
Seperti janji Aliza kemaren, malam ini dia akan mentraktir Wahyu makan malam di sebuah restoran.
Janji yang sebelumnya ditawarkan Aliza adalah mentraktir Wahyu jika cara yang dikatakannya berhasil. Dan ternyata itu berhasil.
Kini Aliza sudah siap. Dia hanya tinggal menunggu Wahyu datang menjemputnya.
Sembari menunggu dia memainkan ponsel yang sudah terisi penuh.
Dari kamar, terdengar suara tangis Jihan, adiknya yang paling kecil. Dia mengabaikannya, biasanya tidak perlu lama tangisnya akan reda.
Namun, suara tangisnya masih terdengar bahkan tambah kencang.
Dia keluar dari kamar, penasaran apa yang terjadi.
Di ruang tamu dia melihat Bi Mauli sedang menggendong Jihan sembari berusaha menenagkannya. Ada Zaki juga yang mencoba menghibur adiknya. Mengedarkan pandangan, tidak menemukan mama dari adiknya Jihan.
Merasa kasihan melihat adiknya yang terus menangis, dia pun turun dari lantai duua tempat kamarnya berada. Mendekat ke arah mereka.
“Jihan kenapa bi?” tanya Aliza saat sudah dengan Bi Mauli.
“Non Jihan baru bangun dari tidurnya non. Dia mencari nyonya.” Ucap Bi Mauli sedikit ngos-ngosan, karena terus menggendong dan menenangkan Jihan yang memberontak.
“Memangnya kemana dia bi?”
“Tuan dan nyonya baru pergi menghadiri undangan pesta temannya, non.”
Aliza mencoba mengambil jihan dari tangan bi Mauli.
“Ayo sini, sama kakak.” Jihan melebarkan tangannya ke arah Aliza.
“Ma..ma...” ucap Jihan di sela tangisnya.
Aliza mengusap pelan punggung Jihan berharap itu bisa menenangkannya.
“Kenapa mereka nggak bawa Jihan bi?” tanya Aliza kesal.
“Tadi non Jihan lagi tidur non. Tuan bilang tidak usah dibawa, mereka cuma sebentar.”
Tiba-tiba, ponsel Aliza berdering.
“Halo kak,”
“Aku udah di depan,”mengernyitkan keningnya, karena mendengar suara tangis bayi.
“kakak bawa Mobil?”
“Iya,”
“Tunggu sebentar kak.” Aliza langsung mematikan panggilannya.
“Jihan mau ke tempat mama?” Jihan menganggukan kepalanya.
“Ikut kakak ya, kita ke tempat mama.” Membelai kepala Jihan lembut. Tangisnya belum reda, walaupun suaranya tidak sekencang tadi.
“Bi tolong bikinin susu Jihan.” Pinta Aliza.
“Zaki mau ikut pergi sama kakak? ”tanya Aliza pada Zaki.
“Mau kak,” Zaki nampak senang dengan ajakan Aliza.
Setelah susu untuk Jihan selesai dibuat oleh Bi Mauli, Aliza izin pergi keluar dengan membawa Jihan dan Zaki bersamanya. bukan hanya susu, Aliza juga membawa air minum dalm botol yang disiapakn bi Mauli.
Entah apa yang saat itu dia pikirkan, tiba-tiba saja ide membawa Jihan pergi bersamanya muncul bergitu saja.
Keluar dari gerbang, menoleh ke tempat Wahyu biasa menunggunya.
Wahyu heran melihat Aliza membawa anak kecil.
“Kak, maaf. Mereka boleh ikut nggak?” tanya Aliza dengan pelan, takut Wahyu tidak menyetujuinya.
“Iya, boleh.” Membuka pintu mobil untuk Aliza.
__ADS_1
Aliza duduk disamping kemudi bersama Jihan, sedangkan Zaki duduk di bangku kedua.
Tangis Jihan sudah reda. Mungkin dia percaya kalau Aliza akan membawanya ke tempat Mama Suci.
Aliza memberikan susu yang sudah dibuatkan bi Mauli. Jihan langsung melahapnya, sepertinya dia sangat kehausan karena terus menangis sedari tadi.
“Mereka adikmu?” Wahyu mulai melajukan mobilnya.
“Iya,” menoleh ke belakang, tempat Zaki duduk.
“Zaki nggak apa-apa kan di belakang sendiri?”
“Zaki berani kok kak,” ucap Zaki. “Kita mau kemana kak?”
“Zaki maunya kemana?” kini Wahyu yang bertanya.
“Beneran boleh?” tanya Zaki polos.
Aliza dan Wahyu saling bertatapan. Wahyu menganggukan kepalanya seakan mengerti akan arti tatapan Aliza.
Aliza tersenyum. “Iya boleh, zaki mau kemana?” tanya Aliza.
“Tempat bermain,” ucap Zaki semangat.
Jihan sudah enteng duduk di pangkuan Aliza. tidak ada tangisan lagi. Bibirnya yang mungil kini lebih sering mengeluarkan suara tawa yang riang.
Aliza terus menghiburnya, bermain-main bahkan menggelitik perutnya.
Hal itu tidak lepas dari pandangan Wahyu. Sesekali melirik ke arah Aliza yang tertawa bersama Jihan
“Cantik sekali,”batinnya.
Wahyu mulai membuka obrolannya bersama Zaki.
“Oh iya, Zaki namanya siapa?” seloroh Wahyu. Padahal dia sudah mengetahui nama Zaki saat Aliza bicara pada adiknya tadi.
“Itu kan kakak udah bilang nama Zaki,” ucap Zaki heran.
Obrolan mereka masih berlangsung diselingi dengan candaan di dalamnya. Wahyu juga memperkenalkan namanya pada Zaki. Hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
Sebuah mall yang cukup besar. Wahyu memilih mall yang terdekat, agar pulangnya tidak terlalu larut malam karena menempuh jarak yang jauh.
Mereka berempat keluar dari mobil. Jihan yang nampak enteng digendongan Aliza dan Wahyu yang memegang tangan Zaki.
Mereka masuk ke dalam mall dan menuju lantai tempat disediakan berbagai macam mainan anak-anak.
“Kak, zaki mau main itu.” ucap Zaki sembari menunjuk satu arena permainan, yaitu permainan capit boneka.
Mereka membeli tiket terlebih dahulu.
“Kak maaf,” ucap Aliza merasa berslah karena tidak jadi mentraktir Wahyu.
Wahyu menoleh. Mengambil jihan dari gendongan Aliza. Beruntung balita itu mau digendong olehnya.
“Kenapa minta maaf? Karena nggak jadi traktir makan?”
Aliza mengangguk-anggukkan kepalanya. Wahyu menarik tangan aliza. Menggenggamnya erat. “Masih banyak waktu.” Ucap Wahyu dengan tersenyum.
“Kak, boleh main lagi?” tanya Zaki tiba-tiba.
Aliza tersentak, dia lantas menarik tangannya dari genggaman Wahyu.
“Boleh,” Wahyu mendekat padanya, dengan Jihan yang enteng di gendongan nya.
Aliza menatap lekat kedekatan Zaki dan Wahyu, padahal belum sampai satu jam mereka kenalan.
“kenapa tampan sekali?” terpana melihat Wahyu saat menggendong Jihan. Aura ketampanannya semakin menguap. Wahyu yang juga tertawa karena sesekali menghibur Jihan.
“Enggak boleh dilewatkan.” Mengambil ponsel dari dalam tasnya. Mengarahkan kamera ponsel diam-diam pada Wahyu dan Jihan yang sedang tertawa.
Nasib. Aliza malah menjadi malu sendiri. Niat hati ingin diam-diam dan tidak diketahui. Flash on kamera malah menghancurkan semuanya. Saking jarangnya memakai kamera belakang, dia jadi lupa untuk memeriksanya terlebih dahulu
__ADS_1
Saat mau membidik gambar, flash on kamera yang menyala menyoroti Wahyu. Lantas ia menoleh ke arah cahaya yang berkedip tersebut.
Aliza kaget, dia seketika menjauhkan ponselnya. Menyembunyikan di belakang tubuhnya.
“Cahaya apa itu?” tanya Wahyu, entah dia memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.
“Itu...mmm,” berpikir alasan apa yang akan digunakan. “Oh iya, senter. Nggak sengaja kepencet senter.” Akhirnya menemukan alasan yang tepat.
“Ooh,” Wahyu berohria. Kembali mengalihkan pandangannya ke arah Zaki.
“Senter kan nggak berkedip ya,” batin Wahyu. menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyum smirk.
“Zaki mau ambil yang mana, sini kakak mainin.” Menyerahkan Jihan kembali kepada Aliza.
Zaki menunjukkan boneka mana yang dia mau ambiil. Dengan konsentrasi penuh, entah karena kepandaiannya atau keberuntungan Wahyu berhasil mendapatkan bonek sesuai dengan yang ditunjuk Zaki tadi.
“Wah, kakak hebat sekali.” Puji Zaki. Kini boneka sudah ada di tangannya.
“Ini untuk Jihan.” Zaki memberikan bonekanya ke adiknya cantiknyaa itu. kini boneka sudah ada di tangan Jihan yang terlihat senang.
“Mau main yang mana lagi?” tanya Wahyu pada Zaki.
Setelah mencoba tiga permainan, mereka sekarang berada di sebuah restoran, masih di mall yang sama. Mereka mengunjungi restoran yang juga menyediakan makanan untuk anak-anak.
Aliza terpaksa menyudahi kesenangan kedua adiknya itu, takut nanti mereka pulang terlalu larut. Untung Jihan masih terjaga. Mungkin karena tadi dia sudah tidur, jadi belum terlalu mengantuk.
Setelah bertanya pada pelayan restoran mengenai makanan untuk anak umur satu tahu, akhirnya Aliza memesankan kentang goreng untuk Jihan. Tiga spaghetti untuk dirinya Zaki dan Wahyu. namun untuk zaki ukuran spaghetti lebih sedikit dibanding milik mereka.
Aliza makan dengan Jihan yang ada di pangkuannya. Makan kentang gorang dengan lahap. Mungkin dia juga merasa lapar. Karena sudah dua jam tidak menyusu dengan ibunya.
“Sini aku suapin,” meraih mangkuk makanan Aliza, kerena Aliza nampak kesusahan makan karena memangku Jihan
“Enggak perlu kak,” tolak Aliza.
Wahyu tak menghiraukan, dia tetap menjauhkan piring spaghetti dari jangkaun Aliza. menggulung spaghetti dengan garpu, mendekatkannya ke bibir Aliza.
“Ayo, makanlah.” Ucap Wahyu.
Aliza ragu, dia merasa malu. Karena terus dipaksa, akhirnya Aliza luluh. Dia menerima suapan demi suapan yang diberikan Wahyu.
“Apa ini? Kenapa gue senang?”batin Aliza, dengan mulut yang terus mengunyah, sambil menatap lekat Wahyu.
Jika dilihat dari pandangan orang yang tidak mengetahui status dan identitas mereka. Mereka pasti dikira seperti keluarga bahagia, yang mempunya dua anak yang berpasangan. Laki-lai dan perempuan.
Selesai makan, mereka langsun turun dari lantai empat, tempat berbagai macam permainan anak berada. Turun dari lantai atas ke lantai bawah dengan menggunakan eskalator.
Wahyu yang mengambil alih tugas untuk menggendong Jihan. Sedangkan Aliza yang memegang tangan zaki, agar adiknya itu tidak hilang karena banyaknya pengunjung lainnya.
“Wahyu,” ucap seseorang yang melihat keberadaan orang yang dikenalnya. Dari suaranya seperti suara perempuan.
Aliza dan Wahyu menoleh ke arah sumber suara.
Perempuan itu tersenyum, karena orang yang di panggilnya memang orang yang dikenalnya.
Mereka berpapasan di lantai dua. Sepertinya perempuan itu selesai memberi baju, dilihat dari paper bag yang di jinjingnya. Kebetulan tempat baju yang dibelinya dengan dekat eskalator yang akan digunakan Wahyu dan Aliza untuk turun ke lantai dasar.
*
Terima kasih sudah membaca
Semoga suka
"Maaf kalau novelnya masih banyak ke kurangan, ini novel pertama saya. dan saya masih dalam tahap belajar,"
"kalau ada yang mau kasih saran, dengan senang hati saya terima. "
"Makasih"
__ADS_1