
Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Wahyu menarik kedua sudut bibirnya sehingga memperlihatkan senyuman lebarnya. Dengan perasaan bahagia, dia meninggalkan kantin dan teman-temannya yang masih asyik mengobrol Sebelumnya dia sudah pamit dengan alasan ada urusan mendesak.
Setelah di parkir, dia langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang untuk menuju ke alamat yang sudah dijanjikan Aliza untuk bertemu.
Sebenarnya dia ingin menambah kelajuan mobil agar cepat sampai untuk bertemu dengan Aliza. Tapi keselamatan lebih diutamakan, karena jalanan yang dilewati cukup ramai pengendara sepeda motor dan mobil.
Tiga puluh menit lebih dalam perjalanan, akhirnya Wahyu sampai di tempat tujuan. Turun dari mobilnya dan masuk ke dalam kafe tempat janjian mereka. Melihat ke sekeliling, mencari sosok yang akan di temuinya.
Terlihat, Aliza sedang memainkan ponselnya, duduk tiga meja dari pintu sebelah kanan. Dia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Aliza.
“Maaf sudah menunggu lama!” ujarnya lalu duduk berhadapan dengan Aliza.
“Kak Wahyu,” Aliza tersentak, karena kedatangan Wahyu membuatnya sedikit kaget. Sampai diapun tak terlalu mendengar apa yang diucapkan Wahyu tadi.
“Kamu sudah pesan minuman?” tanya Wahyu karena tak melihat minuman di meja tersebut.
“Belum Kak,” jawab Aliza.
Wahyu memanggil salah satu pelayan yang lewat, lalu memesan minuman yang sama, sesuai permintaan Aliza.
“Mau bicara apa?” tanya Wahyu setelah pelayan pergi.
Aliza nampak diam dan memikirkan sesuatu, karena tak tahu memulainya dari mana. Setelah diam beberapa menit, akhirnya Aliza buka suara. Walaupun dia tidak tahu mau memulainya darimana.
“Kak, hm.... itu...” Aliza ragu-ragu untuk memulai pembicaraan darimana.
“Ada apa? Apa masalah senior pembimbing?” tanya Wahyu memastikan, dia memang sudah punya firasat alasan Aliza mau bicara dengannya.
“Iya,” jawab Aliza tegas.
__ADS_1
“Maaf sebelumnya, saya tidak pernah minta kakak jadi senior pembimbing. Jadi saya bingung kenapa kakak tiba-tiba bilang kalau kakak itu senior pembimbing saya.” Ucap Aliza formal.
“Bicaranya tidak perlu formal! Sekarangkan bukan di kampus. Anggap aja seperti bicara dengan sesama teman.” Ucap Wahyu yang merasa tak senang karena bicara Aliza yang formal.
“Memangnya tidak mau aku jadi senior pembimbing kamu?” tanya Wahyu percaya diri.
“Tidak mau!” batin Aliza. Ingin rasanya Aliza mengatakan itu. Menurutnya lebih baik tidak pernah bertemu lagi dengan Wahyu. tapi dia masih punya sikap kesopanan dalam jiwanya.
“Bukan tidak mau Kak, hanya saja__”
“Bagus, itu artinya aku sekarang senior pembimbing kamu.” Ucap Wahyu cepat sebelum Aliza meneruskan kalimatnya.
“Ha? Maksudnya?” Aliza tiba-tiba bingung dengan ucapan Wahyu.
“Aku senior pembimbing kamu!” jawab Wahyu dengan menunjuk dirinya dan Aliza, seperti menjelaskan sesuatu kepada anak kecil.
“Bukannya tadi kamu bilang mau, kalau saya jadi senior pembimbing kamu” jawab Wahyu mengingat perkataan Aliza yang hanya bermaksud basa basi saja. Tidak mungkin Aliza langsung mengatakan “tidak” tadi, dia masih punya pengetahuan untuk bertutur kata yang baik.
“Kapan gue bilang mau? Itu Cuma basa basi, woy!” batin Aliza menjerit.
Dia hanya meresponnya dengan senyum yang dipaksakan, lalu meneguk minuman yang yang sudah datang.
Dari dulu dia sudah bertekad melupakan Wahyu, tapi malah dipertemukan kembali. Walaupun orang bilang hanya cinta monyet, namun perasaan Aliza terhadap Wahyu buka abal-abalan. Dia memang menyukai Wahyu. Baginya Wahyu adalah cinta pertama yang baru ditemukanya ketika masuk SMP. Bisa dikatakan, sampai sekarang dia pun masih punya perasaan untuk Wahyu.
“Apa hanya itu saja yang ingin kamu bicarakan?” tanya Wahyu membuyarkan kebisuan Aliza.
“Iya, kak.” Jawab Aliza.
“Apa Kak Wahyu sedang sibuk, kalau begitu aku pulang dulu!” ikut-ikutan memakai embel aku-kamu. Sudah mau beranjak dari duduknya, langsung berhenti karena ucapan Wahyu.
__ADS_1
“Aku mau bicara sama kamu!” ucap Wahyu langsung.
“Mau bicara apa, Kak?”
“Kamu sebenarnya mengenal aku, kan?” tanya Wahyu.
“Iya, Kak.” Tidak bisa mengelak lagi. Lebih baik jujur saja,daripada terus dihantui pertanyaan yang sama.
“Lalu, kenapa kamu pura-pura tidak mengenaliku?” tanya Wahyu lagi yang memang penasaran, alasan Aliza pura pura tidak mengenalinya dan selalu menghindar.
Dia hanya diam saja mendengar pertanyaan Wahyu, namun hatinya tetap menjawab. Walaupun Wahyu tidak bisa mendengarnya.
“Karena lo, orang yang ingin gue lupain,” jawab Aliza dalam hati.
“Maaf kak, aku pulang dulu. Aku lagi ada tugas yang akan dikumpul besok.” Aliza memilih pulang, tanpa menjawab pertanyaan Wahyu.
“Kalau kakak tidak lagi bersedia jadi senior pembimbingku, tidak apa-apa. Terima kasih atas waktunya, aku permisi dulu. Hati-hati di jalan!” pamitnya lalu meninggalkan Wahyu yang masih tak bergeming dari posisinya sambil menatap Aliza yang menjauhinya. Sebelum meninggalkan kafe, dia terlebih dahulu membayar minuman mereka.
Setelah Aliza pergi, Wahyu pun meninggalkan kafe dan memilih untuk langsung pulang ke rumahnya. Ketika di dalam mobil, pikirannya terus mengarah kenapa Aliza tidak menjawab pertanyaannya. “Apa aliza membencinya? Apa di salah bicara tadi?” pertanyaan itu lah yang terus muncul dalam pikirannya.
*
*
*
Terima kasih sudah membaca!
jangan lupa like dan komen!
__ADS_1