaku memerah, aku memegang telingaku karna merasa geli terkena hembusan nafas hangatnya Hans.


" siapa yang mengkhawatirkan wajah kosong! " ucapku dengan melihat dan menatapnya, seketika aku merasa pipinya juga memerah karna ketika aku membalikkan wajahku hampir menciumnya tapi segera tertahan dengan tanganku.


Zhen tiba-tiba berpura-pura batuk dan mengeluarkan beberapa patah kata dengan suara sedikit lemah.


" uhuk, aku ingin istirahat " ucapnya dengan membalikkan wajahnya ke arah lain, Hans yang melihat ke arah Zhen karna terkejut berfikir sakitnya kambuh, aku menatapnya dan berjalan perlahan-lahan ingin kabur, lalu Hans menahanku dengan tangannya yang satunya lagi.


" mau kemana? " tanya Hans dengan menatapku, aku hanya bisa tersenyum

__ADS_1


" aku ingin pergi karna tugasku sudah selesai " jawabku dengan terseyum canggung dengan memejamkan mata, entah bagaimana dia mencium bibirku tanpa sepengetahuanku. aku terkejut kenapa dia tiba-tiba mencium bibirku, dia menghisap bibirku. bibirnya sangat lembut dan harum bagaikan permen mint, ketika dia menghisap bibirku tiba-tiba tanpa aku sadari dia memasukkan lidahnya kedalam mulutku. aku terkejut seketika lidahku mengeras karna tidak pernah melakukannya dan berusaha mendorong lidahnya dengan lidahku namun namun dia masih saja memainkan lidahnya didalam mulutku, dia melilit lidahku dengan lidahnya itu. terasa sangat lembut dan manis, aku mulai menikmatinya tapi aku tidak ingin melanjutkannya lagi lalu mendorongnya dengan tanganku sehingga dia berhenti menciumku.


" ini adalah hukuman karna memanggilku paman " ucapnya dengan membisikkan di telingaku, aku juga segera berbalik dan berlari menjauh darinya


__ADS_2