Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Adik Kecil


__ADS_3

Aliza mengikuti Wahyu menuju ruangan HIMA.


“Ya ampun! kok malah gue mau ngikutin dia ya. Aduh, bagaimana nih? nanti kalau tiba-tiba dia ngenalin gue....” Lamunan Aliza yang langsung dibuyarkan oleh Wahyu.


Saking kagetnya mendengar suara Wahyu, Aliza hanya bisa tersenyum kikuk. Lalu menuruti perintahnya untuk masuk ke ruangan HIMA.


“Ayo, silahkan masuk!” ucap Wahyu seraya membukakan pintu.


“Kalung namanya dimana kak?” tanya Aliza seraya memperhatikan setiap sudut ruangan HIMA.


Ruangan HIMA yang terlihat lumayan besar. Dalam ruangan tersebut, terlihat sebuah pintu yang tertutup. Dimana dalam pintu tertutup ada ruangan yang digunakan ketika sedang rapat anggota HIMA.


Dalam ruangan tersebut juga terdapat lemari kaca besar dengan beberapa barang ada di dalamnya. Selain itu ada rak buku kecil yang tersusun rapi. Sofa dan mejanya.


“Ini,” ucap Wahyu.


Aliza yang sedang memperhatikan setiap sudut ruangan merasa terkejut dan beralih menatap Wahyu.


“Ah, iya. Ini punya saya kak. Terima kasih banyak kak. Kalau begitu saya bisa kembali lagi ke ruangan kelompok kan, kak?” ucap Aliza tersenyum senang memperhatikan kalung namanya yang sempat hilang tadi. Aku nggak jadi dihukum dong. Begitulah isi pikiran Aliza.


“Iya.” ucap Wahyu singkat


“Kalau begitu, saya permisi kak!” tutur aliza sopan seraya melangkahkan kakinya. Langkah Aliza terhenti karena panggilan dari Wahyu.

__ADS_1


“Adik kecil....Apa kamu tak mengenaliku? Kamu tidak memberiku surat lagi?" tanya Wahyu tersenyum menatap punggung Aliza.


“Apa yang dikatakannya. Adik kecil? Surat? Apa dia mengingatku?” batin Aliza. Aku mungkin salah dengar, begitulah pikiran Aliza. tak menghiraukan ucapan Wahyu dan kembali melangkah kakinya.


“Apa kamu mau pura-pula lupa?” tanya Wahyu dengan ekspresi yang sulit dibaca.


“Maksud kakak apa ya?” ucap Aliza pura-pura tak tahu setelah membalikan badannya menghadap Wahyu.


“Apa kamu mau terus pura-pura tidak mengenaliku?” tanya Wahyu seraya tersenyum mengejek.


Bingung. Itulah dirasakan Aliza. ekspresi apa yang harus ditunjukkannya. Akhirnya dia tetap memilih untuk berpura-pura.


“Maaf kak, aku tidak mengenal kakak sebelumnya. Jadi bagaimana aku bisa lupa? Mungkin kakak salah orang.” tutur Aliza sopan dengan pandangan yang tertunduk. Tak berani menatap Wahyu.


“Saya permisi! Mau kembali ke ruangan, Kak.” ucap Aliza mengalihkan pembicaraan.


“ Kamu kelompok berapa?” tanya Wahyu melihat Aliza yang sudah di ambang pintu


Belum sempat Aliza menjawab, tiba-tiba Sinta datang dan menabrak Aliza


“Aduh!” ucap Aliza dan Sinta bersamaan. Mereka sama-sama memegang kepala yang sakit.


Wahyu yang melihatnya kaget dan mendekat Aliza.

__ADS_1


“Kamu tak apa-apa?” tanya Wahyu menatap Aliza sedikit cemas. Namun yang menjawab pertanyaan Wahyu adalah Sinta dengan mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


“Maaf kak! Saya tidak sengaja. Saya permisi mau kembali ke ruangan dulu, Kak.” ucap Aliza sopan dan berlalu meninggalkan mereka. Walaupun bukan dia yang menabrak. Tapi lebih baik minta maaf saja. Dari pada panjang urusannya.


“Kenapa kalian lama sekali?” tanya Sinta seraya mengusap-usap kepalanya yang terbentur


“Tadi dia izin ke toilet sebentar.” ucap Wahyu berbohong.


“Ooh, kita langsung kembali ke lapangan aja yuk!” ajak Sinta dengan mendahului Wahyu. Wahyu menutup pintu ruangan HIMA dan berjalan mengikuti Sinta.


Huuf. Wahyu hanya bisa menghembuskan napasnya kasar. Kebingungan kini tengah melandanya. Apa benar dia salah orang, tapi dia tidak mungkin melupakan wajah adik kecil yang sering memberinya surat. Entahlah. Wahyu mencoba menepiskan pikirannya.


Sementara Aliza yang berada dalam sebuah toilet sedang mencuci wajahnya yang kepanasan.


Setelah dari ruangan HIMA tadi, Aliza memilih pergi ke toilet sebentar untuk menyegarkan pikirannya. Bukan hanya itu, tapi juga untuk menyegarkan wajahnya yang panas akibat cahaya matahari yang sedikit menyengat di lapangan.


Huuuf. Aliza membuang napasnya kasar.


"Apa yang harus gue lakuin, apa gue harus terus pura-pura. Entahlah. Nanti lihat saja apa yang terjadi". Aliza yang berusaha menepiskan pikirannya tentang Wahyu. Setelah meras segar, Aliza kembali ke ruangannya untuk berkumpul bersama kelompoknya.


***


Jangan lupa like dan komen😊😊!

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca!


__ADS_2