
“Ide gue bagus kan kemaren?” ujar Rio lalu tertawa.
“Lumayan,” ucap Wahyu. Mengingat kembali momen saat dia nonton bioskop bersama Aliza. Ide untuk nonton film horor adalah ide dari Rio.
Flashback
Wahyu yang baru selesai mandi, dan sudah memakai pakaian lengkap meraih ponselnya yang sedari tadi berdering.
Ada beberapa panggilan, salah satunya panggilan dari Rio sebanyak dua kali.
Rio kembali menghubunginya.
“Kenapa?” Tanya Wahyu langsung setelah panggilan terhubung.
“Lo dicariin sama pak Fajri,” Ujar Rio.
“Pak Fajri bilang apa?”
“Lo disuruh temuin pak Fajri besok. Harusnya tadi, tapi lo udah pulang. Jadi besok aja kata Pak Fajri.” Jelas Rio.
“Pak Fajri mungkin udah baca Surat izinnya.”
“Kayaknya Iya.” Ucap Rio.“Katanya Pak Fajri udah nelpon lo, nggak lo angkat.” tambah Rio
“Iya, gue tadi mandi. Nggak dengar.” Kata Wahyu.
“Yo, hmm..” Berdehem sebentar.
“Apa? lo jangan sok jaim ya.” Kesal Rio mendengar Wahyu yang terlihat ragu berbicara.
“Gue butuh bantuan lo.”
“Apa gue bilang, lo pasti butuh bantuan gue.” Rio tertawa senang. “Beneran lo mau deketin cewek?” Tanya Rio lagi.
“Hmm.” Jawab Wahyu.
“Siapa?”Tanya Rio. Wahyu bergeming. “Maba itu ya?” tebak Rio.
“Lo kenal dia dimana ?” Rio masih bertanya.
“Lo mau bantuin gue nggak?” Kesal mendengar pertanyaan Rio yanag nggak ada habisnya.
“Hahaha,” tertawa Lagi.
“Mau dibantuin darimana nih?”
“Katanya lo udah berpengalaman. Kok masih nanya gue?” Sedikit kesal.
“Ya harus dipastiin dulu lah mau dibantunya seperti apa,”
Hening sejenak,
“Gue nggak tau pasti apa yang gue rasain saat ini. Tapi, gue,,,gue kayaknya suka sama dia.”
“Ya bagus. Selama gue temenan sama lo, akhirnya lo ngaku suka juga sama perempuan.” Tutur Rio sedikit mengejek.
“Terus masalahnya apa, kan lo juga suka sama dia?”
“Gue nggak tau pasti gimana perasaan dia. Sepertinya dia nggak suka sama gue.”
“Jadi itu masalahnya.”Rio mengangguk paham. “Ternyata ada juga ya, yang nggak suka sama lo. Gue pikir semua cewek akan suka sama lo.” Rio tertawa mengejek.
“Hmm,”nMenahan kesal.
“Kalian kan baru kenal ya, kok lo bisa secepat itu suka sama tu cewek?” Rio yang terlihat penasaran.
“Nggak usah banyak tanya. Lo Mau bantuin gue nggak?” Malas menjawab pertanyaan Rio yang tidak akan ada habisnya.
“Oke, oke.”
Rio mulai menjelaskan beberapa cara yang biasa dilakukannya untuk mendekati cewek. Sampai akhirnya, dia menyarankan Wahyu untuk mengajak gadis yang disukai itu pergi nonton bioskop.
“Lo yakin? Terus, film nya apa yang cocok?” tanya Wahyu.
Rio sejenak berpikir. “Mmm...”
“Film horor.” Tutur Rio.
“Lo jangan bercanda ya?” ucap Wahyu, takut Rio mengerjainya.
“Kan, lo sih nggak pernah pacaran. Makanya nggak tau hal begini. Orang lagi serius juga, dikatain bercanda.”
“Kenapa harus film horor? Gunanya apa?” tanya Wahyu.
“Serahkan saja sama yang ahli. Dengar nih. Nonton film horor itu bisa menciptakan adegan-adegan romantis yang diinginkan.”Bicara seperti orang bijak.
“Terus?”
“Cewek biasanya kan takut tu sama hantu. Nanti pas ada adegan hantu tiba-tiba muncul, otomatis tangan tu cewek bakal pegang tangan lo saking takutnya.” Jelas Rio.
“Serius bakal kayak gitu?” Wahyu terlihat ragu.
“Iya serius. Itu pengalaman gue.” Ujar Rio meyakinkan.
Rio terus meyakinkan Wahyu tentang idenya itu. Dia juga memberitahu pada Wahyu beberapa tips yang harus dilakukan untuk mendekati cewek.
Flashback end
***
__ADS_1
Sejak hari Aliza dan Wahyu pergi nonton bisokop, hubungan mereka jadi lebih dekat dari sebelumnya. Sering bertukar kabar lewat telepon dan pesan. Aliza pun kini tidak pernah mengabaikan pesan dari Wahyu lagi.
“Kamu dimana?”isi pesan dari Wahyu.
“Masih di kampus kak.” Balas Aliza.
Aliza dan kelima temannya termasuk Ayu kini sedang ada di kantin. Istirahat makan siang. Setelah siang mereka akan ada jadwal kuliah lagi.
“Masih kuliah?” ~Wahyu.
“Iya kak, sore baru pulang.” ~ Aliza.
“Sibuk amat buk?” Ujar Amila, melihat Aliza yang sedang makan sambil memainkan ponselnya.
Aliza melirik sekilas. Kembali mengetikkan beberapa huruf di layar ponselnya.
“Kakak nggak kuliah?” ~ Aliza.
Menyimpan ponselnya di atas meja. Melanjutkan makan yang sempat tertunda.
“Siapa?” tanya Nisa.
“Teman.”
“Wuih, sepertinya adik kita ini udah punya pacar.” Ucap Amila bercanda.
“Teman kok.” Jawab Aliza. masih melanjutkan makannya. Mengabaikan ponselnya yang berdering sebentar.
“Iya, TTS.” Tutur Amila.
“Apa itu?” Ayu menimpali.
“Teman Tapi Suka.” ucap Amila. Tertawa meledek.
Aliza hanya diam saja, mengabaikan celotehan Amila.
Selesai makan, Aliza meraih ponselnya. Menghidupkan layarnya. Sehingga terlihat tampilan pesan yang baru masuk.
“Udah selesai. Tapi setelah ini ada rapat HIMA.”~Isi pesan Wahyu.
Alizatidak lagi membalas, mungkin Rapat HIMA yang dikatakan Wahyu sudah mulai.
“Yu, lo udah masuk dalam grup kelompok kan?” tanya Hilya.
“Udah,”
“Berarti minggu depan lo tampil lagi dong sama kita?’ Tanya Nisa.
“Iya ya. Ga, gimana menurut lo?” Tanya Aliza pada Rangga sebagai ketua kelompok.
“Nanti gue tanya dulu sama ibuknya.” Ucap Rangga.
“Hei, kenapa?” tanya Nisa memperhatikan raut wajah Ayu yang terlihat sedih.
“Maaf, gara-gara gue kalian jadi kerepotan.” Ucap Ayu lirih.
“Jangan gitu dong. Ini juga bukan sepenuhnya salah lo.” Ucap Aliza.
“Nggak usah mikirin yang udah terjadi, yang penting lo udah punya kelompok sekarang.” tutur Hilya lembut.
“Kalau ada apa-apa, nggak usah sungkan bertanya.” Sambung Amila.
Ayu merasa terharu, karena menemukan teman yang mau mendukung dirinya.
Selesai makan, mereka kembali ke ruang kelas. Karena akan ada jadwal kuliah selanjutnya.
***
Sejak kemaren, Aliza dan Ayu selalu pulang bersama. Awalnya Ayu menolak karena merasa tak enak hati. Namun Aliza tetap memaksa sampai Ayu mengiyakan.
Ting,
Ponsel Aliza berdering sebentar. Menandakan ada pesam masuk.
Aliza yang sedang mengenakan pakaian meliriknya sebentar. Setelah selesai, mendekat ke arah ponselnya yang sedang di charge.
“Nanti malam mau jalan-jalan nggak?”~ Wahyu
“Kemana kak?”~Aliza
Melepas charge ponselnya, membawanya ke tempat tidur.
“Kemana aja, mau nggak?”~ Wahyu.
“Boleh, jam berapa kak?”
“Jam 7, sekalian makan malam di luar.”~Wahyu
“Oke kak.” Aliza menerima ajakan Wahyu.
***
Pukul tujuh malam, Wahyu kembali menghubungi Aliza. Memberitahukan bahwa dia sudah ada di depan Rumah Aliza.
Aliza bergegas keluar dari kamarnya.
Dia berjalan ke ruang makan, pasti bi Mauli ada di sana sedang menyiapkan makan malam.
“Bi,” panggilnya.
__ADS_1
Bukan hanya ada bi Mauli, Mama suci juga ada di sana sedang membantu Bi Mauli.
“Iya non.” Jawab Bi Mauli.
“Liza mau makan?” tanya mama Suci seraya tersenyum.
Aliza tidak menghiraukan pertanyaan Mama Suci.
“Bi, Aliza mau keluar bentar. Nanti tolong bilangin sama papa ya, bi.” Ucap Aliza.
“Iya non.” Jawab Bi Mauli, merasa tak enak hati pada istri majikannya. Seharusnya Aliza minta izin pada Mama Suci, bukan pada dirinya yang hanya sebagai pembantu di rumah mereka.
Bi Mauli sedih melihat Mama Suci yang selalu diabaikan Aliza.
“Sabar ya, nyonya, semoga non Aliza bisa segera menerima kehadiran nyonya.” Bi Mauli mencoba menguatkan mama Suci.”
Mama Suci hanya bisa tersenyum pahit. Dia sudah berusaha untuk menjadi ibu sambung yang baik bagi Aliza. Semoga waktu bisa menjawab semua usahanya.
***
Aliza keluar dari gerbang, menoleh ke kanan. Melihat Wahyu yang sedang berdiri di samping sepeda motornya. Malam ini, wahyu menggunakan sepeda motor. Bukan mobil yang biasa digunakannya.
Aliza menghampiri Wahyu.
“Tumben pake motor,kak.” ucap Aliza setelah jaraknya dekat dengan Wahyu.
Wahyu tersenyum penuh arti.
Memberikan helm pada Aliza. Menaiki motornya.
“Ayok,” ucapnya setelah di atas motor.
“Kita mau kemana kak?” tanya Aliza.
“Cari makan?” jawabnya dengan pertanyaan.
“Boleh,” disetujui oleh Aliza.
Aliza naik ke atas motor Wahyu, duduk di belakangnya.
“Pegangan,” ucap Wahyu.
Aliza memegang kedua sisi baju Wahyu.
“Udah?” tanya Wahyu lagi,
“Udah,” balas Aliza.
Wahyu melirik tangan Aliza yang memegang kedua sisi bajunya. Dia mulai melajukan motonya, meningglkan halaman rumah Aliza.
Malam yang dingin, beruntung Aliza mengenakan sweater yang tebal. Wahyu juga mengenakan jaket. Sehingga mereka berdua tidak begitu merasakan kedinginan.
“Kak, sepertinya mau hujan.” Ucap Aliza dengan suara keras agar Wahyu mendengarnya. Aliza merasakan angin malam yang tambah kencang.
“Pegangan yang kuat,” ucap Wahyu menambah laju motornya.
Aliza reflek memeluk pinggang Wahyu.
Gerimis hujan mulai membasahi mereka,
“Kak, hujannya udah turun. Kita cari tempat berhenti dulu. Takut bahaya.” Ucap Aliza sedikit teriak, tepat di telinga Wahyu.
Wahyu membelokkan motornya ke arah penjual bakso. Menghentikan motornya di depan kedai bakso. Turun dari motor diikuti Aliza. menarik tangan Aliza, berlari kecil menuju kedai bakso. Membiarkan motornya basaha terkena air hujan.
“Mau makan bakso?” tanya Wahyu setelah sampai di dalam kedai bakso.
“Boleh,” Jawab Aliza diselingi dengan anggukan kepalanya.
Wahyu memesan dua porsi bakso. Mencari tempat duduk yang kosong. Ada beberapa pembeli yang sedang makan bakso, dan ada juga pembeli yang baru datang seperti mereka. Berhenti karena kehujanan, dan sekaligus membeli bakso sembari menunggu hujan reda.
“Basah?” tanya Wahyu melihat Aliza mengusap bajunya yang terlihat basah.
“Sedikit.” Jawab Aliza, masih mengusap bajunya agar kering. “Kakak gimana?” beralih menatap Wahyu yang sedang membuka jaketnya.
“Cuma jaket yang basah, “ melampirkan jaketnya di kursi tempat dia duduk.
Pesanan bakso mereka datang.
“Maaf ya,” ucap Wahyu sembari menatap Aliza di depannya.
“Kenapa minta maaf kak?” tanya Aliza sambil mencicipi kuah bakso. “Enak,” ucapnya.
“Kita jadi kehujanan,” Mengikuti apa yang dilakukan Aliza.
Aliza menghentikan aktivitasnya yang sedang menuangkan saos ke mangkok baksonya. Dia tersenyum sembari menatap Wahyu,
“Nggak papa kak. Kapan lagi bisa makan bakso di sini. Enak.” Ucapnya, melanjutkan kembali aktivitasnya.
*
Terima Kasih Sudah Membaca!
__ADS_1
Semoga suka...