Pacarku, Cinta Monyetku

Pacarku, Cinta Monyetku
Cantik, Hebat, dan Keren


__ADS_3

Wahyu dan Rio mendekati Aliza dan teman-temannya yang latihan dance.


Ketika itu, Aliza sedang membelakangi mereka. Dia sedang memperhatikan kekompakan dance yang bagian belakang. Ada yang bilang, bahwa barisan belakang ada yang kurang kompak. Karena dia sebagai leader dance, jadi dia bertanggungjawab untuk membimbing teman-temannya.


Kak Farhan, Kak Anggi, dan Kak Dila bisa saja membimbing mereka atau sekedar mengomentari jika ada yang keliru. Hanya saja, mereka juga sibuk untuk membimbing bakat yang lain.


Kak Farhan membimbing yang nyanyi, kebetulan dia juga pintar menyanyi. Sedangkan kak Dila membimbing yang drama, dan kak Anggi membimbing bagian puisi. Sehingga Aliza lah yang harus bertanggungjawab terhadap dance. Saking fokusnya dia tak menyadari kedatangan Wahyu dan Rio. Dia masih sibuk memperhatikan temannya. Hingga tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara seseorang.


“Kamu nggak latihan?” tanya Wahyu dari belakang Aliza.


Aliza sempat terkejut mendengar suara yang tak asing di telinganya, dia berpikir sejenak, “sepertinya aku kenal suara ini!”.


Dia menoleh ke belakang, dan didapatinya lah Wahyu yang tersenyum dan Rio dengan kening mengkerut. Heran melihat sikap Wahyu.


“Kakak bicara sama saya?” tanya Aliza memastikan, walaupun sedikit terbata-bata. Karena dia takut mengingat kejadian yang dilakukannya tadi.


“Iya, saya bicara pada Aliza Syafira.” jawab Wahyu percaya diri. Aliza sedikit tersentak, karena Wahyu menyebut nama lengkapnya.


“Apa kamu tidak latihan? Biar saya yang bimbing kalian, nanti akan saya komentari.” Lanjutnya.


“Ah, tidak usah kak. Kami__”


“Tidak apa-apa.” langsung dipotong oleh Wahyu.

__ADS_1


Aliza melirik teman dance-nya untuk meminta persetujuan. Mereka pun mengangguk sambil tersenyum senang. Kapan lagi bisa langsung dibimbing oleh ketua HIMA yang ganteng.


“Baiklah kak, mohon bantuannya kak!” seru Aliza sedikit menunduk. Tidak berani menatap Wahyu.


Aliza yang merasa canggung atas kehadiran Wahyu, hanya bisa pasrah. Dia baru pertama kali merasa canggung pada laki-laki. Pada mantan-mantan pacarnya saja, dia masih bersikap wajar, tak pernah merasa canggung. Apa karena perasaan malu waktu itu, atau karena perasaan bersalah kejadian tadi. Yang penting sekarang, bagaimana dia bisa fokus, kalau diperhatikan oleh orang yang ingin dihindarinya.


Aliza kembali ke barisan dance-nya. Temannya kembali menyetel musik yang sempat dimatikannya tadi. Latihan sambil diperhatikan oleh dia, seseorang yang mencuri hatinya ketika masih remaja. Lebih tepatnya cinta masa lalu. Poin utamanya sekarang dia harus fokus, tenggelamkan dulu perasaan yang tak karuan ini. Begitulan pikiran Aliza.


Latihan sudah dimulai, sampai saat ini Aliza masih tetap fokus seperti biasanya. Sedangkan Wahyu hanya tersenyum sembari memperhatikan mereka. Lebih tepatnya memperhatikan Aliza. Ada rasa kagum yang muncul dihatinya. Sedangkan yang dari tadi hanya sebagai patung bingung, akhirnya buka suara.


“Maksud lo apa tiba-tiba bersikap seperti ini?” tanya Rio berbisik pada Wahyu. Tatapan matanya fokus pada mereka yang dance.


“Sikap apa?” tanya balik oleh Wahyu. Sedangkan matanya hanya fokus pada Aliza seorang.


“Nggak ada.” Celetuk Wahyu singkat.


“Tolong lo perhatiin gerakan mereka!” lanjut Wahyu.


“Yang nawarin diri tadi kan lo!” gemas Rio pada Wahyu.


Kesal dengan ucapan Wahyu yang memintanya untuk memperhatikan mereka. “Dia sendiri kan bisa perhatiin mereka, kenapa harus minta bantuan gue? Yang nawarin diri kan dia? Lihatlah tampangnya yang tak merasa bersalah sedikitpun, malah asik tersenyum lagi, Sebenarnya dia lihat siapa sih?” gerutu Rio kesal Rio dalam hati.


Walaupun kesal, namun dia tetap melakukan apa yang diucapkan Wahyu tadi.

__ADS_1


Latihan pun selesai, tapi tatapan Wahyu pada Aliza belum selesai.


“Bagaimana kak, apa masih ada yang salah atau kurang?” Aliza akhirnya buka suara. Dari tadi dia menunggu komentar dari Wahyu, namun yang ditunggu diam saja dengan tatapan tak lekang dari Aliza.


“Cantik, hebat, dan keren. “ ucap Wahyu sembari tersenyum. Rio yang mendengarnya menatap Wahyu penuh selidik.


“Ah, mmm, terima kasih atas pujiannya kak!” Aliza sedikit gelagapan menjawabnya, karena dia sendiri bingung maksud cantik dari perkataan Wahyu.


“Kalau menurut kakak, kalian sudah bagus. Gerakannya juga udah kalian kuasai. Pokoknya nanti kalau tampil, kalian harus kompak seperti sekarang.” imbuh Rio.


“Terima kasih banyak atas pujian dan sarannya kak. Akan kami usahakan, Kak.” Aliza yang terlihat senang diberi pujian, terus memperlihatkan senyum manisnya.


Rio saja sampai terkesima dibuatnya. Manis. Kata itulah yang kini terngiang dipikiran Rio. Dia pun membalasnya dengan tersenyum. Teman dance-nya pun terlihat senang atas pujian dari Wahyu dan Rio.


*


*


*


Jangan lupa like dan komen!


Terima kasih sudah membaca!

__ADS_1


__ADS_2