Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Derita Mahasiswa Baru


__ADS_3

Di taman kampus


“Mil, lo udah dimana?” tanya Aliza via telepon.


“Ini gue lagi di jalan. Bentar lagi nyampe kok.” Jawab Amila.


“Buruan ya. Gue tunggu di taman kampus!” Aliza mematikan teleponnya sembari menunggu Amila di kursi taman.


Beberapa menit kemudian


Amila menghampiri Aliza.


“Wah, hebat. Kok wajah lo bisa mirip gitu sama Kancil.” Puji Aliza melihat wajah Amila yang sudah dilukis seperti kancil.


“Wah, terima kasih atas pujiannya. Lo baru tahu ya kemampuan gue.” Sombong Aliza.


“Nyesel gue muji lo.” Aliza sedikit kesal.


“Lo nggak papa kalau gue rias wajah di sini. Soalnya banyak orang di sini.” Tanya Amila sembari memperhatikan beberapa orang maba sedang duduk santai di kursi lain taman kampus.


“Nggak papa. Udah biasa.” Sahut Amila


Amila mulai merias wajah Aliza agar mirip seperti monyet.


“Kok lo nggak ambil Jurusan Tatarias aja, sih. Kan lo jago make up.” Ucap Aliza.


”Kalau seseorang mempunyai kemampuan dalam melakukan sesuatu. Belum tentu setiap orang ada niat untuk meneruskan pendidikan sesuai kemampuannya. Masih banyak kemampuan lain yang perlu kita cari. Lagian ini cuma sekedar hobi gue doang kok. Jadi gue ambil jurusan ini, karena mengingat masa depan gue dan tentunya agar bisa bersama kalian.” Amila menghentikan aktivitasnya sebentar sambil menatap Aliza. Dan mereka kini saling bertatapan.

__ADS_1


“Tumben banget lo bijak.” celetuk Aliza. dan tentunya membuat Amila sedikit jengkel.


“Diam. Kalau nggak muka lo gue coret-coret. kayak taik ayam.” Amila yang mulai kesal.


“Santai dong, bro.” goda Aliza sembari tertawa kecil.


“Tapi gue terharu banget tadi.” sahut Aliza dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Amila tak menanggapi. Tetap fokus merias wajah Aliza.


“Selesai!” Amila terlihat tersenyum lebar melihat hasil kerjanya.


“Pinjam cermin, dong.” Amila mengambil cermin dan memberikannya pada Aliza.


“Sahabatku emang jago banget dah.” Ucap Aliza sembari menatap bayangan wajahnya pada cermin yang diberikan Amila.


“Yes dong.” Sahut Amila dengan tampang sok cantik. Aliza hanya menatapnya jengah.


“Nggak tahu.” Ucap Amila dengan menaikkan kedua bahunya.


“Kita langsung ke lapangan aja, yuk! Nanti mereka nyusul aja.” Ajak Aliza dan di jawab anggukan Amila. Mereka pun berlalu meninggalkan taman untuk menuju lapangan.


***


Di lapangan para maba sudah berbaris sesuai kelompoknya masing-masing.


Wajah mereka yang sudah dirias sesuai dengan nama binatang yang mereka tulis di kalung nama. Nama dan riasan binatang yang beragam, tapi ada juga yang sama. Kemampuan riasan mereka juga beragam. Ada yang sangat mirip walaupun tidak sampai 100% dan ada juga yang mendekati mirip. Tapi sudah berubah dari wajah aslinya.


“Mohon perhatiannya!” Seru Rio menggunakan mic.

__ADS_1


“Kami ada sedikit pengumuman tentang kegiatan untuk hari ini dan besok. Setiap pagi sebelum masuk ke ruangan kelompok masing-masing, kita akan melakukan senam pagi. Hari ini kalian fokus saja untuk latihan saja. Besok masing-masing kelompok akan menampilkan bakat masing-masing. Nanti akan ada 3 kelompok yang memperoleh juara 1,2, dan 3. Setelah penutupan OSPEK selesai, kalian harus meminta tanda tangan para senior. Satu lagi, kalian juga harus menemukan seorang senior yang akan membimbing kalian selama kuliah. Misalnya, kalian dapat bertanya kepada senior tersebut terkait tugas mata kuliah ataupun hal lainnya yang bersangkutan dengan perkuliahan. Masing-masing hanya boleh meminta satu senior untuk membimbingnya. Catatannya, maba perempuan harus meminta bimbingan senior laki-laki. Dan maba laki-laki meminta bimbingan senior perempuan. Apa ada yang tidak mengerti?” Rio menjelaskan panjang lebar.


“Kak, saya mau bertanya.” Seru seorang maba sembari mengangkat tangannya.


“Silahkan!" Titah Rio.


“Kalau misalnya ada yang nggak dapat senior gimana, kak? ” tanya maba.


“Intinya siapa cepat dia dapat.” Jawab Rio tegas.


Para maba membuang napas kecewa.


“Nanti kalian juga harus meminta data diri senior kalian dan foto bersama senior. Tanda tangan, data senior pembimbing, dan foto bersama diserahkan pada kami seminggu lagi. Jadi, kesempatan kalian dimulai dari besok setelah penutupan OSPEK sampai hari Jum’at. Lalu hari Sabtu diserahkan pada kami. Kalian pasti bertanya ini untuk apa, ini dilakukan agar kalian saling mengenal dengan senior yang ada di sini. Siapa yang mendapatkan tanda tangan terbanyak akan memperoleh gelar ratu dan raja sosial. Ada pertanyaan?” Lanjut Rio menjelaskan.


“Kalau nggak dapat senior pembimbing, konsekuensinya apa kak?” tanya maba.


“Yang tidak dapat senior pembimbing akan kami berikan sanksi. Saya rasa pengumumannya cukup sampai disini. Selanjutnya kalian akan melakukan senam pagi.” Jawab Rio.


Para maba terlihat resah dan bingung. Kalau misalnya jumlah maba perempuan lebih banyak dari senior laki-laki, harus bagaimana dong. Apa maba perempuan harus nyamar dulu jadi laki-laki dan meminta senior perempuan jadi pembimbing. Kenapa nggak maba perempuan sama senior perempuan aja dan maba laki-laki dengan senior laki-laki. Mau komen takut salah, mau protes takut dimarahin. Entahlah. Begitulah derita mahasiswa baru.


*


*


*


Jangan lupa like dan komen!

__ADS_1


Terima Kasih sudah membaca!


__ADS_2