
Setelah mahasiswa yang ada di ruangan HIMA keluar, mereka berempat buru-buru masuk ke dalam sebelum keduluan mahasiswa lainnya.
Di dalam ruangan HIMA, ada beberapa senior yang bertanggung jawab dalam pengumpulan tanda tangan dan data senior pembimbing. Wahyu dan Rio juga ikut andil, karena ini merupakan tanggung jawab mereka berdua selaku ketua dan wakil ketua HIMA.
Lisa dan Shinta bertugas untuk menjaga meja pengumpulan buku tanda tangan dan data senior pembimbing yang dipisah.
Selesai mengumpulkan buku tanda tangan dan data pembimbing, mereka diharuskan untuk menandatangani pada kertas yang telah disiapkan HIMA.
Ketika giliran Amila, dia sedikit ragu untuk mengumpulkan buku tanda tangan dan data senior pembimbing milik Aliza, karena harus disertai dengan tanda tangan mahasiswa yang bersangkutan. Dan tidak boleh diwakilkan atau digantikan mahasiswa lainnya. Sedangkan yang punya buku sudah pulang. Jadi, harus bagaimana?
“Kak, apa boleh untuk mengumpulkan punya teman yang tidak bisa datang hari ini?” tanya Amila hati-hati takut salah bicara.
“Kenapa temannya tidak datang?” jawab Lisa dengan pertanyaan.
“Dia lagi sakit, kak. Jadi, dia nitip untuk mengumpulkan buku tanda tangan dan data senior pembimbing.” Jawab Amila.
Sesekali dia melirik ke arah Hilya dan Nisa di sampingnya. Entah dia yang tidak pandai memberi kode atau Hilya dan Nisa yang kurang peka. Mereka berdua hanya diam saja, karena tidak mengerti maksud lirikan Amila yang minta dukungan agar senior tersebut percaya.
“Bagaimana, ya? Sebelumnya kan sudah diberitahu untuk mengumpulkan buku tanda tangan dan data senior pembimbing tidak boleh diwakilkan karena harus disertai dengan tanda tangan.” Jelas Lisa.
“Iya kak, tapi teman kami lagi sakit. Apa tidak ada keringanan?” tanya Rangga yang akhirnya membuka suara.
“Shin, bagaimana?” tanya Lisa pada Sinta yang hanya diam dan memperhatikan.
“Sebentar, aku tanya sama Wahyu dulu!” Ujar Shinta, lalu beranjak dari duduknya.
“Kak, memangnya tidak ada keringanan gitu, untuk mahasiswa yang sakit?” tanya Amila setelah Shinta memasuki ruangan yang pintunya terbuka.
“Kalau memang sakit, harusnya ada surat izin dari pihak rumah sakit. Kemungkinan akan ada keringanan.” Jawab Lisa.
“Tapi, kok peraturannya ketat banget ya, kak.” Ceplos Amila. Hilya yang disampingnya spontan mencubit lengan Amila.
“Aduh..” Amila mengaduh kesakitan sembari mengusap lengannya yang dicubit Hilya.
__ADS_1
“Itu udah peraturan dari kampus, bukan peraturan dari HIMA saja. Segala kegiatan yang berhubungan dengan kampus harus mematuhi peraturan.” Jelas Lisa tegas.
“Kalian tahu darimana kalau teman kalian sakit?” Tanya Lisa.
“tadi dia, ...”
“Tadi dia chat kami, kak.” Ucap Nisa memotong pembicaraan Amila yang asal ceplos tanpa melihat situasi.
***
Shinta masuk ke dalam sebuah ruangan dengan pintu terbuka. Ruangan itu adalah ruangan yang digunakan
anggota HIMA untuk rapat.
“Wahyu, Rio,” Panggil Shinta pada Wahyu dan Rio yang sedang sibuk dengan komputer yang ada di depan mereka.
“Ada apa?” tanya Rio, menghentikan aktivitasnya lalu menoleh pada Shinta. Sedangkan Wahyu hanya menoleh sebentar, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
“Ada maba yang nggak bisa datang karena sakit. Terus, dia minta tolong sama temannya untuk ngumpulin buku tanda tangan dan data senior pembimbing miliknya. Bagaimana? Apa ada keringanan untuk dia?” jelas Shinta.
Wahyu menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Shinta. “Lo yakin dia sakit?” jawab Wahyu dengan pertanyaan yang membuat bingung Shinta.
“Ya, mana gue tahu.” Jawab Shinta sedikit kesal. “Orangnya aja gue nggak kenal”. Tambahnya.
“Yang gue pikirin nih, dia itu pura-pura sakit. Lalu nitip sama temannya yang datang ke kampus, sedangkan dia enak-enakan di rumah atau malahan pergi jalan-jalan. Gue nggak mau itu dicontoh sama maba lain. Kalau dia memang sakit, dia harus menitipkan surat keterangan dari rumah sakit.” Jelas Wahyu dengan ekspresi datar.
“Sebelumnya kan kita udah merundingkan masalah ini. Soalnya peraturan ini berasal dari kampus.” Tambahnya lagi.
“Kalau gitu lo aja yang jelasin ke mereka. Biar mereka lebih paham.” Shinta yang tak mau ambil pusing, meminta Wahyu untuk langsung turun tangan memberikan penjelasan.
Shinta duluan keluar dari ruangan, disusul oleh Rio dan Wahyu di belakangnya.
“Kayaknya nggak boleh nih.” Batin Amila setelah melihat Wahyu dan Rio mendekat ke arah mereka.
__ADS_1
“Untuk lebih jelasnya biar kak Wahyu yang memberikan keputusan.” Ucap Shinta ke arah mereka berempat.
Wahyu yang sudah dekat dengan mereka, pun membuka suaranya. “Sesuai.......” Belum sempat Wahyu menjelaskan, seseorang mengetuk pintu Ruangan HIMA.
“Permisi..” Ucapnya sambil mengetuk pintu.
*
*
*
Hai
semuanya!!!
Terima
kasih sudah mau membaca cerita author yang masih banyak kekurangan. Maaf jika
author jarang update. Ada beberapa alasan yang membuat author untuk beberapa
bulan kemaren tidak update.
Terima
kasih bagi pembaca semua yang sudah menjadikan novel ini Favorit kalian, terima
kasih untuk like dan komennya, terima kasih juga untuk yang sudah memberikan
vote.
“Bagi
__ADS_1
yang sudah lupa jalan ceritanya, baca ulang dari awal juga boleh”.
Terima kasih....