
Hari ini HIMA akan rapat lagi, untuk membahas proker mereka yang sudah disetujui ketua jurusan. Tiga puluh menit lagi, rapatnya akan dimulai.
“Lo kenapa? Gue perhatiin lo akhir-akhir ini kelihatan murung.” Tanya Rio. Saat ini baru mereka berdua yang ada di ruangan HIMA.
Wahyu bergeming.
“Nama maba itu Aliza kan?” ucapan Rio kali ini memancing Wahyu, dia segera mengalihkan pandangannya ke arah Rio.
“Lo udah dengar gosip belum?”
“Nggak mau tau.” Wahyu yang anti dengan gosip.
“Yakin lo? Ini tentang Selly?”
“Tambah yakin nggak mau dengan gue.” Benci mendengar nama perempuan yang disebutkan Rio tadi.
“Tentang Aliza?”
“Lo jangan mancing emosi gue.” ucap Wahyu kesal.
“Hahaha...” Rio tertawa senang, melihat Wahyu yang kesal.
“Oke, oke. Gue sekarang serius.”
Rio mulai menceritakan semuanya. Dari Selly yang mendatangi Aliza, mengaku sebagai pacar Wahyu dan memberikan peringatan untuk menjauhi Wahyu.
Wahyu terperangah mendengarkan penjelasan Rio. Dia tidak menyangka, Selly kembali melakukan hal yang sama pada dua orang yang berbeda.
Dulu, dia tidak terlalu mempedulikannya. Dia hanya mendengar cerita dari teman-temannya. Bahkan dia tidak mengenal gadis itu.
Tetapi sekarang berbeda, dia peduli. Dia mengenal Aliza. Bahkan dia mempunyai perasaan pada gadis itu. Aliza tidak salah. Selly, wanita egois itu yang terlalu percaya diri menganggap Wahyu menjadi pacarnya. Menumbuhkan kesalahpahaman antara dirinya dan Aliza.
Wahyu akhirnya tahu alasan Aliza yang beberapa hari ini menjauhinya. Aliza pasti sudah salah paham. Dia harus bertemu dengan Aliza dan meluruskan kesalapahaman ini.
Wahyu mengusap wajahnya kasar. Mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Mengirimkan pesan pada Aliza.
“Ada yang ingin aku bicarakan. Aku ingin bertemu denganmu. Tolong balas pesanku.”
***
Aliza membaca pesan dari Wahyu. Namun, dia tidak membalasnya.
“Besok kan hari sabtu. Jadwal kuliah juga nggak ada. Gimana kalau kita nginap sama-sama?” usul Aliza.
“Setuju banget dong.” Amila bersorak senang.
“Hus, kita lagi di kantin.” Hilya mengingatkan. Beberapa mahasiswa yang ada di kantin menatap ke arah mereka
“Gue boleh ikut?” seloroh Rangga.
“Nggak boleh lah.” Jawab Nisa.
“Boleh kok. Asalkan lo juga cewek.” Celetuk Aliza, sambil memukul lengan Rangga.
“Aduh,”
“Ye, segitu aja sakit. Nih, gue tambahin sakitnya." Amila memukul kembali lengan Rangga.
Aliza tertawa puas melihat Rangga yang berusaha menahan sakit karena pukulan Amila yang lumayan kuat.
“Kita nginapnya di rumah siapa?” tanya Nisa menghentikan pertikaian kecil Amila dan Rangga.
“Di rumah gue, gimana?” usul Aliza.
“Ide bagus, gue juga udah kangen sama bayi gemes itu.” ucap Amila menyebutkan Jihan adik Aliza.
“Gue boleh ikut?” tanya Ayu pelan.
Mereka berempat saling pandang. Ayu terlihat salah tingkah, dia merasa lancang telah bertanya seperti itu. Dia tidak sepantasnya sok akrab dengan mereka.
Aliza, Amila, Hilya, dan Nisa tertawa melihat wajah pias Ayu.
“Kenapa nanya kayak gitu? tentu aja lo ikut.” Ujar Aliza sembari merangkul Ayu.
“Soalnya kalian nggak ngajak gue.” ucap Ayu polos.
__ADS_1
“Ya ampun Ayu. Lo polos banget sih.” Amila mencubit pelan pipi Ayu.
“Jadi, selama ini kita nggak berteman?” tanya Aliza.
“Teman.” Angguk Ayu polos.
“Terus ngapain masih nanya ikut atau nggak?” tanya Hilya.
Ayu hanya tersenyum kikuk menjawab pertanyaan Hilya.
“Boleh makan orang nggak sih?” celetuk Amila.
“Iii, mau makan siapa lo? Kurang makan ya.” Ledek Aliza.
“Mau makan lo. Sini gue makan.” Menarik tangan Aliza.
“Ogah gue. Mending gue dimakan buaya daripada dimakan sama lo.” Ucap Aliza sambil menjauhkan tangannya.
***
“Shinta tunggu,” Wahyu mencegah Shinta yang akan meninggalkan ruangan HIMA.
“Gue mau minta tolong sama lo.” Ujar Wahyu.
Beberapa menit kemudian, di tempat yang berbeda.
Selly mendekat ke arah Wahyu yang sedang berdiri di samping gudang fakultas. Dengan Wajah bingung, Selly dan kedua temannya tetap mendekati Wahyu.
Bukannya Shinta yang akan menemuinya di dekat gudang. Lalu kenapa Wahyu yang dia lihat.
“Wahyu,” ucapnya dengan Wajah yang terlihat senang.
“Dimana Shinta?” celingak celinguk.
“Gue yang mau ketemu sama lo.” Ucap Wahyu sambil membuang muka.
“Sama gue?” dengan percaya diri, Selly mengembangkan senyum saking senangnya Wahyu mau ketemu dengan dia. Mimpi apa dia semalam, sehingga Wahyu mau menemuinya. Kebaikan apa yang sudah dilakukannya.
“Apa maksud lo?” tanya Wahyu langsung.
“Maksud? Gue benar-benar ngga ngerti, maksud lo apa?”
Selly tersentak mendengar hinaan Wahyu. Dia mengerti sekarang, kenapa Wahyu menemuinya.
“Oh, maba itu. Terus kenapa? Letak salahnya dimana?” ucapnya terlihat menantnga.
Wahyu membuang napasnya kasar.
“Ha, benar-benar ya. Salahnya lo ngakuin orang sebagai pacar yang bahkan nggak pernah ada hubungan apapun sama lo.” menatap Selly dengan marah.
“Ada. Gue suka sama lo. Sejak itu lo udah jadi milik gue.” tidak mau mengalah.
Wahyu tersenyum meremehkan. Egois sekali gadis di depannya ini.
“Membuang waktu saja meladeni orang seperti lo. Gue cuma mau mengingatkan, jangan pernah lagi menemui Aliza dengan mengaku sebagai pacar gue.”
“Kenapa? Kenapa gue harus nurutin kata-kata lo.” Tanya Selly marah.
“Dia pacar gue sekarang.” bentak Wahyu.
Selly terdiam mendengar ucapan Wahyu.
“Nggak,” ucapnya dengan mimik wajah yang masih kaget. Menggelengkan kepalanya tidak terima ucapan Wahyu.
Wahyu meninggalkan Selly dan kedua temannya yang sedari tadi diam menyaksikan mereka.
“Gue nggak terima.” Teriak Selly, namun tidak menghentikan langkah Wahyu yang meninggalkannya.
Sisil dan Lia saling pandang. Mereka tidak tau harus melakukan apa. Kemudian mendekati Selly, yang sepertinya tengah menangis. Dilihat dari punggungnya yang bergetar.
***
“Kita belanja dulu ya. Beli-beli cemilan.” Ucap Amila.
Mereka kini sedang diperjalanan menuju rumah Aliza. Sebelumnya mereka ke rumah Amila, Nisa dan Hilya terlebih dahulu. Mengambil pakaian mereka sekalian meninggalkan mobil.
__ADS_1
Mereka kini hanya menggunakan mobil Aliza.
“Oke, tapi kita ke rumah Ayu dulu ya.” Ucap Aliza yang mengendarai mobil.
“Ibu lo jualan hari ini yu?” tanya Aliza.
“Iya za.” Jawab Ayu.
“Ibu lo jualan apa yu?” tanya Amila.
“Jualan seblak.”
“Serius? Gue mau.” Nisa yang terlihat antusias.
“Gimana kalau kita makan seblak dulu, baru ke rumah Aliza.” Hilya memberikan usulan.
Mereka semua menurutu usulan Hilya.
“Malau bokap lo kerja apa yu? Eh, maah gue nggak ada maksud apa-apa. Gue Cuma penasaran. Suer.” Ucap Amila sembari menujukkan dua jari telunjuk dan jari tengah.
“Bokap gue kerja sebagai karyawan di bagian kecamatan.”
“Toping ceker ada kan yu?” tanya Nisa tiba-tiba.
“Ada.” Jawab Ayu sembari tersenyum. Merasa lucu melihat Nisa yang begitu antusias terhadap seblak.
“Ni anak, kalau udah urusan sama Seblak jadi lupa diri.” Cerocos Amila.
“Hehehe,” hanya ditanggapi tawa hambar oleh Nisa.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah Ayu. Warung seblak ada di depan rumah. Dia memesan seblak terlebih dahulu pada ibunya. Memesan seblak dengan tingkat kepedasan sesuai permintaan teman-temannya.
“Bu, nanti kalau udah siap panggil ayu ya.” Ucap Ayu. Dia mengajaka tema-temannya makan seblak di dalam rumah. Kursi di warungnya penuh dengan pengunjung lainnya.
Ayu mengajak teman-temannya untuk masuk ke dalam rumah sederhana dengan ukuran minimalis namun masih cukup untuk menampung keluarganya yang berjumlah empat orang. Terdiri dari ayah, ibu, Ayu dan adiknya yang masih duduk di bangku SMP.
Terdengar ibunya memanggil. Ayu segera mendekat ke warung. Membawa lima mangkok seblak dengan ditolong ibunya. Seusai mengantar pesanan teman-teman anaknya, ibu kembali ke warung.
Mereka mulai menikmati seblak yang masih panas. Nisa terlihat sangat menikmati salah satu makanan kesukaannya itu.
“Enak banget,” ucap Nisa yang terlihat sangat menikmati.
Selesai makan seblak, Ayu pamit ingin mengambil baju yang akan dibawa ke rumah Aliza.
Nisa membayar seblak pada Ibu Ayu. Namun, ibu Ayu menolak uangnya.
Tidak mungkin juga mereka tidak membayar. Jika satu mangkok tidak apa-apa gratis, ini empat mangkok. Amila yang turun tangan langsung dengan memaksa ibuk Ayu agar menerima uangnya. Dengan sedikit paksaan, ibu Ayu akhinya menerima.
Ayu meminta izin untuk menginap di rumah temannya. Ibu Ayu dengan senang hati memberikan izin pada putri sulungnya itu.
Setelah mendapat izin, mereka semua pamit.
Sebelum ke rumah Aliza, mereka singgah sebentar di supermarket terdekat. Memberi beberapa cemilan yang akan mereka makan nanti.
***
“Ayok,” Ajak Aliza, saat mereka semua sudah keluar dari mobil.
Sebelum beranjak dia melirik mobil yang terletak di sebelah mobilnya. Dia seperti mengenal mobil itu. Bukan. Itu bukan mobil mereka, dia tahu yang mana saja mobil-mobil yang ada di rumahnya.
“Ada tamu?” tanyanya dalam Hati.
Menyusul teman-temannya yang sudah duluan beberapa langkah.
“Kak Wahyu,” ucap Aliza tiba-tiba, saat melihat Wahyu sedang duduk di sofa ruang tengah, ditemani oleh mama Suci dan Zaki.
*
Sampai sini dulu, tunggu kelanjutan di episode berikutnya...
Terima Kasih Sudah membaca!
__ADS_1
Semoga Suka!
S~~~~alam sayang dari aku...